Judul: LOVE
Author: Likyuyoung
Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Shim Changmin
Genre : Romance
Rating: PG+16
Halo! Bagaimana kabar kalian? Baik? Saya harap bgt…
Pertama, saya mau minta maaf karena FF ini baru bisa saya post sekarang… Maaf.. Maaf..
Kedua, saya cuma mau bilang JIKA.. teman-teman mau COPAS POSTER FF saya.. Harap bilang-bilang ya.. Soalnya kemarin saya ada ketemu FF lain yang posternya pakai poster saya… Aduuhh.. Sebenarnya saya senang kalau kalian suka dengan poster yg saya buat.. Tapi saya juga ada rasa kecewa. Kenapa orang itu ga ada izin mau pakai poster saya untuk FFnya… Kalau kalian sekedar mau menyimpan/ mengoleksi saja saya tidak masalah. Tapi kalau dipakai untuk FF lain???? Aissshh…Sungguh teganya.. teganya.. teganya… teganyaaaaa…….
Ketiga, saya mau terimakasih untuk para reader yang setia membaca dan memberikan saran yang membangun selama ini… YOU ARE MY EVERYTHINK… hahaha…
Ok.. This is it!! Happy Reading!!
Sooyoung POV
Tangan Kyuhyun sangat erat menggenggam tanganku. Bahkan kasar. Dia menuntunku memasuki mobil dan dengan cepat pergi meninggalkan Changmin. “Oppa.. dengar dulu penjelasanku…” ucapku. Kyuhyun hanya diam dan terus menatap ke depan. Dibawanya mobil dengan kecepatan tinggi. Ini pertama kalinya kulihat dia mengendarai mobil secepat ini. “Oppa.. bahaya! Pelankan kecepatannya!” Ucapku. Tapi tetap tak digubris olehnya. Kyuhyun sangat marah. Sebegitu tak sukanya kah dia jika aku bersama Changmin?
Kami tiba di rumah. Kyuhyun melemparkan tas kerja dan jasnya ke sofa. Dia memandangku yang berdiri di hadapannya dengan tatapan nanar. Itu membuatku takut.
“Kenapa kau bisa bersamanya?”
“Ka, kami tidak sengaja bertemu di pameran oppa..”
“Tidak sengaja? Atau kalian memang sudah janjian bertemu di sana?!”
“Tidak! Kami benar-benar tidak sengaja bertemu..”
“Lalu kenapa kalian pulang bersama?”
“Kami tidak pulang bersama.. “
“Aku melihat sendiri kalian jalan bersama!”
“Tapi itu..”
“Sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan dia? Kenapa dia selalu ada disekitamu?!” Kyuhyun nyaris berteriak membuatku terdiam seketika.
“Oppa..” ucapku takut.
Mata Kyuhyun berbinar menatapku. Kurasa inilah puncak kemarahannya.
“O,oppaa…”
“Maaf. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk kita bicara”.
Kyuhyun mengusap wajahnya dan menghela nafas. Dia tampak kacau. Tidak pernah kulihat dia yang seperti ini.
Kyuhyun berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Sementara aku masih diam berdiri. Tanpa kurasa air mataku membasahi pipiku. Entah mengapa hatiku terasa perih. Begitu perih sampai air mataku tak mau berhenti.
____
Kyuhyun POV
Aku membentaknya. Ini pertama kalinya dalam hidupku membentak seorang wanita. Dia pasti sangat ketakutan melihatku. Akh, tapi aku sudah tidak bisa menahan emosiku kali ini. Sooyoung dan pria itu, pasti menjalin suatu hubungan. Tidak mungkin mereka hanya sekedar berteman.Tidak mungkin pertemuan mereka hanya sekedar kebetulan. Ini sudah kesekian kali aku mendapati mereka sedang berdua.
Tapi.. jika Sooyoung memang menjalin hubungan dengan pria itu. Untuk apa dulu dia menyatakan rasa sayangnya padaku? Kalau dia menyukai pria itu, kenapa dia tidak minta berpisah dariku? Akh!! Semua ini membuatku pusing!
Kurebahkan diriku di tempat tidur. merenggangkan semua bagian tubuhku yang kaku dan menegang. Aku ingin istirahat. Sebentar saja, aku ingin tenang..
____
“PRAAAANNGGG”
Sekejap aku terbangun. Ternyata aku tertidur cukup lama. Kulihat jam, sudah menunjukan pukul 20.00 malam. Ah, tadi aku mendengar suara. Apa itu tadi? Seperti suara piring pecah.
Perlahan aku keluar dari kamar dan melihat keadaan sekitar. Sepi. Aku melakah menuju dapur, dan seperti yang kukira. Piring pecah. Kulihat Sooyoung memunguti pecahan-pecahan itu. “Akh!” Tiba-tiba Sooyoung meringis kesakitan. Dia memegangi jarinya yang mengeluarkan cairan berwarna merah. Tangannya terluka. Kenapa dia bisa seceroboh itu? Ingin rasanya kuhampiri dia, tapi kenapa tubuhku ini seperti berat sekali untuk melangkah?
Sooyoung bangkit dan mencuci tangannya yang berdarah, lalu kembali membereskan pecahan piring yang ada dilantai. Setelah beres diberjalan lemah menuju ruang tamu. Dia mengabil tas kerja dan jas yang tadi kulempar ke sofa lalu berjalan ke arahku. Ah, dia melihatku. Dia sedikit terkejut dan diam untuk beberapa saat. Kutatap wajahnya yang sembab. Pasti karena menangis. Perlahan dia berjalan mendekatiku dan menyerahkan barang-barang miliku
“Ini oppa..”
“Hem..” Ucapku datar.
Kulihat jarinya yang terluka masih mengeluarkan darah. Aku ingin mengobatinya tapi tubuhku ini serasa menolak semua yang ingin kulakukan. Apa karena emosiku? rasa gengsiku? Sooyoung berbalik dan berjalan ke arah kamarnya.
“Apa kau suka pria itu?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku. Sooyoung menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatapku.
“Apa itu harus kujelaskan oppa? Bukankah aku sudah pernah mengatakan bagaimana perasaanku.. ”
“Ya. Aku perlu penjelasanmu”.
Sooyoung menatapku dalam.
“Sebenarnya, aku harus bagaimana agar oppa percaya padaku?”
Aku terdiam. “Harus bagaimana?”. Aku pun tidak tau. Aku ingin percaya padanya. Percaya bahwa perasaannya hanya untukku. Dia menyayangiku. Tapi semua itu berbanding terbalik dengan apa yang kulihat. Dia dan pria itu terlihat sekali seperti menjalin suatu hubungan.
“Aku tidak tau”.
_____
Author POV
Keesokan hari~~
Hari sudah pagi. Tapi pagi ini tidak seperti pagi sebelumnya. Sooyoung masih berbaring ditempat tidurnya. Tadi malam dia dan Kyuhyun tidur terpisah. Sebenarnya Sooyoung sudah bangun dari awal, tapi tubuhnya masih terasa lemah dan tak bertenaga. Untuk bangkit pun rasanya berat sekali. Beberapa kali Sooyoung mengela nafas sambil terus menatap langit-langit kamarnya. Dia kembali teringat dengan ucapan terakhir Kyuhyun.
“Aku tidak tau”.
“Hah.. Aku harus bagaimana?” Ucap Sooyoung putus asa. Akhirnya Sooyoung keluar dari kamarnya. Diedarkannya pandanganya kesetiap sudut ruangan. Sepi. Sooyoung berjalan gontai ke luar rumah. Mobil Kyuhyun tidak ada. Berarti Kyuhyun sudah berangkat ke kantor. Sooyoung kembali menghela nafas.
Sooyoung kembali ke dalam rumah dan memasak sesuatu untuk sarapannya pagi ini. Sendirian di meja makan, Sooyoung menghabiskan makanannya. Matanya mulai terasa perih karena air mata yang sedari tadi ditahannya. “Haisssh.. kenapa aku jadi lemah begini”.
Selesai sarapan Sooyoung bersiap untuk ke kampusnya. Hari ini dia ingin menghadap dosen untuk berkonsulatasi mengenai skripsinya, walau sebenarnya semangatnya sudah luntur.
Sesampainya di kampus, Sooyoung langsung menghadap dosen pembimbingnya. Butuh waktu 1 jam Sooyoung mendiskusikan skripsinya pada dosen. Banyak refisi disetiap tulisannya. Sooyoung hanya diam sambil sesekali menganggukkan kepala. Pikirannya tidak fokus.
“Sooyoung, kau sakit?” Tanya dosen pembimbing pada Sooyoung.
“Ah, tidak pak”.
“Tapi wajahmu sedikit pucat..”
“Tidak apa-apa pak.. saya cuma merasa sedikit lelah saja..”
“Apa karena skripsi ini?”
“Hem.. tidak juga pak..”
“Sebaiknya jaga kesehatanmu. Stress karena skripsi itu wajar, tapi jangan sampai kau jatuh sakit…”
“Iya pak…”
“ya sudah. Mungkin sampai disini dulu diskusi kita. Kau perbaiki dulu skripsimu, nanti silahkan menghadap saya lagi..”
“Baik. Terima kasih pak…”
Sooyoung berjalan tak bertenaga menelusuri lorong-lorong yang ada di gedung kampusnya. Pikiriannya masih dipenuhi dengan Kyuhyun. “Sooyoung!!” Panggil seseorang dari belakang. Suara nyaring yang sangat familiar bagi Sooyoung. Itu Yuri. Sooyoung menoleh dan tersenyum sekedarnya. Yuri menautkan alisnya. Dia merasa aneh dengan ekspresi Sooyoung, dan segera dia tau ada yang tidak beres.
“Ada apa denganmu? Kenapa seperti mayat hidup begitu? Tanya Yuri spontan.
“Tidak ada apa-apa…”
“Jangan coba berbohong padaku. Pasti ada masalah lagi. Ada apa? Ayo cerita!!”
Melihat Sooyoung yang hanya diam dengan senyum yang dipaksakan, Yuri segera menarik Sooyoung ke taman kampus dimana mereka sering datangi.
“Ayo cerita!” ucap Yuri.
“Yuri.. Aku harus bagaimana? Kyuhyun marah padaku…”
“Marah kenapa lagi? Kenapa dia sering sekali marah padamu?”
“Kyuhyun.. melihatku bersama Changmin di suatu pameran seni.. Dia sangat marah saat itu. Aku baru pertama kali melihatnya begitu. Dia bahkan membentakku”.
“Apa? Bagaimana ceritanya sampai kau dan Changmin bisa bersama?”
“Itu tidak sengaja. Kami hanya kebetulan bertemu…”
“Lalu apa kau sudah jelaskan Kyuhyun?”
“Sudah. Tapi dia tidak percaya… Dia memarahiku seolah aku melakukan perselingkuhan. Itu benar-benar membuatku sakit..”
“.. Aku tanya padamu. Sebenarnya bagaimana perasaanmu pada Changmin?”
“Tentu saja tidak ada perasaan apa-apa. Kenapa kau tanya begitu?”
“Hah.. Aku hanya mau memastikan saja. Kalau kupikir, Kyuhyun memang keterlaluan. Tapi apa yang dilakukannya sangatlah wajar. Pria mana yang mau wanitanya bersama pria lain. Apa lagi dari awal dia sudah tidak suka dengan Changmin..”
“Lalu sekarang aku harus bagaimana? Bagaimana caranya agar Kyuhyun percaya padaku..”
“Kalau sudah begini, terus terang… aku tidak bisa memberi saran apapun. Kau yang lebih mengenal bagaimana Kyuhyun…”
“Haahhh.. Yuri. Kenapa hubunganku dengan Kyuhyun selalu saja bermasalah. Aku sangat iri dengan pasangan lain. Yang bisa selalu mesra..”
“Bodoh! Yang namanya menjalin suatu hubungan, pasti akan terus ada masalah!” Ucap Yuri sambil mukul kepala Sooyoung ringan.
“… Yuri…”
“Hem?”
“Hari ini, boleh aku menginap dirumahmu..”
“Eh? Kenapa?”
“Tidak apa.. aku hanya ingin menenangkan diriku. Kalau aku pulang ke rumah. Rasanya sama saja menyiksa diriku. Kyuhyun pasti masih marah dan tak mau bicara denganku..”
“Tapi, apa tidak apa-apa? Bukannya itu akan memperburuk suasana? Paling tidak, kalau memang kau mau menginap di tempatku, kau bilang padanya..”
“Tidak usah. Dia tak mau melihatku. Jadi tidak masalah kalau aku tidak pulang hari ini..”
“Ya, terserahmu sajalah…”
Sepulang dari kampus, Sooyoung pulang bersama Yuri. Seharian Sooyoung berada di rumah Yuri. Kebetulan orang tua Yuri sedang berada di luar negeri, sehingga Sooyoung bisa lebih leluasa.
Sooyoung duduk ditepi tempat tidur Yuri sambil menatap handphone-nya. Tidak ada panggilan, tidak ada pesan. Kyuhyun sama sekali tidak menghubungi Sooyoung, padahal hari sudah malam. “Ternyata Kyuhyun benar-benar tidak menghubungiku..” Batin Sooyoung.
“Sudah.. Jangan terus menatap handphone itu..” Ucap Yuri tiba-tiba. Tanpa disadari Sooyoung, Yuri sudah berdiri didekatnya.
“Yuri.. kau mengagetkanku”.
“Sudah. Ayo makan. Aku sudah siapkan makan malam untuk kita. Nasi Goreng Kimchi!!” Ajak Yuri seraya menarik tangan Sooyoung,
Akhirnya Sooyoung dan Yuri makan malam bersama. Namun tidak seperti biasanya, kali ini Sooyoung tidak menghabiskan makannya. Yuri menatap Sooyoung sejenak. Dia paham keadaan Sooyoung saat ini. Masalah yang membelitnya kali ini memang sulit. Jelas, kalau selera makannya berkurang.
“Yuri.. Sepertinya aku mau pulang saja…”
“Eh?”
“Hem.. Aku juga tidak enak padamu. Kau jadi repot karena aku..”
“.. Kau yakin mau pulang?”
“Hem”. Jawab Sooyoung mengangguk.
Yuri tersenyum simpul. Setelah Sooyoung bersiap, diantarnya Sooyoung sampai ke halte bus yang berada tidak jauh dari kompleks perumahaan tempatnya tinggal.
“Hati-hati!” Ucap yuri.
“Ya.”
Sooyoung masuk ke dalam bus. Sepanjang jalan Sooyoung hanya menatap kosong keluar jendela. Pikirannya menerawang entah ke mana, sampai dia tak menyadari bus sudah berhenti. Sooyoung tersadar dari lamunannya. Segera dia turun dan berjalan menuju rumahnya. Tempat dimana dia tinggal bersama suaminya.
Sooyoung menghentikan langkahnya tepat di depan rumah. Di pandangnya rumah itu. Sepi. Pandangannya beralih ke arah mobil yang terparkir di taman rumah. Mobil sedan berwarna silver milik Kyuhyun. Kyuhyun sudah pulang. Sooyoung mengambil handphone yang ada disakunya. Masih tidak ada yang berubah. Tidak ada panggilan dan pesan yang masuk. Padahal jam sudah menunjukan pukul 21.30.
Sooyoung menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Niatnya untuk masuk ke dalam rumah seketika pudar. Dia berbalik dan berjalan menjauhi rumah itu. Dia tak tau kemana arah tujuannya, tapi kakinya terus melangkah. Sooyoung melihat keramaian di sebuah warung pinggir jalan. Soju. Tiba-tiba Sooyoung ingin minum soju. Dia ingin melepaskan semua beban pikirannya. Sooyoung mendekati warung itu dan duduk di salah satu tempat yang disediakan. Satu botol soju sudah tersedia dihadapannya. Sebenarnya Sooyoung tidak bisa minum minuman beralkohol. Tapi kali ini seperti ada pengecualian untuknya.
“Can you feel my heart? (Eh Eh, Eh Eh)~~
Can you read my mind? (Eh Eh, Eh Eh)~~
Nun bicheuro nan, beolsseo gobaek haet janha yo~~
Oraet dongan dada dun mameul (mameul)~~
Shib chogan man yeoreo dul teni(Teni)~~
Mangseoriji malgo, Just say yes!”
Tiba-tiba handphone Sooyoung berbunyi. Sooyoung segera meraih handphonenya karena dia pikir itu panggilan dari Kyuhyun. Tapi kekecewaan yang didapatnya. Layar handphone menunjukan nama “Changmin”.
“Halo..”
“Ada apa Changmin?” Tanya Sooyoun langsung.
“Em.. aku cuma mau tau keadaanmu. Apa kau baik-baik saja?”
“Menurutmu?”
“Apa kau marah padaku?”
“Menurutmu?”
“Hei. Jangan begitu. Kau membuatku tidak enak. Sekarang kau dimana? Apa kita bisa bicara sebentar?”
“Kau mau bicara apa lagi?”
“Sudahlah.. sekarang katakan. Apa kita bisa bertemu sebentar?”
“Hem.. Aku sedang di warung pinggir jalan sekarang. Dekat xxx (sebut nama tempat yang author ga tau).. datanglah kalau kau mau”.
“Baiklah. Tunggu aku”.
Sooyoung mulai meneguk soju yang ada dihadapannya segelas. Dua gelas. Tiga gelas. Semakin banyak yang ditelannya, semakin bebannya lebih ringan dirasa olehnya. “Hei. Berhenti minum!” Ucap seseorang. Sooyoung mengalihkan pandangannya. Sosok pria tinggi sedang berdiri dihadapannya.
“Oppa?” Ucap Sooyoung yang mulai mabuk dan mengira itu Kyuhyun.
“Ini aku. Changmin. Sejak kapan kau memanggilku ‘oppa’?”
“Oh, kau. Kupikir tadii…”
“Suamimu?”
“Hemmm…”
Sekali lagi Sooyoung meneguk segelas soju. Tubuhnya mulau terhuyung. Pandangannya pun mulai kabur.
“Changmiiinn~~ Ayo bicaraaa~~ Bukankah tadi kau ingin bertemu denganku untuk bicaraa~~” Ucap Sooyoung.
“Ck, ck.. Hei. Aku tidak mau bicara dengan orang mabuk”.
“Aiissshhh~~~ Dasar kau iniiiii~~”
“Kau begini karena suamimu itu?”
“Hemm~~”
“Bodoh sekali!”
“Hem~~ Ya benaarrr~~ Aku booddooohhhhh~~~ Aku bodoh karenanya~~”
“Kenapa kau mau hidup dengan orang membuatmu seperti ini?”
“Cishh~~ Pertanyaanmu lucu.~~ Ya sudah jelaaasss~~ Karena dia suamikkuu~~ dan aku sayaaangg diaa~~”
“Kau.. menyayanginya?”
“Hemm~~ aku menyayanginyaaa~~~”
“Padahal aku juga menyayangimu…”
“Maaff Changmiiiinnn~~~ Maaaffff~~ tapi aku menyayangiii suamiku~~ Ah, lebih tepatnya mencintainyyaa~~ Aku mencintainyaaa, Changmin~~~”
“….. Apa kehadiranku mengganggu hidupmu..?”
“Hemm~~~ “
“Jadi.. Kau ingin aku menjauh?”
“Heemmmm~~~ ituu lebbihh baaiikk~~~ “ Ucap Sooyoung sambil merebahkan kepalanya di meja.
“Begitu ya.. Jadi memang tidak ada sedikitpun celah untukku…”
“Can you feel my heart? (Eh Eh, Eh Eh)~~
Can you read my mind? (Eh Eh, Eh Eh)~~
Nun bicheuro nan, beolsseo gobaek haet janha yo~~
Oraet dongan dada dun mameul (mameul)~~
Shib chogan man yeoreo dul teni(Teni)~~
Mangseoriji malgo, Just say yes!”
Handphone Sooyoung berbunyi lagi. Changmin yang mendengarnya lalu mengambilnya dan melihat siapa yang menelpon. “Kyuhyun”. Nama itu tertera di layar.
“Halo”. Jawab Changmin tanpa rasa ragu.
“…. Halo. Siapa ini?”
“Changmin”.
“…. Kenapa ponselnya ada padamu? Mana Sooyoung?”
“Dia bersamaku.. Saat ini dia sedang mabuk.”
“Apa? Mabuk?”
“Sekarang kami ada di daerah xxx. Segara datang dan jemput istrimu”.
“KLEK”
____
Kyuhyun POV
Kulihat jam, Ini sudah jam 10 malam. Sooyoung masih belum pulang. Kemana dia? Sejak aku pulang kerja sampai sekarang dia tidak kabar sama sekali. Apa dia tidak mau pulang karena masalah kemarin? Akh. Gadis itu kenapa selalu membuatku khawatir! Kuambil handphone-ku untuk menghubunginya.
“Halo”.
Loh, kenapa suara laki-laki?
“…. Halo. Siapa ini?”
“Changmin”.
Apa? Changmin? Jadi pria itu masih juga mendekati Sooyoung.
“…. Kenapa ponselnya ada padamu? Mana Sooyoung?”
“Dia bersamaku.. Saat ini dia sedang mabuk.”
“Apa? Mabuk?”
Sooyoung mabuk? Mana mungkin. Setauku dia tidak pernah minum minuman beralkohol.
“Sekarang kami ada di daerah xxx. Segara datang dan jemput istrimu”.
“KLEK”
Dia mematikan telpon begitu saja. Dasar pria ini! Dia memang ingin cari masalah denganku rupanya!
Tanpa pikir panjang, segera aku berangkat menuju tempat Sooyoung dan pria itu berada. Aku tak bisa tenang. Aku menghawatirkan Sooyoung, sekaligus marah padanya. Bisa-bisanya dia pergi sampai selarut ini, bersama pria itu lagi.
Aku tiba di sebuah warung pinggir jalan. Kudapati Sooyoung yang sedang tertidur dengan kepala menelungkup di meja. Di depannya duduk seorang pria yang hanya diam namun terus menatap Sooyoung. Sebenarnya ada apa ini?
“Kau datang”. Ucap pria itu padaku.
“Apa yang terjadi?”
“Istrimu mabuk berat”.
“Kau yang mengajaknya minum?”
“Tidak. Aku bertemu dengan dia di sini. Dia sudah mabuk sebelum aku datang”.
Mataku beralih kearah Sooyoung. Aku masih tak percaya dia bisa mabuk seperti ini. Apa karena aku?
“Sooyoung.. Bangun. Ayo pulang” Ucapku. Kuusap kepalanya. Tapi dia tak menggubris. Mungkin mabuknya sudah parah. Kucoba mengangkatnya dan membawanya ke mobilku. “Engg~~ Oppaaa~~” Gumam Sooyoung. Sooyoung kurebahkan dikursi belakang agar dia bisa tidur.
“Hei” Panggil Changmin dari belakang. Aku berbalik melihatnya.
“Jaga istrimu baik-baik. Jangan buat dia menangis”.
“Apa maksudmu?”
“Kau beruntung mendapatkannya”.
“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Sooyoung? Kenapa kau selalu mendekatinya?”
Pria itu tersenyum simpul. Pria aneh.
“Tenang. Anggaplah aku sebagai pengagum istrimu”.
“Apa?”
“Kau tidak perlu takut Sooyoung akan berpaling. Dihatinya hanya ada kau saja. Yakinlah itu”.
Aku mengerutkan dahi seketika. Dia, kenapa bicara begitu?
“Ok. Sepertinya urusanku sudah selesai. Bye!” Ucapnya sambil melambaikan tangan lalu pergi. Dia pria aneh. Kenapa ucapannya tadi seolah mau menyakinkan aku? Dihati Sooyoung hanya ada aku, katanya? Jadi.. Sooyoung dan pria itu tidak ada hubungan apa-apa?
Aku kembali ke rumah. Kugendong Sooyoung dan merebahkannya di tepat tidur milikku. Kulepaskan sepatu dan jaket yang dipakainya.
“Oppaaa~~~”. Gumam Sooyoung.
Perlahan dia bangun dan duduk menghadapku. Tubuhnya masih sempoyongan. Matanya pun masih sayup.
“Kenapa oppa tidak percaya padakuuu~~~” Ucapnya sambil menarik-narik bajuku.
Ternyata dia begitu tertekan karena aku.
“Oppaa~~ percaya padakuuu~~ Aku sayaangg oppaa~~~”. Lanjutnya lalu memeluku erat.
Maaf Sooyoung. Akulah yang salah. Aku yang terlalu curiga dan berpikiran buruk. Aku yang salah. Maaf Sooyoung.
Perlahan Sooyoung menyentuh wajahku dan menatapku dengan mata yang sudah basah dengan air mata.
“Aku mencintaimu oppa~~” Ucapnya pelan.
Seketika hatiku serasa hangat. Dia mengucapkannya. Sooyoung mencintaiku. “Aku juga mencintaimu sayang..”.
“CHUP”
Kukecup bibirnya lembut. Dia membalas. Kami larut dalam ciuman yang lama. Aku meraihnya semakin dekat denganku, dan memperdalam ciumanku. Perasaanku mulai bergejolak dan membuatku semakin menginginkannya.
Perlahan Sooyoung naik kepangkuanku tanpa melepaskan ciumannya. Kedua tangannya merangkul leherku. Ciuman kami semakin intens dan menuntut. Tanganku pun mulai bergerak menyusup kedalam baju Sooyoung yang berantakan sejak awal. Kujelajahi punggungnya perlahan dan itu membuatnya mendesah disela-sela ciuman kami.
Aku membaringkannya dan menindihnya dengan tubuhku. Tanganku pun masih terus bergerilia dipunggungnya. Kugigit bibir bawah Sooyoung lembut agar aku bisa lebih dalam menciumnya. “Mm….mmmphh” Sooyoung kembali mendesah.
Tubuhku mulai panas. Ciumanku perlahan turun menyusuri leher Sooyoung. Meninggalkan bekas kemerahan disana. Tanganku pun bergerak membuka satu demi satu kancing baju Sooyoung dan menanggalkannya. Kembali aku mencium bibir Sooyoung dan kali ini dengan penekanan. Tapi kurasakan Sooyoung yang semakin melemah. Tangannya tak lagi merangkul leherku. Aku berhenti dan menatapnya. Sooyoung tertidur.
“Sooyoung…?”
Dia benar-benar tidur. Ternyata pengaruh alkoholnya masih ada. Aku bangkit dari atas tubuhnya. Kupasang kembali bajunya yang tadi kulepaskan. Ini memang buka waktunya. Sooyoung masih dibawah pengaruh alcohol. Sangat egois jika aku melakukannya saat dia dalam keadaan setengah sadar.
Aku berbaring disamping Sooyoung. Kutarik selimut untuk menutupi tubuh kami. Kupandangi wajah Sooyoung sebentar. Tidur begitu lelap. Hahh.. dia pasti lelah. Aku sudah membuatnya menderita. Maafkan aku Sooyoung. Kukecup keningnya lembut.
“Selamat tidur sayang..”
__TBC___
Ok. Sekian dulu. Saya sudah pusing. Gejala keram otak…
Jangan lupa kritik dan saran yang membangun ya.. Saya harap kalian tetap menunggu cerita selanjutnya…









