LOVE (Part 10)

LOVE (Part 10)

Judul: LOVE

Author:  Likyuyoung

Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Shim Changmin

Genre : Romance

Rating: PG+16

Halo! Bagaimana kabar kalian? Baik? Saya harap bgt…

Pertama, saya mau minta maaf karena FF ini baru bisa saya post sekarang… Maaf.. Maaf..

Kedua, saya cuma mau bilang JIKA.. teman-teman mau COPAS POSTER FF saya.. Harap bilang-bilang ya.. Soalnya kemarin saya ada ketemu FF lain yang posternya pakai poster saya… Aduuhh.. Sebenarnya saya senang kalau kalian suka dengan poster yg saya buat.. Tapi saya juga ada rasa kecewa. Kenapa orang itu ga ada izin mau pakai poster saya untuk FFnya… Kalau kalian sekedar mau menyimpan/ mengoleksi saja saya tidak masalah. Tapi kalau dipakai untuk FF lain???? Aissshh…Sungguh teganya.. teganya.. teganya… teganyaaaaa…….

Ketiga, saya mau terimakasih untuk para reader yang setia membaca dan memberikan saran yang membangun selama ini… YOU ARE MY EVERYTHINK… hahaha…

Ok.. This is it!! Happy Reading!!

Sooyoung POV

Tangan Kyuhyun sangat erat menggenggam tanganku. Bahkan kasar. Dia menuntunku memasuki mobil dan dengan cepat pergi meninggalkan Changmin. “Oppa.. dengar dulu penjelasanku…” ucapku. Kyuhyun hanya diam dan terus menatap ke depan. Dibawanya mobil dengan kecepatan tinggi. Ini pertama kalinya kulihat dia mengendarai mobil secepat ini. “Oppa.. bahaya! Pelankan kecepatannya!” Ucapku. Tapi tetap tak digubris olehnya. Kyuhyun sangat marah. Sebegitu tak sukanya kah dia jika aku bersama Changmin?

Kami tiba di rumah. Kyuhyun melemparkan tas kerja dan jasnya ke sofa. Dia memandangku yang berdiri di hadapannya dengan tatapan nanar. Itu membuatku takut.

“Kenapa kau bisa bersamanya?”

“Ka, kami tidak sengaja bertemu di pameran oppa..”

“Tidak sengaja? Atau kalian memang sudah janjian bertemu di sana?!”

“Tidak! Kami benar-benar tidak sengaja bertemu..”

“Lalu kenapa kalian pulang bersama?”

“Kami tidak pulang bersama.. “

“Aku melihat sendiri kalian jalan bersama!”

“Tapi itu..”

“Sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan dia? Kenapa dia selalu ada disekitamu?!” Kyuhyun nyaris berteriak membuatku terdiam seketika.

“Oppa..” ucapku takut.

Mata Kyuhyun berbinar menatapku. Kurasa inilah puncak kemarahannya.

“O,oppaa…”

“Maaf. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk kita bicara”.

Kyuhyun mengusap wajahnya dan menghela nafas. Dia tampak kacau. Tidak pernah kulihat dia yang seperti ini.

Kyuhyun berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Sementara aku masih diam berdiri. Tanpa kurasa air mataku membasahi pipiku. Entah mengapa hatiku terasa perih. Begitu perih sampai air mataku tak mau berhenti.

____

Kyuhyun POV

Aku membentaknya. Ini pertama kalinya dalam hidupku  membentak seorang wanita. Dia pasti sangat ketakutan melihatku. Akh, tapi aku sudah tidak bisa menahan emosiku kali ini. Sooyoung dan pria itu, pasti menjalin suatu hubungan. Tidak mungkin mereka hanya sekedar berteman.Tidak mungkin pertemuan mereka hanya sekedar kebetulan. Ini sudah kesekian kali aku mendapati mereka sedang berdua.

Tapi.. jika Sooyoung memang menjalin hubungan dengan pria itu. Untuk apa dulu dia menyatakan rasa sayangnya padaku? Kalau dia menyukai pria itu, kenapa dia tidak minta berpisah dariku? Akh!! Semua ini membuatku pusing!

Kurebahkan diriku di tempat tidur. merenggangkan semua bagian tubuhku yang kaku dan menegang. Aku ingin istirahat. Sebentar saja, aku ingin tenang..

____

“PRAAAANNGGG”

Sekejap aku terbangun. Ternyata aku tertidur cukup lama. Kulihat jam,  sudah menunjukan pukul 20.00 malam. Ah, tadi aku mendengar suara. Apa itu tadi? Seperti suara piring pecah.

Perlahan aku keluar dari kamar dan melihat keadaan sekitar. Sepi. Aku melakah menuju dapur, dan seperti yang kukira. Piring pecah. Kulihat Sooyoung memunguti pecahan-pecahan itu. “Akh!” Tiba-tiba Sooyoung meringis kesakitan. Dia memegangi jarinya yang mengeluarkan cairan berwarna merah. Tangannya terluka. Kenapa dia bisa seceroboh itu? Ingin rasanya kuhampiri dia, tapi kenapa tubuhku ini seperti berat sekali untuk melangkah?

Sooyoung bangkit dan mencuci tangannya yang berdarah, lalu kembali membereskan pecahan piring yang ada dilantai. Setelah beres diberjalan lemah menuju ruang tamu. Dia mengabil tas kerja dan jas yang tadi kulempar ke sofa lalu berjalan ke arahku. Ah, dia melihatku. Dia sedikit terkejut dan diam untuk beberapa saat. Kutatap wajahnya yang sembab. Pasti karena menangis. Perlahan dia berjalan mendekatiku dan menyerahkan barang-barang miliku

“Ini oppa..”

“Hem..” Ucapku datar.

Kulihat jarinya yang terluka masih mengeluarkan darah. Aku ingin mengobatinya tapi tubuhku ini serasa menolak semua yang ingin kulakukan. Apa karena emosiku? rasa gengsiku? Sooyoung berbalik dan berjalan ke arah kamarnya.

“Apa kau suka pria itu?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku. Sooyoung menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menatapku.

“Apa itu harus kujelaskan oppa? Bukankah aku sudah pernah mengatakan bagaimana perasaanku.. ”

“Ya. Aku perlu penjelasanmu”.

Sooyoung menatapku dalam.

“Sebenarnya, aku harus bagaimana agar oppa percaya padaku?”

Aku terdiam. “Harus bagaimana?”. Aku pun tidak tau. Aku ingin percaya padanya. Percaya bahwa perasaannya hanya untukku. Dia menyayangiku. Tapi semua itu berbanding terbalik dengan apa yang kulihat. Dia dan pria itu terlihat sekali seperti menjalin suatu hubungan.

“Aku tidak tau”.

_____

Author POV

Keesokan hari~~

Hari sudah pagi. Tapi pagi ini tidak seperti pagi sebelumnya. Sooyoung masih berbaring ditempat tidurnya. Tadi malam dia dan Kyuhyun tidur terpisah. Sebenarnya Sooyoung sudah bangun dari awal, tapi tubuhnya masih terasa lemah dan tak bertenaga. Untuk bangkit pun rasanya berat sekali. Beberapa kali Sooyoung mengela nafas sambil terus menatap langit-langit kamarnya. Dia kembali teringat dengan ucapan terakhir Kyuhyun.

Aku tidak tau”.

“Hah.. Aku harus bagaimana?” Ucap Sooyoung putus asa. Akhirnya Sooyoung keluar dari kamarnya. Diedarkannya pandanganya kesetiap sudut ruangan. Sepi. Sooyoung berjalan gontai ke luar rumah. Mobil Kyuhyun tidak ada. Berarti Kyuhyun sudah berangkat ke kantor. Sooyoung kembali menghela nafas.

Sooyoung kembali ke dalam rumah dan memasak sesuatu untuk sarapannya pagi ini. Sendirian di meja makan, Sooyoung menghabiskan makanannya. Matanya mulai terasa perih karena air mata yang sedari tadi ditahannya. “Haisssh.. kenapa aku jadi lemah begini”.

Selesai sarapan Sooyoung bersiap untuk ke kampusnya. Hari ini dia ingin menghadap dosen untuk berkonsulatasi mengenai skripsinya, walau sebenarnya semangatnya sudah luntur.

Sesampainya di kampus, Sooyoung langsung menghadap dosen pembimbingnya. Butuh waktu 1 jam Sooyoung mendiskusikan skripsinya pada dosen. Banyak refisi disetiap tulisannya. Sooyoung hanya diam sambil sesekali menganggukkan kepala. Pikirannya tidak fokus.

“Sooyoung, kau sakit?” Tanya dosen pembimbing pada Sooyoung.

“Ah, tidak pak”.

“Tapi wajahmu sedikit pucat..”

“Tidak apa-apa pak.. saya cuma merasa sedikit lelah saja..”

“Apa karena skripsi ini?”

“Hem.. tidak juga pak..”

“Sebaiknya jaga kesehatanmu. Stress karena skripsi itu wajar, tapi jangan sampai kau jatuh sakit…”

“Iya pak…”

“ya sudah. Mungkin sampai disini dulu diskusi kita. Kau perbaiki dulu skripsimu, nanti silahkan menghadap saya lagi..”

“Baik. Terima kasih pak…”

Sooyoung berjalan tak bertenaga menelusuri lorong-lorong yang ada di gedung kampusnya. Pikiriannya masih dipenuhi dengan Kyuhyun. “Sooyoung!!” Panggil seseorang dari belakang. Suara nyaring yang sangat familiar bagi Sooyoung. Itu Yuri. Sooyoung menoleh dan tersenyum sekedarnya. Yuri menautkan alisnya. Dia merasa aneh dengan ekspresi Sooyoung, dan segera dia tau ada yang tidak beres.

“Ada apa denganmu? Kenapa seperti mayat hidup begitu? Tanya Yuri spontan.

“Tidak ada apa-apa…”

“Jangan coba berbohong padaku. Pasti ada masalah lagi. Ada apa? Ayo cerita!!”

Melihat Sooyoung yang hanya diam dengan senyum  yang dipaksakan, Yuri segera menarik Sooyoung ke taman kampus dimana mereka sering datangi.

“Ayo cerita!” ucap Yuri.

“Yuri.. Aku harus bagaimana? Kyuhyun marah padaku…”

“Marah kenapa lagi? Kenapa dia sering sekali marah padamu?”

“Kyuhyun.. melihatku bersama Changmin di suatu pameran seni.. Dia sangat marah saat itu. Aku baru pertama kali melihatnya begitu. Dia bahkan membentakku”.

“Apa? Bagaimana ceritanya sampai kau dan Changmin bisa bersama?”

“Itu tidak sengaja. Kami hanya kebetulan bertemu…”

“Lalu apa kau sudah jelaskan Kyuhyun?”

“Sudah. Tapi dia tidak percaya… Dia memarahiku seolah aku melakukan perselingkuhan. Itu benar-benar membuatku sakit..”

“.. Aku tanya padamu. Sebenarnya bagaimana perasaanmu pada Changmin?”

“Tentu saja tidak ada perasaan apa-apa. Kenapa kau tanya begitu?”

“Hah.. Aku hanya mau memastikan saja. Kalau kupikir,  Kyuhyun memang keterlaluan. Tapi apa yang dilakukannya sangatlah wajar. Pria mana yang mau wanitanya bersama pria lain. Apa lagi dari awal dia sudah tidak suka dengan Changmin..”

“Lalu sekarang aku harus bagaimana? Bagaimana caranya agar Kyuhyun percaya padaku..”

“Kalau sudah begini, terus terang… aku tidak bisa memberi saran apapun. Kau yang lebih mengenal bagaimana Kyuhyun…”

“Haahhh.. Yuri. Kenapa hubunganku dengan Kyuhyun selalu saja bermasalah. Aku sangat iri dengan pasangan lain. Yang bisa selalu mesra..”

“Bodoh! Yang namanya menjalin suatu hubungan, pasti akan terus ada masalah!” Ucap Yuri sambil mukul kepala Sooyoung ringan.

“… Yuri…”

“Hem?”

“Hari ini, boleh aku menginap dirumahmu..”

“Eh? Kenapa?”

“Tidak apa.. aku hanya ingin menenangkan diriku. Kalau aku pulang ke rumah. Rasanya sama saja menyiksa diriku. Kyuhyun pasti masih marah dan tak mau bicara denganku..”

“Tapi, apa tidak apa-apa? Bukannya itu akan memperburuk suasana? Paling tidak, kalau memang kau mau menginap di tempatku, kau bilang padanya..”

“Tidak usah. Dia tak mau melihatku. Jadi tidak masalah kalau aku tidak pulang hari ini..”

“Ya, terserahmu sajalah…”

Sepulang dari kampus, Sooyoung pulang bersama Yuri. Seharian Sooyoung berada di rumah Yuri. Kebetulan orang tua Yuri sedang berada di luar negeri, sehingga Sooyoung bisa lebih leluasa.

Sooyoung duduk ditepi tempat tidur Yuri sambil menatap handphone-nya. Tidak ada panggilan, tidak ada pesan. Kyuhyun sama sekali tidak menghubungi Sooyoung, padahal hari sudah malam. “Ternyata Kyuhyun benar-benar tidak menghubungiku..” Batin Sooyoung.

“Sudah.. Jangan terus menatap handphone itu..” Ucap Yuri tiba-tiba. Tanpa disadari Sooyoung, Yuri sudah berdiri didekatnya.

“Yuri.. kau mengagetkanku”.

“Sudah. Ayo makan. Aku sudah siapkan makan malam untuk kita. Nasi Goreng Kimchi!!” Ajak Yuri seraya menarik tangan Sooyoung,

Akhirnya Sooyoung dan Yuri makan malam bersama. Namun tidak seperti biasanya, kali ini Sooyoung tidak menghabiskan makannya. Yuri menatap Sooyoung sejenak. Dia paham keadaan Sooyoung saat ini. Masalah yang membelitnya kali ini memang sulit. Jelas, kalau selera makannya berkurang.

“Yuri.. Sepertinya aku mau pulang saja…”

“Eh?”

“Hem.. Aku juga tidak enak padamu. Kau jadi repot karena aku..”

“.. Kau yakin mau pulang?”

“Hem”. Jawab Sooyoung mengangguk.

Yuri tersenyum simpul. Setelah Sooyoung bersiap, diantarnya Sooyoung sampai ke halte bus yang berada tidak jauh dari kompleks perumahaan tempatnya tinggal.

“Hati-hati!” Ucap yuri.

“Ya.”

Sooyoung masuk ke dalam bus. Sepanjang jalan Sooyoung hanya menatap kosong  keluar jendela. Pikirannya menerawang entah ke mana, sampai dia tak menyadari bus sudah berhenti. Sooyoung tersadar dari lamunannya. Segera dia turun dan berjalan menuju rumahnya. Tempat dimana dia tinggal bersama suaminya.

Sooyoung menghentikan langkahnya tepat di depan rumah. Di pandangnya rumah itu. Sepi. Pandangannya beralih ke arah mobil yang terparkir di taman rumah. Mobil sedan berwarna silver milik Kyuhyun. Kyuhyun sudah pulang. Sooyoung mengambil handphone yang ada disakunya. Masih tidak ada yang berubah. Tidak ada panggilan dan pesan yang masuk. Padahal jam sudah menunjukan pukul 21.30.

Sooyoung menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Niatnya untuk masuk ke dalam rumah seketika pudar. Dia berbalik dan berjalan menjauhi rumah itu. Dia tak tau kemana arah tujuannya, tapi kakinya terus melangkah. Sooyoung melihat keramaian di sebuah warung pinggir jalan. Soju. Tiba-tiba Sooyoung ingin minum soju. Dia ingin melepaskan semua beban pikirannya. Sooyoung mendekati warung itu dan duduk di salah satu tempat yang disediakan. Satu botol soju sudah tersedia dihadapannya. Sebenarnya Sooyoung tidak bisa minum minuman beralkohol. Tapi kali ini seperti ada pengecualian untuknya.

Can you feel my heart? (Eh Eh, Eh Eh)~~

Can you read my mind? (Eh Eh, Eh Eh)~~

Nun bicheuro nan, beolsseo gobaek haet janha yo~~

Oraet dongan dada dun mameul (mameul)~~

Shib chogan man yeoreo dul teni(Teni)~~

Mangseoriji malgo, Just say yes!

Tiba-tiba handphone Sooyoung berbunyi. Sooyoung segera meraih handphonenya karena dia pikir itu panggilan dari Kyuhyun. Tapi kekecewaan yang didapatnya. Layar handphone menunjukan nama  “Changmin”.

Halo..”

“Ada apa Changmin?” Tanya Sooyoun langsung.

Em.. aku cuma mau tau keadaanmu. Apa kau baik-baik saja?

“Menurutmu?”

Apa kau marah padaku?

“Menurutmu?”

Hei. Jangan begitu. Kau membuatku tidak enak. Sekarang kau dimana? Apa kita bisa bicara sebentar?

“Kau mau bicara apa lagi?”

Sudahlah.. sekarang katakan. Apa kita bisa bertemu sebentar?

“Hem.. Aku sedang di warung pinggir jalan sekarang. Dekat xxx (sebut nama tempat yang author ga tau).. datanglah kalau kau mau”.

Baiklah. Tunggu aku”.

Sooyoung mulai meneguk soju yang ada dihadapannya segelas. Dua gelas. Tiga gelas. Semakin banyak yang ditelannya, semakin bebannya lebih ringan dirasa olehnya. “Hei. Berhenti minum!” Ucap seseorang. Sooyoung mengalihkan pandangannya. Sosok pria tinggi sedang berdiri dihadapannya.

“Oppa?” Ucap Sooyoung yang mulai mabuk dan mengira itu Kyuhyun.

“Ini aku. Changmin. Sejak kapan kau memanggilku ‘oppa’?”

“Oh, kau. Kupikir tadii…”

“Suamimu?”

“Hemmm…”

Sekali lagi Sooyoung meneguk segelas soju. Tubuhnya mulau terhuyung. Pandangannya pun mulai kabur.

“Changmiiinn~~ Ayo bicaraaa~~ Bukankah tadi kau ingin bertemu denganku untuk bicaraa~~” Ucap Sooyoung.

“Ck, ck.. Hei. Aku tidak mau bicara dengan orang mabuk”.

“Aiissshhh~~~ Dasar kau iniiiii~~”

“Kau begini karena suamimu itu?”

“Hemm~~”

“Bodoh sekali!”

“Hem~~ Ya benaarrr~~ Aku booddooohhhhh~~~ Aku bodoh karenanya~~”

“Kenapa kau mau hidup dengan orang membuatmu seperti ini?”

“Cishh~~ Pertanyaanmu lucu.~~ Ya sudah jelaaasss~~ Karena dia suamikkuu~~ dan aku sayaaangg diaa~~”

“Kau.. menyayanginya?”

“Hemm~~ aku menyayanginyaaa~~~”

“Padahal aku juga menyayangimu…”

“Maaff Changmiiiinnn~~~ Maaaffff~~ tapi aku menyayangiii suamiku~~ Ah, lebih tepatnya mencintainyyaa~~ Aku mencintainyaaa, Changmin~~~”

“….. Apa kehadiranku mengganggu hidupmu..?”

“Hemm~~~ “

“Jadi.. Kau ingin aku menjauh?”

“Heemmmm~~~ ituu lebbihh baaiikk~~~ “ Ucap Sooyoung sambil merebahkan kepalanya di meja.

“Begitu ya.. Jadi memang tidak ada sedikitpun celah untukku…”

Can you feel my heart? (Eh Eh, Eh Eh)~~

Can you read my mind? (Eh Eh, Eh Eh)~~

Nun bicheuro nan, beolsseo gobaek haet janha yo~~

Oraet dongan dada dun mameul (mameul)~~

Shib chogan man yeoreo dul teni(Teni)~~

Mangseoriji malgo, Just say yes!

Handphone Sooyoung berbunyi lagi. Changmin yang mendengarnya lalu mengambilnya dan melihat siapa yang menelpon. “Kyuhyun”. Nama itu tertera di layar.

“Halo”. Jawab Changmin tanpa rasa ragu.

“…. Halo. Siapa ini?

“Changmin”.

“…. Kenapa ponselnya ada padamu? Mana Sooyoung?

“Dia bersamaku.. Saat ini dia sedang mabuk.”

Apa? Mabuk?

“Sekarang kami ada di daerah xxx. Segara datang dan jemput istrimu”.

“KLEK”

____

Kyuhyun POV

Kulihat jam, Ini sudah jam 10 malam. Sooyoung masih belum pulang. Kemana dia? Sejak aku pulang kerja sampai sekarang dia tidak kabar sama sekali. Apa dia tidak mau pulang karena masalah kemarin? Akh. Gadis itu kenapa selalu membuatku khawatir! Kuambil handphone-ku untuk menghubunginya.

Halo”.

Loh, kenapa suara laki-laki?

“…. Halo. Siapa ini?”

Changmin”.

Apa? Changmin? Jadi pria itu masih juga mendekati Sooyoung.

“…. Kenapa ponselnya ada padamu? Mana Sooyoung?”

Dia bersamaku.. Saat ini dia sedang mabuk.

“Apa? Mabuk?”

Sooyoung mabuk? Mana mungkin. Setauku dia tidak pernah minum minuman beralkohol.

Sekarang kami ada di daerah xxx. Segara datang dan jemput istrimu”.

“KLEK”

Dia mematikan telpon begitu saja. Dasar pria ini! Dia memang ingin cari masalah denganku rupanya!

Tanpa pikir panjang, segera aku berangkat menuju tempat Sooyoung dan pria itu berada. Aku tak bisa tenang. Aku menghawatirkan Sooyoung, sekaligus marah padanya. Bisa-bisanya dia pergi sampai selarut ini, bersama pria itu lagi.

Aku tiba di sebuah warung pinggir jalan. Kudapati Sooyoung yang sedang tertidur dengan kepala menelungkup di meja. Di depannya duduk seorang pria yang hanya diam namun terus menatap Sooyoung.  Sebenarnya ada apa ini?

“Kau datang”. Ucap pria itu padaku.

“Apa yang terjadi?”

“Istrimu mabuk berat”.

“Kau yang mengajaknya minum?”

“Tidak. Aku bertemu dengan dia di sini. Dia sudah mabuk sebelum aku datang”.

Mataku beralih kearah Sooyoung. Aku masih tak percaya dia bisa mabuk seperti ini. Apa karena aku?

“Sooyoung.. Bangun. Ayo pulang” Ucapku. Kuusap kepalanya. Tapi dia tak menggubris. Mungkin mabuknya sudah parah. Kucoba mengangkatnya dan membawanya ke mobilku. “Engg~~ Oppaaa~~” Gumam Sooyoung. Sooyoung kurebahkan dikursi belakang agar dia bisa tidur.

“Hei” Panggil Changmin dari belakang. Aku berbalik melihatnya.

“Jaga istrimu baik-baik. Jangan buat dia menangis”.

“Apa maksudmu?”

“Kau beruntung mendapatkannya”.

“Sebenarnya apa hubunganmu dengan Sooyoung? Kenapa kau selalu mendekatinya?”

Pria itu tersenyum simpul. Pria aneh.

“Tenang. Anggaplah aku sebagai pengagum istrimu”.

“Apa?”

“Kau tidak perlu takut Sooyoung akan berpaling. Dihatinya hanya ada kau saja. Yakinlah itu”.

Aku mengerutkan dahi seketika. Dia, kenapa bicara begitu?

“Ok. Sepertinya urusanku sudah selesai. Bye!” Ucapnya sambil melambaikan tangan lalu pergi. Dia pria aneh. Kenapa ucapannya tadi seolah mau menyakinkan aku? Dihati Sooyoung hanya ada aku, katanya? Jadi.. Sooyoung dan pria itu tidak ada hubungan apa-apa?

Aku kembali ke rumah. Kugendong Sooyoung dan merebahkannya di tepat tidur milikku. Kulepaskan sepatu dan jaket yang dipakainya.

“Oppaaa~~~”. Gumam Sooyoung.

Perlahan dia bangun dan duduk menghadapku. Tubuhnya masih sempoyongan. Matanya pun masih sayup.

“Kenapa oppa tidak percaya padakuuu~~~” Ucapnya sambil menarik-narik bajuku.

Ternyata dia begitu tertekan karena aku.

“Oppaa~~ percaya padakuuu~~ Aku sayaangg oppaa~~~”. Lanjutnya lalu memeluku erat.

Maaf Sooyoung. Akulah yang salah. Aku yang terlalu curiga dan berpikiran buruk. Aku yang salah. Maaf Sooyoung.

Perlahan Sooyoung menyentuh wajahku dan menatapku dengan mata yang sudah basah dengan air mata.

“Aku mencintaimu oppa~~” Ucapnya pelan.

Seketika hatiku serasa hangat. Dia mengucapkannya. Sooyoung mencintaiku. “Aku juga mencintaimu sayang..”.

“CHUP”

Kukecup bibirnya lembut. Dia membalas. Kami larut dalam ciuman yang lama. Aku meraihnya semakin dekat denganku, dan memperdalam ciumanku. Perasaanku mulai bergejolak dan membuatku semakin menginginkannya.

Perlahan Sooyoung naik kepangkuanku tanpa melepaskan ciumannya. Kedua tangannya merangkul leherku. Ciuman kami semakin intens dan menuntut. Tanganku pun mulai bergerak menyusup kedalam baju Sooyoung yang berantakan sejak awal. Kujelajahi punggungnya perlahan dan itu membuatnya mendesah disela-sela ciuman kami.

Aku membaringkannya dan menindihnya dengan tubuhku. Tanganku pun masih terus bergerilia dipunggungnya. Kugigit bibir bawah Sooyoung lembut agar aku bisa lebih dalam menciumnya. “Mm….mmmphh” Sooyoung kembali mendesah.

Tubuhku mulai panas. Ciumanku perlahan turun menyusuri leher Sooyoung. Meninggalkan bekas kemerahan disana. Tanganku pun bergerak membuka satu demi satu kancing baju Sooyoung dan menanggalkannya. Kembali aku mencium bibir Sooyoung dan kali ini dengan penekanan. Tapi kurasakan Sooyoung yang semakin melemah. Tangannya tak lagi merangkul leherku. Aku berhenti dan menatapnya. Sooyoung tertidur.

“Sooyoung…?”

Dia benar-benar tidur. Ternyata pengaruh alkoholnya masih ada. Aku bangkit dari atas tubuhnya. Kupasang kembali bajunya yang tadi kulepaskan. Ini memang buka waktunya. Sooyoung masih dibawah pengaruh alcohol. Sangat egois jika aku melakukannya saat dia dalam keadaan setengah sadar.

Aku berbaring disamping Sooyoung. Kutarik selimut untuk menutupi tubuh kami. Kupandangi wajah Sooyoung sebentar. Tidur begitu lelap. Hahh.. dia pasti lelah. Aku sudah membuatnya menderita. Maafkan aku Sooyoung. Kukecup keningnya lembut.

“Selamat tidur sayang..”

__TBC___

Ok. Sekian dulu. Saya sudah pusing. Gejala keram otak…

Jangan lupa kritik dan saran yang membangun ya.. Saya harap kalian tetap menunggu cerita selanjutnya…

LOVE (Part 9)

LOVE (Part 9)

 

Judul: LOVE (Part 9)

Author:  Likyuyoung

Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Changmin

Genre : Romance

Rating: PG+16

 

 

Halo! Maaf beribu maaf.. sy baru bisa post skrang..

Oh ya, sy senang sekali karena makin lama yang comment makin banyak. Semoga trus begitu ya. jangan bosan kasih saran dan kritik yang membangun buat sy.. OK..

Happy reading!!!

 

 

Keesokan hari~~

Kyuhyun POV

 

Aku membuka mata perlahan. Aku terbangun oleh sinar matahari pagi yang menembus kamarku. Ah, aku kesiangan. Baru kali ini aku kesiangan bangun.

“Engghh..”

Suara lenguhan seseorang disampingku. Sooyoung. Semalaman dia tidur dalam pelukanku. Hahh.. ini adalah saat-saat yang membahagiakan. Jika aku mengingat ucapanya semalam, hatiku ini serasa dipenuhi bunga. (lebay dikit).

 

-Flashback-

“Aku.. sayang padamu, oppa..” Ucapku lembut.

“C,coba ulangi lagi. Tadi kau bilang apa?”

…. Aku sayang kamu, oppa… sayang sekali… Jadi, tunggulah aku. Sabarlah menungguku…”.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Rasa tak percaya, Sooyoung mengucapkannya. Dia menyayangiku.

“Benarkah?” tanyaku untuk meyakinkan diriku sendiri.

“Iya”

“Terimakasih..”

“Loh, kenapa berterima kasih oppa?”

“Hem.. Terimakasih karena kau menyayangiku dan mau menjadi istriku…”

“Hehehe.. Oppa ini. Aku jadi malu mendengarnya..”

Wajahnya bersemu merah. Dia manis sekali.

“CHUP”

Dan sekali lagi aku mencium bibirnya. Dia membalas.

“Mulai sekarang aku tidak perlu sungkan lagi untuk menciummu atau memelukmu ‘kan?”

“Hem..” Jawab Sooyoung sambil mengangguk. Terlihat jelas dia malu.

“CHUP”

Aku menciumnya lagi. Lama dan lembut. Tapi kali aku mencoba untuk mengendalikan diriku agar tidak lebih menyentuhnya. Tanganku hanya kudiamkan dipinggangnya yang ramping.

“Aku akan menunggumu sampai kau siap. Tapi….”

“Tapi apa oppa?”

Aku tersenyum lalu memeluknya erat.

“Tapi.. jangan terlalu lama”.

“Hahahaha….” Sooyoung tertawa dalam pelukanku. Aish.. ternyata dia malah mentertawakanku.

“Jangan tertawa.. aku serius. Ini termasuk ujian terberat bagiku.”

“Hem.. baiklah. Aku mengerti….hehe”

-Flashback  End-

 

Aku menatap Sooyoung yang masih lelap tertidur. Mungkin dia merasa nyaman dalam pelukanku sampai tidur senyenyak itu. Lebih baik kubiarkan dia tidur. Perlahan aku melepaskan pelukan Sooyoung , lalu bangkit dari tempat tidur. Aku menyiapkan keperluan kantorku termasuk kemeja, jas yang senada dengan celana dan tidak lupa, dasi. Setelah siap aku menuju kamar mandi.

_____

 

Sooyoung POV

 

Aku membuka mata ketika kurasakan disamping tidak ada siapa-siapa. Kyuhyun mana? Ah, matahari sudah muncul. Astaga aku kesiangan!

“CKLEK”

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Mataku membulat seketika melihat sosok Kyuhyun yang hanya menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya. Dia baru selesai mandi. Spontan aku menutup mata. Pura-pura kembali tidur. Haduh.. bagaimana ini. Apa Kyuhyun akan berpakaian di sini? Apa dia tidak sadar kalau aku ada di kamarnya?

Kubuka mata kiriku sedikit untuk melihat situasi. Astaga! Kyuhyun mulai memakai kaus dalam dan kemejanya. Jangan sampai dia membuka handuknya. Jangan!

“OPPPPAAAAA!!!!!!!!!” Jeritku tiba-tiba dan mengagetkan Kyuhyun yang hampir melepas handuknya.

“Sooyoung! Kenapa teriak begitu?!”

“J,jangan buka di sini!” Ucapku sambil menutup mata dengan kedua tangan.

“Hahahahaha!” Kyuhyun tertawa. Aish. Kenapa malah tertawa? Kyuhyun aneh.

“Oppa!”

“Baiklah.. baiklah.. Pergilah dulu. Supaya aku bisa ganti baju..” Ucapnya.

Aku langsung bangkit berdiri dan berjalan pelan keluar kamar dengan tangan yang masih menutupi mataku. Kudengar Kyuhyun masih terkekeh-kekeh melihat tingkahku.

Aku pergi ke dapur lalu menyiapkan sarapan. Tak berapa lama Kyuhyun datang dengan pakaian rapi. Aku tak berani menatapnya karena masih malu.

“Apa sarapan sudah siap?”

“I,iya oppa..” Jawabku.

Kami duduk berhadapan menyantap sarapan kami. Aku masih belum bisa menatap matanya.

“Sooyoung..”

“Ya?”

“Kau tidak ada kuliah hari ini?”

“Sebenarnya tidak ada.. tapi nanti jam 10.00 aku mau ke kampus untuk mengurus skripsi…”

“Memangnya judul skripsimu sudah ada?”

“Ada. Aku sudah mengajukan judul, dan sudah disetujui”.

“Oh, baguslah.. berarti kau akan mulai penelitian?”

“Ya. Karena aku ambil jurusan seni rupa, penelitian akan terlalu lama. Aku hanya meneliti beberapa karya seniman di korea…”

“Oh..“

Selesai sarapan aku mengantar Kyuhyun sampai ke pintu depan. Aku masih sedikit malu mengingat kejadian beberapa saat lalu, tapi sepertinya Kyuhyun tak sadar akan hal itu. Dia mencium keningku lembut lalu pergi.

Aku siap-siap untuk pergi ke kampus. Banyak yang akan kuurus hari ini. Skripsi dan penelitian. Semoga semuanya lancar dan aku bisa cepat lulus.

_____

 

Pukul 10.15 pagi hari~~

Univesitas Seni

 

Aku berjalan menuju perpustakaan kampus untuk mencari buku-buku referensi. “Sooyoung!” panggil seseorang. Aku menoleh ke sumber suara. Ternyata Yuri. Aku membalasnya dengan senyuman.

“Kau cari buku untuk skripsi?”

“Yup!”

“Kita sama ya. Aku juga mau melihat beberapa buku.”

Aku mengangguk. Kami bersama masuk ke perpustakaan lalu mencari buku. Aku meletakan beberapa buku di atas meja lalu duduk dan mengeluarkan laptopku. Aku sibuk membaca buku yang ada didepanku tanpa merasa kalau Yuri sedang memperhatikanku.

“Hoi!”

“Hemm?”

“Akhir-akhir ini kau tidak ada lagi cerita tentang kau dan Kyuhyun.. Apa kalian baik-baik saja?”

“Kami baik-baik saja.. “ Jawabku sambil terus menatap buku.

“Berarti kau dan Kyuhyun sudaahhh……..”

Mataku segera beralih. Alisku bertaut. Menyelidik maksud perkataan Yuri. “Belum..” Jawabku. Yuri membulatkan mata. “Hah? Kenapa belum juga?” Tanyanya dengan suara nyaring. Seketika mahasiswa lain yang berada di perpustakaan serempak menatap kami. Gadis satu ini masih belum bisa mengendalikan suara nyaringnya itu!

“Suaramu…” Ucapku dengan mata melotot.

“Aish.. Ayo katakan padaku. kenapa kau masih belum melakukan ‘itu’ dengan Kyuhyun?” Tanya Yuri dengan suara pelan.

Sebenarnya aku malas menjelaskan padanya. Karena pasti nanti kami akan larut bicara.

“Nanti saja ceritanya.. aku mau baca buku..”

“Aish, ayolah..”

“Ck..”

“Ayolah..” Ucap Yuri dengan nada memohon. Dia mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Cish, sok imut.

“Baiklah..” ucapku sambil menutup buku yang ada tadi kubaca. Yuri mendekatkan tubuhnya agar bisa mendengar ceritaku dengan jelas.

“Aku memintanya untuk menunggu sampai aku siap..”

“Memangnya kapan kau siap?”

“Hemm.. mungkin setelah aku lulus”.

“Setelah lulus? Apa itu tidak terlalu lama?”

“Ck, Cuma sekitar enam bulan. Masa itu lama?”

“Bagimu sih tidak. Bagi Kyuhyun? Lalu, kalau kau bisa lulus dalam waktu enam bulan sih, tidak masalah.. Tapi kalau lebih? Bagaimana? Apa kau menyuruhnya untuk menunggu lagi?”

Aku terdiam. Yuri benar. Aku tidak memikirkan hal itu. Kalau ternyata skripsiku tidak selesai dalam enam bulan, berarti Kyuhyun akan menunggu lagi. Apa dia mau? Kurasa tidak. Dia pasti akan kecewa dan marah padaku.

“Nah ‘kan, terlihat jelas kalau kau tidak memikirkan kemungkinan itu…”

“Ah. Itu tidak akan terjadi! Aku akan berusaha untuk bisa menyelesaikan skripsi ini! Kalau perlu aku akan begadang setiap hari!” Ucapku penuh semangat.

“Aigoo.. Kau ini tidak jelas!

Aku memang belum siap. Aku belum siap untuk melakukan hubungan ‘itu” dengan Kyuhyun. Aku takut. Aku memang sudah cukup dewasa. Tapi kalau menyangkut hal-hal seperti itu aku memang kaku. Bahkan tidak tau apa-apa. Ditambah lagi, jika aku hamil. Aku belum mau itu terjadi. Aku mana bisa jadi ibu di usia semuda ini.

“Sudah ah! Yang penting sekarang aku mau fokus untuk skripsi!”

“Baiklah.. baiklah… “

_____

 

Home, Sore hari~~

Author POV

 

Hari hampir malam. Kyuhyun dan Sooyoung sudah tiba di rumah mereka. Keduanya sedang makan malam bersama.

“Hem, aku sudah selesai makan..”

“Loh, cepat sekali..”

“Iya oppa. Aku mau mengerjakan skripsiku.. Kalau oppa sudah selesai makan, taruh saja piringnya di dapur ya. Nanti aku cuci”. Ucap Sooyoung sambil berjalan kea rah kamarnya.

Kyuhyun hanya diam memandang Sooyoung yang sudah masuk ke kamarnya. “Kenapa dia tiba-tiba jadi sibuk begitu..” Batin Kyuhyun.

Kyuhyun menyelesaikan makannya lalu membereskan piring-piring yang ada di meja makan. Kyuhyun langsung mencuci piring karena dipikirnya Sooyoung pasti akan lupa kerena kesibukannya saat ini. Setelah semuanya beres Kyuhyun berniat untuk melihat Sooyoung di kamarnya. Dibukanya pintu Sooyoung perlahan.

“Sooyoung..” Panggil Kyuhyun pelan.

“Ya oppa..” Jawab Sooyoung yang masih memandang layar laptopnya.

“Apa kau masih lama mengerjakan itu?”

“Hem.. iya oppa..”

Melihat Sooyoung yang terus asik memandang laptop dengan jari yang tidak berhenti mengetik, Kyuhyun jadi sedikit kesal. “Ya sudah kalau begitu..” Ucap Kyuhyun lalu beranjak pergi ke kamarnya. Sooyoung hanya mengangguk dan membuat Kyuhyun bertambah kesal.

“BLAM”

Kyuhyun menutup pintu dengan kuat, membuat Sooyoung segera beralih melihat kea rah pintu. “Loh, kenapa pintunya dibanting sih?” Sooyoung heran. Tapi dia lebih memilih melanjutkan kegiatannya dibanding menyusul Kyuhyun. Sooyoung ingin segera menyelesaikan ketikkannya agar dia bisa langsung berkonsultasi pada dosennya.

Sementara itu Kyuhyun sudah merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Rasa kesalnya masih belum hilang karena sikap cuek Sooyoung tadi. “Aku juga pernah kuliah. Pernah mengerjakan skripsi, tapi tidak juga bersikap seperti itu kalau ada yang mengajakku bicara!” Gumamnya dalam hati.

_____

 

Keesokan hari~~

Kyuhyun terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa Sooyoung tidak ada di sampingnya. Bantal yang biasa dipakai Sooyoung masih rapi berada ditempatnya. “Apa anak itu tidak tidur disini?” Pikir Kyuhyun.

Kyuhyun segera bangkit dan berjalan menuju kamar Sooyoung. Dan benar saja, Sooyoung masih berada di depan meja belajarnya. Dia tertidur di sana. Kyuhyun menghampiri Sooyoung lalu perlahan menggendongnya.

“Enggg..” Sooyoung menggumam.

Kyuhyun membaringkan Sooyoung di atas tempat tidur. Lalu duduk ditepi sambil menatap istrinya yang tidur pulas itu. Diusapnya pipi Sooyoung dengan lembut.

“Engg..” Sooyoung menggumam lagi.

Kyuhyun mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Sooyoung.

“CHUP”

Kyuhyun mendaratkan bibirnya di bibir Sooyoung. Menyapu bibir Sooyoung perlahan. Tiba-tiba Kyuhyun membuka mata saat merasa ciumannya dibalas oleh Sooyoung. Kyuhyun semakin larut dalam suasana dan tanpa sadar tubuhnya sudah berada di atas Sooyoung.

“Mmmphh.. O, oppa!”

Sooyoung membuka mata dan terkejut karena Kyuhyun yang sudah menindihnya. Kyuhyun menghentikan ciumannya dan tersenyum memandang Sooyoung.

“Ini hukuman untukmu.”

“Apa? Hukuman? Memang aku salah apa?”

“Kau tidak sadar. Semalam kau tidak menghiraukanku, dan membiarkanku tidur sendiri..”

“Apa? Akuu..Mmmpph..”

Belum sempat Sooyoung menjelaskan Kyuhyun sudah membungkam bibir istrinya itu dengan bibirnya. Sooyoung memukul dada Kyuhyun pelan. Tapi Kyuhyun semakin memperdalam ciumannya. Sooyoung tidak mampu mengelak dan akhirnya dia membiarkan bibir Kyuhyun bermain dibibirnya.

“Oppaaa…” Ucap Sooyoung disela-sela ciuman mereka.

“Hemmmm..”

Sooyoung menjauhkan wajah Kyuhyun tiba-tiba. “Aku mau mandi dan menyiapkan sarapan…”. Kyuhyun memandang Sooyoung sejenak, lalu bangkit dari atas tubuh Sooyoung. Melihat Kyuhyun tampak kecewa, Sooyoung segera menarik ujung baju Kyuhyun.

“Hemm?”

“Marah?”

“Iya…”

Mendengar jawaban Kyuhyun seperti itu, Sooyoung langsung bangkit memeluk Kyuhyun erat-erat. Kyuhyun membulatkan mata.

“Jangan marah.. maaf atas sikapku tadi malam..”

“Ya.. aku mengerti..”Kyuhyun mengusap kepala Sooyoung lembut. Sooyoung tersenyum dalam pelukannya.

_____

 

Kyuhyun POV

 

Lagi, aku menciumnya. Mencium istriku dengan gejolak yang tidak bisa kukendalikan. Kenapa aku jadi ingin selalu mencium bibirnya yang tipis itu. Sejak kapan aku jadi mesum begini? Akh, kendalikan dirimu Kyuhyun!

Aku kembali ke kamarku untuk mandi dan bersiap untuk kerja. Ketika aku sudah siap, ternyata Sooyoung juga sudah menyiapkan sarapan. Kami makan bersama seperti biasa. Aku melihatnya makan lebih lahap dari biasanya. Apa karena pengaruh mengerjakan skripsinya?

“Tumben makanmu banyak..”

“Hm? Oh ya oppa. Aku harus makan banyak supaya punya energi untuk mengerjakan skripsi..”

“Jangan terlalu serius mengerjakannya. Santai saja…”

“Hem. Hem.. Aku tau. Oh ya. Hari ini aku akan ke pameran seni rupa di daerah xx (maaf author ga tau nama jalan)”

“Sama siapa?”

“Sendiri saja..”

“Lama? Pulang jam berapa?”

“Mungkin sore…”

“Apa perlu kujemput?”

“Tidak usah oppa.. aku naik bis saja nanti..”

“Ya sudah..”

Selesai kami sarapan aku dan Sooyoung berangkat ke tujuan kami masing-masing. Seperti katanya tadi, dia berangkat sendiri ke pameran itu. Aku mau saja mengantarnya, tapi memang arah tempat pameran itu dengan arah kantorku berlawanan. Kali ini, biarlah Sooyoung naik bis.

15 menit berlalu, aku sudah sampai di kantor. “Tuan Cho. Maaf, ada tamu untuk anda..” Ucap sekretarisku ketika mau memasuki ruanganku

“Siapa?”

“Nona Victoria..”

Victoria? Ada apa dia kemari?

“Di mana dia sekarang?”

“Di ruangan anda..”

“Baiklah”.

Aku masuk keruanganku, dan benar. Sosok wanita berambut pirang mencolok sedang duduk disofa disofa. “Kyuhyun!” Sapanya ketika melihatku. Aku meletakan tas lalu ikut duduk disofa.

“Ada apa kau ke sini?”

“Ada apa? Seharusnya aku yang tanya. Ada apa denganmu? Kemarin saat kita bertemu kau langsung pulang begitu saja sambil menarik tangan istrimu!”

“Oh.. Maaf. Saat itu memang ada masalah antara aku dan Sooyoung”.

“Masalah apa? Baru kali ini aku melihatmu seperti itu”.

“Haha.. tenang saja. Sekarang masalahnya sudah selesai”.

“Benarkah?”

“Ya..”

“Haish.. kau ini. Aku bukannya mau mencampuri urusan rumah tanggamu. Tapi bagaimana pun aku temanmu. Kalau melihat sikapmu kemarin, tentu saja aku jadi khawatir..”

“Iya, aku minta maaf.. “

“Ya sudah. Aku sekalian mau pamit”.

“Pamit? Memang mau kemana?”

“Ya tentu saja kembali ke Amerika”.

“Apa? Benarkah? Cepat sekali!”

“Masalahku di Korea sudah selesai. Sekarang saatnya kembali ke asalku!”

“Haha… baiklah”.

“Oh, ya… salam buat istrimu. Jaga dia. Jangan sampai diambil orang!”

“Ya! Tentu saja dia akan kujaga dengan baik!”

Victoria tertawa terbahak melihat reaksiku. Aish.. Apa maksud dari ucapanya itu. “diambil orang!”. Siapa? Apa maksudnya Changmin sepupunya itu!

“Istrimu itu kalau dilihat lumayan cantik. Pasti banyak pria yang mengincarnya. Apa lagi di kampusnya!”

“Ya! Kau mau memanas-manasiku ya!”

“Hahaha!”

Victoria terus tertawa sambil beranjak pergi. Aku masih menatapnya saat dia berjalan menyusuri lorong. “Bye Kyuhyun!!” Teriaknya dari jauh dan dijawab oleh lambaian tanganku.

Aku jadi kepikiran dengan ucapan Victoria tadi. Sooyoung memang cantik. Wajar kalau ada pria yang menyukainya. Tapi dia tidak mungkin merespon bukan? Dia istriku, dan dia juga menyayangiku. Mana mungkin dia berpaling ke pria lain. Tidak! Tidak mungkin!

Aku mengeluarkan handphone dari kantong celanaku. Kucari nama ‘Sooyoung’ dalam kontak menu.

 

“…..Halo Sooyoung”.

Ya oppa?

“Kau sudah sampai?”

Ya.. ada apa menelpon?

“Tidak.. aku cuma ingin memastikan saja..”

Oh.. Oppa, maaf. Aku masih harus berkeliling melihat beberapa karya-karya yang dipamerkan. Sudah dulu ya..

“Baiklah.. hati-hati ya..”

Ya..

“…”

 

Aku menatap layar handphone-ku lama. Padahal aku ingin bicara lebih panjang tapi dia sudah menutupnya. Sesibuk itu kah dia? Kalau begini terus, bisa-bisa aku dicueki olehnya.

____

 

Pameran Seni Rupa~~

Sooyoung POV

Aku berkeliling melihat-lihat beberapa karya seni. Ada yang berupa patung ada pula lukisan. Kebanyakan tema pameran ini adalah astrak, sehingga perlu lebih jelas mengamati agar tau maksud dari karya itu dibuat.

“Jangan dilihat sedekat itu. nanti matamu juling!” Ucap seseorang ketika aku sedang memperhatikan sebuah patung. Aku menoleh. Dan.. Astaga! Kenapa harus bertemu disini!

“Changmin!”

“Kenapa ekspresimu begitu. Seperti melihat setan saja!”

Iya memang. Kamu setannya!

“Se,sedang apa kau?”

“Melihat pameran..”

“Hah? Kau kan mahasiswa seni drama. Untuk apa ke pameran seni rupa?”

“Memangnya kenapa? Tidak boleh?”

“Cish. Dasar aneh!”

“Ya! Kau tidak lihat aku bawa apa hah?”

Mataku beralih ke sebuah benda yang dipegang oleh Changmin. Kamera. Jadi dia kemari untuk memotret.

“Kau suka fotografi?”

“Yup. Saat ini aku sedang cari objek bagus…”

“Oh.. ya sudah. Silahkan cari objekmu. Aku mau melihat-lihat karya lainnya..”

Aku berjalan menuju patung lainnya. Tapi entah kenapa setiap aku pindah, Changmin terus ada disekitarku. Aish. Pria ini sebenarnya mau apa? Dulu bukannya dia bilang tak mau melihatku lagi. Kenapa jadi sengaja berada disekitarku?

“Ya! Kenapa kau dari tadi berada didekatku terus?”

“Cish. Siapa yang mau dekat denganmu. Kebetulan saja, aku melihat objek yang bagus. jangan GR!”

Aku menatap Changmin tajam. Dia mengganggu!

“SPLAS”

Tiba-tiba Changmin memotretku dengan kameranya. “Haha.. kau lucu dengan ekspresi seperti itu!” Ucapnya. Apa-apaan dia ini. Bertindak sesukanya! “Ya! Hapus!” Bentakku. Dia malah tertawa kegirangan sambil melihat kameranya itu. Akh, Changmin menyebalkan!!!

Aku pergi menuju keluar aula pamera. Aku melangkah secepat mungkin agar bisa menghindar dari Changmin.

“Hoi! Mau kemana?”

“Istirahat!”

“Istirahat dimana?”

“Dimana saja!”

“Aku ikut!”

Aku menghentikan langkahku lalu menoleh kearah Changmin.

“Kau ini kenapa? Bukannya dulu kau pernah bilang tidak mau bertemu denganku lagi! Kenapa sekarang malah mengikutiku?”

“Aku berubah pikiran”.

“Apa?”

“Aku tidak mau lagi menghindari..”

“Kenapa? Apa perasaanmu yang dulu itu sudah kau bereskan?”

“Hemm.. tidak tau!”

“YA!! Kau..!”

“Sudahlah. Ayo istirahat disana!” Changmin menunjuk sebuah kursi panjang yang berada disudut ruangan. Terpaksa aku mengikutinya, Karena aku pun sudah capek. Kakiku pegal karena berkeliling lama. Begitu duduk, Changmin mengeluarkan sebotol minuman dan kotak makanan yang dulu pernah kulihat. Ternyata dia masih anti dengan makanan luar.

Changmin membuka kotak makanannya. Ada dua roti sandwich didalamnya. Seketika aku menelan ludah. Sepertinya enak. Haish, tau begini aku juga membawa bekal makanan. “Kau mau?” tanya Changmin. Mataku langsung berbinar menatap makanan itu. “Boleh?” Tanyaku. Changmin mengangkat kedua alisnya. Pertanda mengiyakan. Akhirnya, kami makan siang bersama.

Akh.. kenyang. Sandwich milik Changmin kuakui memang enak!

“Terimakasih..” Ucapku pada Changmin. Dia hanya tersenyum simpul. Senyum khas yang biasa dia perlihatkan.

“Kau mau lanjut berkeliling lagi?”
“Iya..”

Aku dan Changmin kembali lagi memasuki aula dan berkeliling melihat pameran. Aku sibuk memperhatikan tiap patung, sementara Changmin memotret beberapa objek foto yang diincarnya. Aku tidak mengerti objeknya seperti apa. Tapi yang kulihat sepertinya dia lebih memotret orang yang sedang melihat karya seni dibanding karya seni itu sendiri.

Tanpa terasa hari sudah sore. Aku rasa cukup untuk hari ini. Pameran sebentar lagi juga mau ditutup. Aku segera bersiap pulang. Kulihat Changmin juga mau pulang.

“Kau mau pulang sekarang?” Tanyanya.

“Hemm..”

“Naik apa?”

“Bis”.

“Tidak dijemput suamimu?”

“Tidak..”

Aku melangkah menuju halte bus. Ternyata Changmin masih mengikutiku. Entah dia pulang naik bis juga, atau hanya sekedar mengikuti aku.

“SPLASH!”

Lagi-lagi dia memotretku.

“YA! Jangan sembarangan memotret orang!” Aku mencoba menggapai kamera Changmin yang diangkatnya tinggi-tinggi. Changmin tertawa lagi. Aish, Kenapa dia senang sekali mengusiliku?!

“TIN.. TIN.. TTIIIIIIIIINNNNNN!!!!!”

Tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara klakson mobil. Aku segera menoleh ke sumber suara. Mobil sedan merek BMW berwarna silver yang sangat familiar bagiku berhenti tidak jauh dariku dan Changmin berdiri. Tak lama pemilik mobil itu keluar dan mendatangiku dengan tatapan matanya yang tajam.

“O,oppa… kenapa bisa ada disini?”

“Ini yang kau bilang jalan sendirian?”

“Oppa, aku bisa jelaskan..Akh!”

Aku belum selesai bicara, Kyuhyun sudah mencengkram tanganku kuat lalu menarikku kasar. “HEI!” Changmin menahan tanganku yang satunya lagi. Posisiku sekarang benar-benar di antara dua pria.

“Jangan bersikap kasar padanya!!” ucap Changmin.

“Bukan urusanmu! Lepaskan tangan istriku!” Bentak Kyuhyun.

Ya, Tuhan.. Bagaimana ini? Kenapa keadaannya jadi begini??

 

__TBC__

 

Sekian dulu. sy sdh hbs ide… hehehe.. nantikan terus cerita selanjutnya ya..

maaf kalau banyak kesalahn penulisan. ini ngerjainnya lagi-lagi tengah malam. hehehe..

LOVE (Part 8)

LOVE (Part 8)

 

Judul: LOVE

Author:  Likyuyoung

Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun,

Genre : Romance

Rating: PG+16

 

Halo! Halo! apa kabar semua? Sy harap baik. Sy kembali dgn FF part terbaru, Maaf sy baru bisa post sekarang… Oh ya. sy mau menanggapi beberapa saran dari para reader. Ada yg menyinggung soal FF NC. Hemmm.. sy belum yakin FF ini apa akan ada NCnya.. Karena sy pribadi blm pernah buat FF NC. (Author masih polos gitu.. hehehe). Tapi.. karena FF ini jalan ceritanya bertema dewasa.. ya, pasti akan ada adegan mesra gitu.. Sy ga berani bilang IYA atau TIDAK. Tolong ditunggu saja ya. Siapa tau saya dapat ilham terus bisa bikin NC.. wkwkwkwkw…

Ok lah. This is it.. Happy Reading…

 

Home, Pukul 5.30 pagi~~

Sooyoung POV

 

Aku membuka mata perlahan. Kuedarkan pandanganku, mencoba mengenali benda-benda yang tidak familiar bagiku. Ini bukan kamarku. Ah, ini kamar Kyuhyun. Aku ingat sekarang. Kualihkan pandanganku, dan menangkap sosok pria tampan yang sedang tidur di sampingku. Suamiku. Kyuhyun. Setelah beberapa lama kami tinggal serumah, akhirnya kini kami tidur sekamar.

Aku bangkit dari tempat tidur perlahan agar tidak membangunkan Kyuhyun. Aku bejalan keluar kamar dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tak butuh waktu lama sarapan sudah siap dan telah tersaji di meja makan.

“CKLEK”

Kyuhyun datang dengan pakaian kerjanya yang rapi. Aku tersenyum menyambutnya. Kami langsung duduk dan sarapan.

“Kamu ada kuliah hari ini?”

“Tidak ada oppa..”

“Hem..Kamu sudah semester akhir kan. Butuh berapa lama untuk bisa lulus?”

“Emm.. mungkin setengah tahun lagi. Kalau dihitung, mata kuliah yang kuambil sudah mencukupi untuk aku bisa melakukan penelitian Skripsi. Tapi, tumben oppa menyinggung soal kuliahku. Ada apa oppa?”

“Ah, tidak. Aku cuma tanya saja”.

“Ohh..”

Kyuhyun melanjutkan sarapannya lagi. Aneh. Kenapa dia jadi tanya-tanya soal kuliah?

Tak lama kami sudah selesai sarapan. Aku mengatar Kyuhyun sampai didepan pintu utama. Ini pertama kalinya aku mengantar Kyuhyun sampai depan pintu, selayaknya seorang istri. “Hati-hati oppa”. Ucapku. Dia tersenyum lembut, lalu melangkah pergi. Tapi, baru beberapa langkah, Kyuhyun berbalik lagi dan mendatangiku. Aku menatapnya heran.

“Ada apa oppa?”

“Ada yang ketinggalan..”

“Apa?”

“Ini..”

“CHUP”

Aku terbelalak, kaget. Kyuhyun mencium keningku lembut. “itu yang ketinggalan..” Ucapnya. DEG, DEG, DEG. Lagi-lagi dia membuat jantungku berdetak kencang. “Aku berangkat ya..”Lanjutnya. Aku mengangguk malu.

____

 

Kyuhyun POV.

Aku membuka mata dan langsung menoleh ke samping. Sooyoung tidak ada. Pasti dia sudah bangun. Aku bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Otakku kembali memutar kejadian tadi malam. Aku mencium Sooyoung dengan paksa. Bahkan aku larut dan hampir menyerangnya (?). Kurasa naluriku sebagai seorang pria dewasa mulai muncul. Akh. Kenapa harus sekarang? Sooyoung dan aku baru memulai hubungan serius, jadi mana mungkin tiba-tiba kami melakukannya. Apalagi dia masih kuliah. Tapi.. kami tidak mungkin hanya seperti ini terus ‘kan? Hal “itu” pasti akan terjadi. Haahh.. tahan! Aku harus bisa mengendalikan diri. Perjalanan kami masih panjang. Masih butuh proses.

Aku keluar dari kamar dan berjalan ke dapur. Aku melihat Sooyoung sudah menyiapkan sarapan. Dia tersenyum melihatku. Tanpa bicara, kami langsung sarapan bersama.

“Kamu ada kuliah hari ini?” Tanyaku membuka perbincangan.

“Tidak ada oppa..”

“Hem..Kamu sudah semester akhir kan. Butuh berapa lama untuk bisa lulus?”

“Emm.. mungkin setengah tahun lagi. Kalau dihitung, mata kuliah yang kuambil sudah mencukupi untuk aku bisa melakukan penelitian Skripsi…”

Ternyata masih setengah tahun lagi. Berarti aku harus menunggu sampai setengah tahun lagi. Lama sekali. Apa aku sanggup menahan godaan itu. Saat ini mungkin masih bisa. Tapi makin lama, kami pasti semakin dekat. Aku tidak jamin bisa menahannya. Tidak! Kendalikan dirimu Kyuhyun!

“Tapi, tumben oppa menyinggung soal kuliahku. Ada apa oppa?” lanjut Sooyoung.

“Ah, tidak. Aku cuma tanya saja”.

“Ohh..”

Setelah sarapan selesai, aku bersiap berangkat kerja. Tidak biasanya Sooyoung mengantarku sampai ke pintu depan. Itu membuatku senang. Dia mulai perhatian. “Hati-hati oppa” Ucapnya dan kubalas dengan senyuman. Tapi baru beberapa langkah aku baru teringat sesuatu. Aku kembali mendatangi Sooyoung.

“CHUP”

Kucium kening Sooyoung lembut. Dia terlihat kaget. “itu yang ketinggalan..” Ucapku. Pipinya yang tembem itu seketika memerah. Manis sekali. “Aku berangkat ya..” Lanjutku. Sooyoung mengangguk pelan. Dia tak berani menatap mataku. Pasti karena malu.

Setelah berpamitan, aku langsung berangkat menuju kantor. Tapi, sial! Jalanan macet. Padahal ini masih pagi. Ini lah yang aku tidak suka dengan kota ini. Macet!

“Drrr.. Drr..”

Tiba-tiba handphone-ku bergetar. Ada telpon masuk. Kulihat dilayar, tak ada nama muncul. Ini nomor siapa?

“Halo”.

Halo pria baik!”

“Siapa ini?”

“Ck, ck, ck.. Secepat itu kah kau lupa padaku. Padahal kemarin aku baru mengunjungimu”.

“Victoria? Maaf.. Ada apa pagi-pagi begini kau menelpon?”

Aku mau menagih janji!

“Janji? Janji apa?”

Makan bersama! Apa kau lupa?!

“Ohh.. iya. Kapan kau mau makan bersama?”

Tentunya hari ini. Aku sudah memesan tempat di Perfecto Restaurant (Author asal nyebut). Kau tau kan?

“Baiklah. Baiklah… Jam berapa?”

Jam 7. Malam ini. Ok! Oh ya, bawa istrimu ya. Aku ingin melihatnya!”.

“Ok. Sampai ketemu!”

“KLIK”

Dasar! Dia tidak berubah. Dari dulu sampai sekarang tetap saja berlaku sesukanya. Dia meminta untuk membawa Sooyoung. Apa Sooyoung mau? Dari bicaranya semalam, dia tampak tidak suka dengan Victoria.

____

 

Author POV

Home, Pukul 17.10 Sore~~

 

Sooyoung sedang duduk santai di sofa  sambil menonton televisi. Semua pekerjaan rumah sudah selesai dia kerjakan dan hanya tinggal menunggu kedatang Kyuhyun saja.

“CKLEK”

Suara pintu terbuka. Kyuhyun sudah pulang. Sooyoung segera mengalihkan pandanganya dari televisi. “Oppa…”. Kyuhyun tersenyum simpul, lalu duduk di samping Sooyoung.

“Capek?” Tanya Sooyoung.

“Sedikit…”

“Mau makan?”

“Tidak. Nanti saja. Kita makan di luar saja.. mau?”

“Di mana?”

“Temanku.. Em.. Dia mengajak makan malam bersama..?”

“Teman? teman kantor? Apa tidak apa aku ikut?”

“Em.. Kebetulan dia menyuruhku membawamu. Katanya dia ingin melihatmu..”

“Eh? Kenapa dia ingin melihatku? Teman oppa itu siapa sih? Apa Donghae?”

“Bukan”.

“Lalu?”

Kyuhyun diam sebentar dan tampak berfikir. Dia ragu untuk menyebut nama “Victoria”.

“Emm.. Victoria.”

“Apa?”

“Tidak mau?”

“Bukan begitu.. Tapi..”

“Ayolah.. sudah kukatakan padamu, dia wanita yang baik.. Dia tidak ada maksud jahat atau semacamnya..”

Sooyoung mengerutkan dahinya dan sedikit mengerucutkan bibirnya. “Baiklah..” Sooyoung menjawab dengan terpaksa. Kyuhyun tampak lega. “Baguslah.. Sekarang aku mau mandi.. kau juga siap-siap ya..” Ucapnya. Kyuhyun beranjak dari sofa dan masuk ke kamarnya, sementara  Sooyoung mengikutnya dengan malas.

Beberapa menit berlalu, Sooyoung dan Kyuhyun sudah siap berangkat. Tidak seperti biasanya, kali ini Sooyoung tampil lebih anggun dengan dress selutut berwarna ungu muda ditambah dengan tatanan rambutnya yang dibentuk bergelombang. Kyuhyun tertegun menatap Sooyoung.

“Ada oppa? Apa aku terlihat aneh?”

“Tidak. Tentu tidak. Cantik. Kamu cantik..”

Sooyoung tersenyum malu.

“Ayo berangkat” Ucap Kyuhyun.

Mereka berdua pun berangkat menuju restaurant yang sudah dijanjikan. Setibanya di sana, Kyuhyun dan Sooyoung disambut oleh pelayan. Pelayan itu lalu mengantar mereka menuju tempat di mana Victoria sudah menunggu.

Dari kejauhan Sooyoung melihat sesosok wanita berambut pirang terang sedang duduk dengan anggunnya. Sooyoung berapakali menarik nafas dan menghebuskannya untuk mengurangi rasa tegangnya. Kyuhyun yang melihat hal itu, hanya tersenyum.

“Kyuhyun!” Panggil Victoria yang sudah berdiri menyambutnya. Kyuhyun pun mendatangi Victoria dan diikuti oleh Sooyoung dibelakangnnya.

“lihat, aku menepati janjiku kan?!” Ucap Kyuhyun bercanda.

“Haha.. ya ya.. Terima kasih kau sudah datang”.

“Oh ya. Ini istriku Sooyoung…”

Sooyoung tersenyum, lalu menundukan kepala.

“Perkenalkan. Aku Choi Sooyoung..”

“Choi? Bukankah seharusnya Cho?”

“Oh. Iya. Maaf. Maksudku Cho Sooyoung..”

“Hahahaha.. Kau ini lugu sekali!”

Victoria tampak senang mengerjai Sooyoung. Kyuhyun pun tanpa sadar ikut tertawa. Sooyoung yang melihat hal itu tampak kecewa. “Kenapa Kyuhyun malah ikut tertawa sih?!” Batin Sooyoung.

“Hoi Victoria!!” Panggil seseorang tiba-tiba, dan membuat ketiga orang yang baru beberapa menit bertemu itu menoleh. Seorang pria tinggi, tampan dan tampak berkelas berdiri dihadapan mereka. Pria yang sangat familiar bagi Sooyoung. “Oh, Changmin!” Ucap Victoria. Sooyoung membelalakan matanya tak percaya.

“Kyuhyun, Sooyoung.. Kenalkan. Ini sepupuku. Changmin..” Lanjut Victoria.

Sooyoung mengalihkan pandangannya pada Kyuhyun. Raut wajah suaminya itu sudah berubah 180 derajat. Matanya tajam menatap Changmin. Begitu pula Changmin.

“Ck, kenapa harus bertemu disini”. Ucap Changmin dengan nada menyindir.

“Loh, memang kau sudah kenal?” Tanya Victoria pada Changmin.

“Tentu saja kenal. Aku dan Sooyoung ‘kan satu kampus”. Jawab Changmin.

“Benarkah? Wah. Kebetulan sekali. Ternyata kalian berteman”.

Sooyoung memaksa untuk tersenyum. Sementara Kyuhyun hanya diam.

“Baiklah. Kalau sudah saling kenal. Sekarang ayo kita duduk, dan pesan sesuatu”. Ajak Victoria.

Sooyoung duduk berhadapan dengan Changmin, dan Kyuhyun berhadapan dengan Victoria. Setelah memesan makanan, Victoria memulai pembicaraan dan ditanggapi oleh Kyuhyun. Keduanya tampak akrab. Victoria terus membahas masa lalu mereka bahkan saat makanan telah disajikan dihadapannya. Itu membuat Sooyoung mulai tidak suka. Cerita itu membuat makanan yang disantapnya terasa hambar.

“Maaf, aku mau ke toilet sebentar…” Ucap Sooyoung tiba-tiba.

Seketika Kyuhyun memalingkan pandangannya pada Sooyoung. Dilhatnya Sooyoung tampak lesu.

“Mau aku temani?” Tanya Kyuhyun.

“Tidak usah..” Jawab Sooyoung seraya berdiri lalu berjalan menuju toilet.

“Aku juga mau ke toilet..” Ucap Changmin.

Alis Victoria mulai menaut. Dia mulai merasa ada yang aneh.

“Kenapa kau juga mau ke toilet?” Tanya Victoria.

“Apa tidak boleh?”

“Ah, terserah kau lah”.

Changmin mendengus dan sekilas menatap Kyuhyun. Kyuhyun membalas tatapan itu dengan tajam.

_____

 

Sooyoung POV

Aku segera masuk ke toilet. Menatap pantulan diriku didepan cermin toilet yang selebar dinding. Aku tampak konyol. Baju ini. Dandanan ini. Di sini aku cuma jadi penonton keakraban Kyuhyun dengan wanita itu. Ditambah lagi, kehadiran Changmin yang membuatku tak bisa berbuat apa-apa.

Tenang Sooyoung. Kau harus tenang. Di saat seperti ini, kau harus bisa bersikap dewasa. Tunjukan kalau kau itu istri yang pengertian dan pantas untuk Kyuhyun.

Aku menarik nafas panjang, lalu mencuci tanganku yang sebenarnya tidak kotor. Setelah mengeringkannya, aku keluar dari toilet.

“Hoi!” Sapa seseorang. Aku pun menoleh ke sumber suara. Ternyata itu Changmin. Dia lagi.

“Bukannya dulu kau bilang tak mau lagi melihatku. Kenapa kau malah mendatangiku ke sini?”

“Ck.Ck.Ck..  Sebenarnya aku juga tidak mau. Tapi, kali ini.. apa boleh buat..”

“Cish.. dasar aneh!”

“Coba lihat wajahmu itu. jelek sekali!”

“Apa? YA!”

“Ck.ck.ck…”

“Sudah. Jangan ganggu aku. Saat ini aku sedang tidak mood”.

“Kenapa? Apa karena suamimu itu?”

Aku diam. Untuk kesekian kalinya aku menghela nafas. Tiba-tiba kurasakan pipiku disentuh. Changmin menyentuh pipiku lembut. Aku menatapnya heran.

“Kenapa?” Tanyaku.

“Kau tampak menyedihkan…” Jawabnya.

Tapi nada suaranya tidak ketus seperti biasanya. Kurasakan tangannya hangat dan entah kenapa aku jadi merasa lebih tenang. Tiba-tiba seseorang menepis tangan Changmin dari pipiku. Kyuhyun? Sejak kapan dia ada disini?

“Sedang apa kalian?”

“Oppa, Kami hanya…”

“Kita pulang!” Ucapnya dingin.

Kyuhyun menarik tanganku dan membawaku keluar dari restaurant. Victoria yang melihat kami tampak terkejut. Dia mengikuti kami sampai diluar restaurant.

“Kyuhyun… Sooyoung.. Ada apa? Kenapa kalian ke laur?”

“Maaf Victoria. Lain kali kita bertemu lagi. Kami mau pulang..”Jawab Kyuhyun.

“Loh. Kenapa? Apa ada masalah?”

“Ya.. makanya kami harus segera pulang”.

Victoria memandang kami heran. Matanya terus memandangi tangan Kyuhyun yang menggengam kuat tanganku. Tak lama mobil kami datang. Seorang pelayan restaurant keluar dan menyerahkan kunci mobil pada Kyuhyun.

“Ini Tuan..”

“Terimakasih”.

Kyuhyun melepaskan genggamannya dan langsung masuk ke dalam mobil. Aku pun mengikuti. Karena terlalu takut aku sampai lupa Victoria masih berdiri di sana. Aish dan melihat kami.

Setibanya di rumah Kyuhyun langsung masuk ke kamarnya tanpa bicara apa-apa. Saat diperjalan tadi juga begitu. Kali ini dia pasti marah sekali. Hah.. keadaan ini terulang lagi.

Aku masuk ke kamarku dan mengganti baju, lalu  keluar lagi untuk melihat Kyuhyun. Kudengar suara televisi di ruang tengah menyala. Benar saja. Kyuhyun sedang menonton. Ah tidak. Bukan menonton. Lebih tepatnya menatap televisi.

“Oppa…”Panggilku. Tapi dia diam saja dan tidak menggubrisku. Aku berjalan kearahnya lalu duduk si sampingnya. Dia tetap tidak diam membisu. “Oppa…” Panggilku lagi tapi dia masih bersikap sama. Kuambil remote dan kumatikan televisi yang sejak tadi terus dipandanginya.

“Kita bicara dulu oppa..”

“Saat ini aku sedang malas bicara…”

“Bukannya kemarin oppa bilang kalau ada masalah harus dibicarakan.. Kenapa sekarang oppa begini?”

Kyuhyun terdiam dan mengela nafas panjang.

“Baiklah.. sekarang bicaralah.” Ucap Kyuhyun datar.

“Soal yang terjadi di restaurant.. Aku dan Changmin tidak melakukan apa-apa”.

“Tidak melakukan apa? Aku melihat sendiri dia menyentuh pipimu. Jelas sekali terlihat dia suka padamu.. Kau pun tidak menolak saat dia melakukannya kan!”

Changmin. Untuk kesekian kalinya dia marah karena Changmin. Pria itu sudah seperti musuh bagi Kyuhyun rupanya. Tapi aku harus menjelaskan seperti apalagi kalau di antara aku dan Changmin tidak ada apa-apa.

“Oppa egois! kekanak-kanakan!”

“Apa? Aku egois? Kekanak-kanakan?”

“Benar! Kalau aku bersama Changmin, oppa selalu marah dan tak mau bicara padaku. Tapi oppa sendiri bersama Victoria!”

“Bersama Victoria? Kau ‘kan sudah ikut bersamaku. Kau lihat sendiri aku hanya ngobrol biasa dengannya!”

Aku menatap Kyuhyun tajam. Kenapa dia malah membela wanita itu.

“Aku memang bersama oppa, tapi oppa sama sekali tidak menghiraukanku. Selama di restaurant, oppa cuma asik bicara dengan Victoria. Sedangkan aku! Aku cuma penonton. Aku jadi terlihat konyol, oppa tau tidak?!”.

Kyuhyun tampak terkejut mendengar ucapanku yang bernada tinggi. Aku kesal. Suamiku malah membela wanita lain dibanding diriku.

“Jadi, saat itu kau cemburu?” Tanya Kyuhyun.

“……”

“Kau marah? Tanyanya lagi”

Aku hanya menatap Kyuhyun tajam. Sudah jelas terlihat kalau aku marah. Tidak perlu kujelaskan bukan?

“Kau tidak suka aku bersama Victoria?”

“Hem..” Jawabku singkat.

Suasana menjadi hening dan kami hanya saling bertatapan dalam diam. Jarak kami sangat dekat, bahkan aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Kyuhyun menyentuh pipiku  dan mulai mendekatkan wajahnya.

“CHUP”

Diciumnya bibirku dengan lembut. Tapi aku tidak membalasnya. Aku hanya diam dan mengatupkan bibiku rapat-rapat. Kyuhyun berhenti dan menatap mataku lekat-lekat. “Aku senang kalau kau cemburu..” Ucapnya lalu memciumku lagi. Kali ini dia meraih pinggangku dan menarikku semakin erat dengannya. Rasa amarah yang tadinya menguasaiku lama kelamaan mulai sirna. Perlakuannya yang lembut membuatku terhanyut.

Ciuman kami semakin lama semakin dalam dan intens. Kurasakan rasa panas di tubuhku. Entah apa. Tapi ini membuatku tak bisa berfikir. Kyuhyun mulai bergerak. Pelahan dia merebahkanku dan menidihku tanpa melepaskan ciumannya. Ciumannya semakin panas sampai membuatku sulit bernafas. Tapi anehnya, aku tak ingin berhenti. “Mmmpphh…” Desahku disela-sela ciuman kami.

Tangan Kyuhyun yang sedari tadi mengusap punggungku, kini mulai menyusup kedalam bajuku. Bisa kurasakan tangannya yang hangat menelusuri tubuhku. Mulai dari punggung, lalu ke perut, dan naik ke dadaku.

Dadaku? Tunggu! Apa ini akan berlanjut ke hubungan suami istri? Tidak! Aku belum siap!

Aku mendorong Kyuhyun sekuat yang aku mampu. Dia tampak terkejut. Dia menatapku dengan nafas menderu. Aku mencoba menyadarkan kembali diriku. “Aku belum siap untuk ini oppa..” Ucapku. Kyuhyun tertegun. Perlahan dia bangkit dari atas tubuhku. Aku pun begitu. Kurapikan baju dan rambutku yang berantakan.

“Maaf Sooyoung.. Aku tidak bisa mengendalikan diri..” Ucap Kyuhyun. Dia memalingkan wajahnya dariku.

“Tidak oppa.. oppa tidak perlu minta maaf dan merasa bersalah. Aku tidak keberatan oppa melakukannya..” Ucapku sambil merangkul tangannya.

“Kau tidak keberatan?”Tanya dengan alisnya yang terangkat. Aku mengangguk.

“Hem. Hanya saja… aku belum siap jika melakukan ‘itu’ saat ini”.

“Aku bisa mengerti. Kita jalani saja dulu hubungan kita ini…” Ucapnya tertunduk. bibirnya tersenyum simpul. Dalam beberapa detik suasana hening muncul di antara kami. Aku menatap Kyuhyun lekat. Tergurat garis kekecewaan diwajahnya.

“Oppa”.

“Hem?” Kyuhyun menoleh ke arahku.

“CHUP”

Aku mencium bibirnya lembut. Entah dari mana datangnya keberanianku. Tapi aku tidak ingin dia kecewa. Aku ingin dia percaya padaku, dan menungguku sebentar lagi.

Aku menyetuh wajahnya dengan kedua tanganku dan membuat kami saling beradu pandang.

“Oppa tau tidak.. Semenjak oppa mengatakan suka padaku dan mulai berubah sikap. Oppa membuat hatiku ini seperti diaduk-aduk. Oppa perhatian, oppa cemburu, oppa khawatir, oppa marah. Oppa memelukku, menciumku… Semua itu membuat hati kacau. Dan…. itu menyadarkanku pada satu hal”.

“Apa?”

“….”. Aku diam sebentar.

“Apa?” Tanya Kyuhyun lagi.

“Aku.. sayang padamu, oppa..” Ucapku lembut.

“C,coba ulangi lagi. Tadi kau bilang apa?”

…. Aku sayang kamu, oppa… sayang sekali… Jadi, tunggulah aku. Sabarlah menungguku sebentar lagi…”.

 

___TBC___

 

Bagaimana? Haahh.. saya sedikit pesimis dengan FF kali ini. Tapi sy tetap berharap kalian suka. Maaf kalau ada salah penulisan…. maklum buru-buru. Tolong berikan saran dan kritik yang membangun ya… dan tetap tunggu cerita selanjutnya!

LOVE (Part 7)

LOVE (Part 7)

Judul: LOVE

Author:  Likyuyoung

Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun,

Genre : Romance

Rating: PG+16

Halo! Masih ingat kah pada saya dan FF saya ini? saya harap masih.. Apa kalian menunggu kelanjutan ceritanya? Saya harap masih… hiks hiks.. (T_T). Maaf kalau baru saya post. Saya baru ada kesempatan sekarang. So.. This is it.

Happy Reading!!!!

“Ceraikan suamimu!”

_____

Sooyoung POV

Apa katanya? Cerai? Dia menyuruhku bercerai dengan Kyuhyun? Apa haknya?

“Ya, Changmin! Apa kau gila?”

“Aku serius. Ceraikan suamimu. Kau untukku saja”.

“PLETTAAAKKK!!!!”

Tanganku sukses memukul kepala Changmin. Dia meringis kesakitan. Rasakan! Bodoh! Pria bodoh! Dia bilang aku untuknya saja? Apa dia pikir aku barang?

“Ya! Apa yang kau lakukan! Sakit tau!”

“Rasakan! Enak saja menyuruhku bercerai. Apa hakmu bicara begitu?!”.

Aku berjalan pergi meninggalkan Changmin. Biar saja dia kesakitan. Ku harap dia jera. Tapi tiba-tiba tangan kananku ditarik.

“Aku belum selesai bicara”. Ucap Changmin.

“Apa lagi?”

“Aku suka padamu”.

“Maaf, aku tidak bisa membalasnya. Carilah wanita lain!”.

“Aku tidak mau wanita lain!”

“Ya! Kau ini kenapa Changmin?!”

“Sudah kukatakan, aku suka kamu. Aku mau kamu yang ada disisiku!”

Aku diam dan menatap Changmin dalam. “Haaahhh…” Aku menghela nafas panjang. Berusaha untuk tetap tenang menghadapi pria egois yang ada dihadapanku ini. Rasanya percuma jika menghadapinya dengan sikap  keras.

“Changmin-ssi…” Ucapku pelan. Dia menatapku heran. Sepertinya dia kaget aku tiba-tiba memanggilnya dengan panggilan yang lebih sopan. Selama ini aku hanya memanggil namanya saja.

“Aku minta maaf. Ini salahku karena tidak mengungkapkan soal pernikahaan sejak awal. Kupikir cepat atau lambat berita tentang pernikahaanku akan tersebar, makanya aku tidak mengatakannya secara langsung. Aku tidak pernah menyangka akan ada kejadian seperti ini. Jadi, maafkan aku”. Ujarku.

Changmin diam. Perlahan dia melepaskan genggamannya.

“Maaf….”. Lanjutku lagi.

Changmin berbalik membelakangiku.

“Cincin itu.. Cincin pernikahaanmu?” Tanyanya. Ternyata dia memperhatikan cincin yang ada di jariku.

“Ya”. Jawabku.

“Kenapa baru kau pakai sekarang?”. Tanya Changmin lagi.

“Hmm.. Kupikir memang seharusnya kupakai. Supaya tidak ada lagi yang salah paham”.

“Cish.. Apa kau menyindirku?!”

“Maaf. Heemmm.. Changmin-ssi. Sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak bisa menerima perasaanmu. Pasti ada gadis lain yang akan menyukaimu..”

“Sudah, cukup minta maafnya. Kau tampak bodoh kalau terus meminta maaf begitu!”

“Apa?! YA!! Seenaknya saja mengatai aku bodoh!”

Kuangkat tanganku hendak memukul Changmin lagi. Tapi dia lebih dulu menangkis.

“Sebaiknya kau jangan muncul di hadapanku lagi”.Ucapnya tiba-tiba.

“Maksudmu?”

“Kalau aku melihatmu terus. Aku akan sulit menata hatiku ini!”

“Cish.. Bukannya kau yang terus mendatangiku!”

“Terserah! Yang penting jangan muncul!”

“Ya. Ya.. Aku mengerti. Kalau aku tidak sengaja melihatmu. Aku akan pergi menjauh, sejauh-jauhnya. Puas?!”

Changmin mendengus. Lalu pergi meninggalkanku. Hah.. Akhirnya aku bisa lega. Masalahku dengannya selesai juga. Sekarang aku bisa kuliah dengan tenang.

Aku kembali ke kelas. Tapi pelajaran sudah berlangsung hampir satu jam. Dosen tidak akan mengizinkanku masuk. Ya, sudahlah… Mau bagaimana lagi. Terpaksa aku absen. Tapi, ini masih pagi. Kalau pulang ke rumah sekarang terlalu cepat. Lebih baik, aku jalan-jalan dulu saja.

Aku berjalan keluar gerbang utama kampus lalu naik bus yang membawaku ke suatu tempat. Sepanjang perjalanan aku masih binggung mau ke mana. Sampai kuputuskan aku berhenti ditempat yang dikelilingi gedung pencakar langit. Kuedarkan pandangku. Menatap satu demi satu gedung bertingkat yang beraneka bentuk. Tatapanku berhenti disebuah gedung dengan dinding kaca. Itu kantor Kyuhyun. Ya, sejak dulu aku tidak pernah melihat kantornya. Aku jadi penasaran, kalau dia sedang bekerja seperti apa. Ah, Apa orang-orang kantor tau kalau dia sudah menikah?.

“Drrr..Drrr..”

Ada pesan masuk.

From: Yuri

Kau di mana? Apa kau baik-baik saja?”

Yuri? Tenyata dia mencemaskanku.

To: Yuri

Aku di jalan. Aku baik-baik saja. Tidak ucah cemas. ^^

Setelah membalas pesan dari Yuri, aku lanjut berjalan menuju kantor Kyuhyun. Kakiku berhenti tepat didepan pintu masuk gedung. Ini masih pagi. Kupikir pasti sulit untuk bertemu Kyuhyun sekarang. Kalau aku berkunjung ke ruangannya, pasti akan mengganggu pekerjaannya. Hmm… Sekedar melihat dia dari kejauhan saja lah.

Aku masuk ke dalam gedung, dan langsung disambut oleh security.

“Selamat pagi. Ada yang bisa dibantu nona?” Ucapnya ramah.

“Emm… saya mau bertemu Pak Cho Kyuhyun”.

“Apa anda sudah buat janji?”

“Emm.. Belum”.

“Oh, Maaf nona. Anda harus buat janji terlebih dahulu”.

“Apa tidak bisa masuk untuk melihat sebentar saja?”

“Maaf nona. Tidak bisa. Kantor kami tidak bisa menerima tamu sembarangan”.

“Tapi, saya keluarganya..”

“Maaf tidak bisa nona..”

Aish, Tidak bisa. Padahal aku cuma ingin melihat, ternyata peraturan diperusahaan ini sangat ketat. Aku berbalik lesu dan melangkah keluar. “Sooyoung-ssi..?”. Panggil seseorang. Reflek aku menoleh. Seorang pria tinggi dan tampan menatapku. “Siapa?” Tanyaku. Dia tersenyum simpul lalu mengulurkan tangannya.“Aku Donghae. Teman Kyuhyun. Apa kau ingat?. Kedua alisku bertaut. Aku mencoba mengingat pria yang ada dihadapanku ini. Donghae? Ah, dia yang pernah hadir dipernikahaanku dulu.

“Oh.. Ya. Saya ingat. Apa kabar Donghae-ssi?”

“Baik. Em, sedang apa kau disini? Apa mencari Kyuhyun?”

“Ya.. Tapi saya tidak bisa masuk. Saya belum buat janji..”

“Oh.. Ya sudah. Ayo ikut aku, akan kuantarkan ke ruangannya”.

“Apa bisa? Apa tidak menggangu..?”

“Hahaha.. Tenang saja. Hari ini dia tidak ada rapat penting. Pasti sekarang dia sedang duduk tenang diruangannya. Ayo!”

Aku menundukan kepala. Berterima kasih padanya. Donghae bicara dengan pihak security beberapa saat. Wajah security itu tampak terkejut sambil melihat ke arahku beberapa kali. Mungkin Donghae menceritakan kalau aku ini istri Kyuhyun. Tak lama Donghae mendatangiku lalu kami berjalan bersama menuju ruangan Kyuhyun. Gedung ini memang sangat luas dan megah. Pasti karyawan yang bekerja di sini betah.

“Krringgg.. Krringggg… Krrinnngg…”

Tiba-tiba handphone Donghae berbunyi. Segera diangkatnya. “Halo. Oh Pak Lee…. Sebentar pak”. Donghae tidak menutup telpon itu. “Sooyoung-ssi. Maaf. Ini telpon penting. Kau bisa ke ruang Kyuhyun sendiri kan? Kau terus saja. Nanti ada ruangan. Dipintunya bertuliskan nama Kyuhyun. OK!” Lanjutnya lagi tapi dengan suara berbisik. Aku mengangguk paham. Aku berjalan terus dan menemukan ruangan dengan pintu yang bertuliskan “Manajer Keuangan. Cho Kyuhyun”. Aku ingin mengetuk pelan, lalu membuka pintu perlahan. Sayup kudengar seperti ada yang mengobrol di dalam. Suara Kyuhyun dan suara perempuan. Dari cara mereka bicara sepertinya sangat akrab.

Aku membuka pintu sedikit lebih lebar agar bisa melihat sosok wanita yang ada di dalam. Seorang wanita bertubuh tinggi langsing, berambut pirang yang tegerai panjang. Penampilannya sangat dewasa dan modis.  Siapa perempuan itu? Dia berdiri menghadap Kyuhyun. Jarak mereka sangat dekat. Apa mengobrol harus sedekat itu? Tidak bisakah mereka duduk dikursi masing-masing?

“Ck, baiklah.. Kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksa. Tapi sebagai gantinya kita harus makan bersama!” Ucap perempuan itu sambil menepuk bahu Kyuhyun. Kyuhyun hanya tersenyum.

“Ya. Baiklah. Nanti kau tentukan saja kapan dan di mana”.

“Hahaha… Itu baru pria baik!”

Perempuan itu menepuk-nepuk pipi Kyuhyun pelan lalu memeluknya. Kyuhyun pun membalas pelukan itu. Pemandangan itu sontak membuatku diam membatu. Aku segera berbalik dan pergi. Kaki terus melangkah seperti tak bisa kukendalikan. Aku terus berjalan sampai akhirnya keluar dari gedung itu.

Siapa perempuan itu? Kenapa mereka akrab sekali? Apa hubungannya dengan Kyuhyun?

_____

Kyuhyun POV.

Office~~

Hari ini pekerjaanku tidak banyak. Hanya memeriksa beberapa laporan, tanda tangan berkas sana dan sini.

“Tok. Tok”.

Seseorang mengetuk pintu ruanganku. “Silahkan masuk..” ucapku.

“Kyuhyun..” Seorang wanita dengan rambut pirang mencolok memanggilku seraya membuka pintu.

“Victoria?!” Aku terbelalak kaget. Dia teman lamaku. Selama ini dia tinggal di luar negeri untuk menjalankan bisnis keluarganya.

Aku berdiri untuk menyambutnya. “Bagaimana kabarmu?” Tanyaku. Dia tersenyum.”Beginilah. Bisa kau lihat. Aku makin cantikkan..”

“Hahaha.. Ya ya. Aku bisa lihat itu. Kapan kau tiba di Korea? Kenapa tidak mengabariku sebelumnya?”

“Kemarin. Maaf aku tidak sempat bilang. Maklum.. banyak pekerjaan. Sebenarnya aku ke Korea tidak lama. Perusahaan kami mau membuka cabang baru di Seoul. Jadi aku harus datang mengurusnya”.

“Wah, Kau sibuk sekali. Oh ya bagaimana kau bisa tau aku bekerja disini?”.

“Oh, gampang. Aku punya banyak link dimana-mana. Kau lupa aku ini sangat dikenal di Korea. Waktu aku masuk ke gedung ini saja, sekali aku menyebut namaku. Pihak security langsung tau dan mengizinkanku masuk.”

“Woah.. Kau luar biasa!”

“Oh, ya. Aku kesini ada perlu denganmu..”

“Eh, ada apa?”

“Aku menawarkan padamu untuk bergabung diperusahaanku. Bagaimana? Soal penghasilan tidak usah kau tanya. Pasti lebih dibanding disini. Bagaimana?”

“Apa? Kau ini kenapa tiba-tiba sekali”.

“Ayolah.. Kau pasti makin sukses jika bekerja di tempatku”.

“Maaf, aku tidak bisa”.

“Kenapa?”

“Kau tidak tau? Aku sudah menikah. Kalau aku bergabung dengan perusahaanmu. Otomatis aku akan pindah keluar negeri. Istriku bagaimana?”

“Aku tau itu. Kau ‘kan bisa bawa dia”.

“Tidak bisa. Dia masih kuliah. Dan aku jamin dia pasti tidak mau pindah jauh dari keluarganya”.

“Apa? Kuliah? Kau menikah dengan gadis muda?”

“Hei, jangan bilang begitu. Aku tidak mempermasalahkan umur”.

“Wah, dari cara bicaramu. Sepertinya kau sayang sekali pada istrimu itu”.

“Hemm.. Begitulah”.

“Ck, baiklah Kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksa. Tapi sebagai gantinya kita harus makan bersama!”

“Ya. Baiklah. Nanti kau tentukan saja kapan dan di mana”.

“Hahaha… Itu baru pria baik!”

Victoria menepuk pipiku pelan lalu memelukku. Ini memang kebiasaannya. Suka memeluk orang. Tidak peduli itu pria atau wanita. Sebenarnya dia wanita yang baik. Hanya gayanya saja yang terlalu berlebihan sehinggan banyak yang salah paham tentangnya.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Masih ada yang harus kuurus”. Ucapnya.

“Ok, nona sibuk!”

Victoria tersenyum lebar lalu melangkah pergi. Aku pun kembali duduk dikursiku lalu memeriksa berkas yang ada dimeja kerjaku kembali. “Kyuhyun!” Tiba-tiba Donghae membuka pintu. Lagi-lagi seperti itu.

“Apa kau tidak bisa mengetuk pintu dulu?”

“Haduh.. sudahlah. Eh, tadi itu Victoria ‘kan?”

“Iya. Kenapa?”

“Wah, sudah lama aku tidak melihatnya. Dia makin cantik. Oh ya. Untuk apa dia kemari?”

“Dia cuma menawarkan aku untuk bergabung dengan perusahaannya”.

“Apa? Wah, itu kesempatan emas. Kudengar perusahaannya sangat maju dan berkembang di luar negeri. Lalu, apa kau menerimanya?”

“Tentu tidak”.

“Kenapa?”

“Sooyoung mau di kemanakan?”

“Oh, iya. Dia masih kuliah ya.. hemmm.. oh, Sooyoung! Dia tadi datang. Apa kau bertemu dengannya?”

“Apa? Sooyoung? Untuk apa dia kesini? Aku tidak melihatnya”.

“Loh, Tadi dia datang. Katanya mau bertemu denganmu. Apa tadi dia tidak bisa menemukan ruanganmu ya?”

Sooyoung ke sini? Mencariku? Apa terjadi sesuatu? Aku mengambil ponselku yang ada dikantong celana, lalu menghubungi Sooyoung.

Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Silahkan tinggalkan pesan…

Handphone-nya tidak aktif. Tidak biasanya.

“Kenapa?” Tanya Donghae.

“Ponselnya tidak aktif”.

“Wah. Apa terjadi sesuatu?”

“Aku tidak tau”.

Kucoba lagi untuk menghubunginya. Tapi tetap saja, operator yang menjawab. Dia kenapa? Untuk apa dia mencariku ke kantor?

_____

Author POV

Home, pukul 19.00 malam hari~~

Kyuhyun mondar-mandir berkali-kali diruang tamu. Menunggu kedatangan Sooyoung dengan cemas. Seharian dia tidak bisa menghubungi istrinya itu. Ponselnya tetap tidak aktif. “Anak ini kemana sih? Sudah malam begini kenapa dia belum pulang?” Gumam Kyuhyun. Sebenarnya Kyuhyun ingin bertanya pada orang tua Sooyoung. Tapi dia takut, nanti malah membuat semua orang khawatir.

“CKLEK”

Sooyoung membuka pintu. Dengan tubuh lesu Sooyoung terus berjalan masuk tanpa menyadari keberadaan suaminya di sana. “Kau dari mana?” tanya Kyuhyun. Sooyoung terkejut dan langsung menoleh. Dilihatnya ekspresi Kyuhyun yang sangat serius.

“Oppa..”

“Aku tanya kau dari mana?”

Sooyoung diam. Dia kembali teringat dengan apa yang dilihatnya di kantor Kyuhyun tadi pagi. Hal itu membuatnya jadi malas bicara.

“Jalan-jalan…” Jawab Sooyoung.

“Jalan-jalan? Sampai jam segini? Apa kau tidak sadar ini sudah jam berapa?

“Aku tau… Maaf oppa. Aku mau mandi dulu..” Ucap Sooyoung lalu berjalan menuju kamarnya.

“Habis mandi, kita makan. Aku sudah beli makanan. Baru nanti kita bicara lagi..”Ucap Kyuhyun.

Tapi Sooyoung tidak merespon.

“BLAM”

Sooyoung menutup pintu kamarnya tepat di hadapan Kyuhyun. Kyuhyun menghela nafas panjang mencoba untuk sabar. Dia putuskan untuk menunggu Sooyoung di ruang makan, untuk makan bersama.

Berapa menit berlalu, Sooyoung keluar dari kamarnya. Sooyoung menatap Kyuhyun yang duduk diam menghadap meja makan. Sooyoung sadar suaminya itu menunggunya. Sooyoung menari kursi lalu duduk. Tanpa bicara apa pun Sooyoung langsung menyantap makanan yang sudah ada dihadapannya. Makanan itu sudah dingin, karena terlalu lama dibiarkan di atas meja. Kyuhyun pun tidak mengatakan apa-apa. Suasana begitu hening sampai detak jam dinding bisa terdengar di ruangan itu.

Setelah mereka selesai makan, Sooyoung langsung membereskan piring dan membawanya ketempat pencucian piring. Sooyoung terus diam sambil tangannya sibuk mencuci piring satu demi satu. Kyuhyun masih duduk dan menatap punggung Sooyoung tempatnya.

Sooyoung meletakan piring-piring yang sudah bersih ke rak, lalu berjalan menuju kamarnya.

“Kau mau kemana?” Tanya Kyuhyun dengan tatapan tajam.

“Istirahat..” Jawab Sooyoung.

“Kita bicara dulu. Baru istirahat”.

Sooyoung menghela nafas, lalu duduk kembali kekursi. Berhadapan dengan Kyuhyun.

“Sekarang katakan. Kau kemana saja?”

“Jalan-jalan..”

“Lalu kenapa ponselmu mati?”

“Habis baterai”. Jawab Sooyoung asal.

“Haahh… Apa tidak bisa mengabari dulu kalau kau mau pulang malam?”

“Maaf, aku terlalu asik. Jadi lupa”.

Pandangan Kyuhyun berubah heran. “Terlalu asik, jadi lupa? Tidak biasanya dia seperti itu” Batin Kyuhyun.

“Kata Donghae, kau datang ke kantor mencariku? Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa.. ”

“Sebenarnya kau ini kenapa? Dari tadi jawabanmu seperti asal-asalan. Kalau ada masalah, lebih baik bicarkan sekarang!”. Ucap Kyuhyun dengan nada kesal.

“Kenapa oppa jadi marah begitu?”

“Aku bukannya marah. Tapi aku khawatir. Kau pulang malam dan tidak bisa dihubungi. Kata Donghae kau datang mencariku. Tapi aku tidak ada melihatmu di kantor. Kau menghilang begitu saja seharian. Apa menurutmu aku bisa diam saja?!”

Sooyoung kehabisan kata-kata. Rasa penyesalan mulai muncul dihatinya. Tapi, semua itu terjadi karena Kyuhyun dan perempuan asing itu.

“Ya, sudah. Kalau kau mau keadaan kita terus seperti ini. Saling diam seperti dulu. Terserahmu saja!” Ucap Kyuhyun seraya bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya.

“BLAM”

Sooyoung terdiam. Kyuhyun meninggalkannya sendirian di ruangan itu. Hatinya seperti diiris karena ucapan Kyuhyun tadi. “Saling diam seperti dulu”. Jelas Sooyoung tidak menginginkan hal itu. Sudah banyak yang terjadi di antara mereka. Jika akhirnya harus kembali ke keadaan semula, akan sangat menyakitkan.

Sooyoung berpikir sejenak. Mencoba untuk introspeksi diri. Sikapnya memang kekanak-kanakan. Marah pada sesuatu yang belum jelas. Seharusnya dia bertanya dan mendengarkan penjelaskan Kyuhyun dulu. “Hahh..” Sooyung menarik nafas dalam lalu menghembuskannya panjang. Dia bangkit berdiri dan berjalan ke kamar suaminya.

“Tok.. Tok..”.

Sooyoung mengetuk pelan.

“CKLEK”

Kyuhyun membuka pintu. Ditatapnya Sooyoung yang berdiri dihadapanya.

“Perempuan itu siapa?” Tanya Sooyoung langsung. Kyuhyun mengerutkan dahi.

“Perempuan siapa?”

“Yang tadi ada di kantor. Yang rambutnya pirang.”

“Victoria maksudmu? Dia teman lamaku. Apa kau melihatnya?”

“Kalau teman, kenapa kalian mesra sekali?”

“Mesra? Mesra bagaimana?”

“Aku melihat oppa berpelukan dengannya”

Kyuhyun diam sejenak. Akhirnya dia mengerti kenapa Sooyoung bersikap aneh.

“Kau marah karena itu?”

Sooyoung hanya diam, dan terus menatap Kyuhyun.

“Dia, teman lamaku. Selama ini dia tinggal diluar negeri. Jadi wajar kalau sikapnya berani seperti itu. Tapi dia orang yang baik. Jadi jangan salah paham”.

“Hemm..”.

“Lalu, Kau jalan-jalan kemana?”

“Kemana-mana..”.

“Jalan dengan siapa?”

Sooyoung diam sebentar. Terlintas sebuah ide dipikirannya untuk mengerjai suaminya.

“Changmin”. Ucap Sooyoung lalu melangkah pergi.

“APA?!”

Kyuhyun segera menarik lengan Sooyoung, membuat Sooyoung berbalik menghadapnya.

“Apa? Tidak boleh? Oppa bisa pelukan dengan Victoria, kenapa aku tidak bisa jalan dengan Changmin?” Tanya Sooyoung iseng.

“CHUP”

Tiba-tiba Kyuhyun mencium Sooyoung. Awalnya sedikit kasar, namun lama kelamaan menjadi lembut. Sooyoung membalas ciuman suaminya itu dengan hati senang. Senang karena akhirnya dia tau Kyuhyun dan perempuan berambut pirang hanya berteman, dan senang karena reaksi Kyuhyun yang marah karena mendengar nama Changmin.

“Sebut lagi nama itu, tidak ada ampun!”. Ucap Kyuhyun.

“Changmin. Shim Changmin.. Hehe.”Jawab Sooyoung dengan cengiran.

“CHUP”

Kyuhyun kembali melumat bibir Sooyoung. Kali ini lebih dalam, sampai membuat Sooyoung kesulitan mengatur nafas. Kyuhyun mengangkat tubuh Sooyoung dan membawanya masuk ke kamarnya tanpa melepaskan ciumannya. Direbahkanya Sooyoung di atas tempat tidur, dan tetap mencium bibir istrinya itu.

“Mmmph.. Op, oppa…”

Sadar sikap Kyuhyun yang tampak serius, membuat Sooyoung mencoba untuk mendorong tubuh Kyuhyun yang berada di atasnya. Kyuhyun terus menciumnya tanpa jeda. Tubuhnya mengunci Sooyoung untuk bergerak.

“Mmphh..”

Sooyoung mulai panik. Tubuhnya meronta. “Bagaimana ini?” Batinnya. Sooyoung terus meronta sampai akhirnya Kyuhyun berhenti menciumnya. Kyuhyun menatapnya dalam. “Kau takut?” Tanya Kyuhyun pelan. Sooyung mengangguk.

“CHUP”

Kyuhyun mencium kening Sooyoung lembut. “Maaf, aku kelewatan”. Ucapnya lalu bangkit dari atas tubuh Sooyoung. Kyuhyun duduk ditepi tempat tidur, lalu Sooyoung mengikuti. Mereka duduk bersampingan.  Sooyoung menarik ujung lengan baju Kyuhyun.

“Apa?” tanya Kyuhyun.

“Marah?”

“Tidak…” jawab Kyuhyun sambil mengelus kepala Sooyoung lembut. Sooyoung menghela nafas lega.

“Maaf oppa. Aku tadi kaget. Jadi…”

“Tidak apa. Aku yang terhanyut dengan keadaan..”

“Hem.  Sebenarnya tadi aku juga.. hehee. Em, Kalau begitu aku pergi tidur ya oppa.. Oppa juga istirahat. Selamat malam.”

Sooyoung bangkit berdiri dan beranjak pergi. Tapi tiba-tiba Kyuhyun menggengam tangannya.

“Tidurlah di sini…”

“Eh?” Mata Sooyoung membulat mendengar permintaan Kyuhyun.

“Tidur di sampingku”.

“O,oppa..”

“Kenapa? Tidak bisa?”

Sooyoung menatap suaminya dalam. Kalau dipikir, sebenarnya sudah seharusnya dia dan Kyuhyun tidur sekamar. Apa lagi, diantara mereka sudah ada perasaan, walau masih belum yakin. Sooyoung berpikir lama, sampai akhirnya dia tersenyum pada Kyuhyun. “Baiklah”. Jawabnya. Kyuhyun tampak senang mendengar jawaban Sooyoung. Tanpa menunggu lama, Kyuhyun masuk ke dalam selimut dan merebahkan diri. Sooyoung pun mengikuti. Sadar jarak mereka terlalu jauh, Kyuhyun mulai bergeser dan merapatkan dirinya pada Sooyoung. Sooyoung mulai salah tingkah. Wajahnya memerah karena malu.

“Apa kau gugup?” Tanya Kyuhyun.

“Hem..”

“Aku juga”. Ucap Kyuhyun.

“Benarkah?”

“Iya. Saat berada di dekatmu. Jantungku ini, pasti berdetak kencang dan tidak bisa kukendalikan.

”Wajah Sooyoung semakin memerah karena ucapan Kyuhyun.“Haha.. wajahmu sudah seperti tomat Sooyoung!” Lanjutnya . Sooyoung menutup wajahnya dengan selimut.

“Sooyoung..”

“Ya?”

“Soal Victoria.. jangan salah paham ya”.

Sooyoung langsung membuka selimutnya lagi. Menatap Kyuhyun dalam.

“Victoria itu… Oppa bilang dia dari luar negeri. Apa tujuan datang lagi ke Korea?”

“Urusan bisnis. Sebenarnya dia juga menawariku pekerjaan di tempatnya..”.

“Di tempatnya? Maksudnya di luar negeri?”

“Iya”.

“Lalu. Apa oppa setuju?”

“Emm. Aku masih pikir-pikir..”

“Apa? Jadi oppa ada rencana mau menerima pekerjaan itu dan pergi keluar negeri?”

“Kalau iya, bagaimana?”

“Artinya oppa akan meninggalkanku?”

“Mungkin…”

“Hemm… Terserah oppa saja”. Ucap Sooyoung kecewa. Kyuhyun tersenyum melihat wajah Sooyoung yang tampak sedih, lalu dia memeluk tubuh Sooyoung erat.

“Tenang…  Aku sudah menolak pekerjaan itu”.

“Benarkah?”

“Iya..”

Ekspresi wajah Sooyoung berubah seketika.

“CHUP”

Dia memberanikan diri mencium bibir Kyuhyun sekelias. Kyuhyun tampak terkejut. Tapi dia senang Sooyoung melakukan itu.

“Selamat tidur oppa…” ucap Sooyoung pelan.

“Selamat tidur…”.

__TBC__

Bagaimana? Bagus? Kalian yang nilai ya… Saya tunggu kritik dan saran yang membangun dari kalian. Oh ya. Maaf kalau ada salah penulisan. Maklum, ini ngerjainya tengah malam. ga sempat di periksa lebih detail. Hehee..

Tetap tunggu part berikutnya ya… Uhuuy!!!

LOVE (Part 6)

LOVE (Part 6)

Judul: LOVE (Part 6)

Author:  Likyuyoung

Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Shim Changmin

Genre : Romance

Rating: PG+16

Halo.. Akhirnya! saya kembali! Maaf sekali bagi reader kalau saya terlalu lama, dan baru post sekarang. Saya ada urusan yang sangat penting. Saya harap kalian tetap menanti ya… (Saya mohon… hehehe)

Ok kalau begitu happy reading!

 

 

Kyuhyun POV

Aku berbaring ditepi tempat tidur sebelah kanan dengan posisi yang sebenarnya tidak membuatku nyaman. Aku memunggungi Sooyoung. Hah… tapi ini kulakukan karena gugup. Sejak masuk kamar ini berdua dengannya jantungku bedekat kencang, seperti mau keluar. Maka kuputuskan untuk membalikan tubuhku agar aku tidak melihatnya.

Suasana kamar ini sangat hening. Hanya terdengar bunyi detik jam dinding.  yang Ditambah lagi aku sama sekali tidak mengantuk, padahal ini sudah tengah malam. Ayolah mata… mengantuklah. Aku tidak mungkin seperti ini semalaman.

Sooyoung? Apa dia sudah tidur? Hahh… dari tadi sepertinya dia juga tak bergerak. Mungkin sudah tidur.

Kupaksa mataku untuk pejam. Berharap agar bisa tidur. Tapi tetap tak bisa. “Srrrtttt..”. Terdengar bunyi gesekan. Kurasakan ada yang bergerak ditempat tidur. Sooyoung? Apa dia belum tidur?

“Oppa, apa kau sudah tidur?”

Ah, ternyata benar. Mungkin dia tak bisa tidur karena ada aku di sampingnya. Tapi kenapa dia memanggilku?

“Oppa apa kau marah soal adegan itu? Jika iya, aku minta maaf. Adegan itu, awalnya dilakukan pura-pura saja dan mengakalinya dengan beberapa gerakan agar terlihat seperti nyata. Tapi, sepertinya lawan mainku melakukan kesalahan. Aku juga tak menyangka itu terjadi”.

Dia menjelaskan soal drama itu.

Hah… Iya, aku marah padamu Sooyoung. Aku tak mau wanita yang kusayangi berciuman dengan pria lain apapun alasannya. Yah, benar. Seperti kata Donghae aku kekanak-kanakan. Tapi aku yang secara langsung melihat bibirmu disentuh dengan bibir pria itu, rasanya aku tidak terima.

“Oppa, paling tidak dengarlah penjelasku dulu. Kalau oppa terus bersikap tidak peduli, tak mau bicara dan melihatku, rasanya sungguh tidak nyaman. Hatiku sangat sakit….”.

Hatinya sakit? Apa Sooyoung sangat sedih aku bersikap seperti ini? Suaranya kenapa berubah? Seperti sedang menangis.

Aku bergerak pelan membalikan tubuhku untuk melihat Sooyoung. Benar saja, dia menutup wajahnya dengan selimut sambil menangis. Tanpa pikir panjang kudekap tubuhnya. “O,oppa…mmph!”. Mungkin dia kaget dengan apa yang kulakukan. Aku semakin mempererat pelukanku.“Jangan menangis. Kau sudah kumaafkan…”. Ucapku pelan.

Beberapa menit kami bertahan dengan posisi ini. Saling berpelukan erat di atas tempat tidur. Aku tidak tau sudah seperti apa debaran jantungku.

“O,oppa…” Ucap Sooyoung memecah keheningan di antara kami.

“Hemm..?”

“Detak jantung oppa cepat sekali… Oppa gugup ya?”

Astaga, ternyata dia merasakannya. Memalukan sekali. Gugup hanya karena berpelukan.

“Sudah.. tidurlah..”

“Hehe… Sebenarnya oppa, jantungku.. juga berdetak kencang. Apa oppa bisa rasakan?”.

Eh, apa benar? Karena terlalu gugup aku tidak bisa membedakan debaranku dengan debaran Sooyoung. Ternyata dia gugup juga.

“Sebenarnya oppa….sebenarnya, akhir-akhir ini jantungku sering berdetak cepat jika bersama oppa. Aku tidak tau kenapa. Yang jelas, debaran itu tidak bisa kukendalikan…” Lanjut Sooyoung lagi.

Aku diam sejenak. Menerjemahkan setiap kata yang keluar dari mulut Sooyoung. Gugup? Apa artinya dia suka padaku? Tapi dari kalimatnya, dia seperti belum yakin.

Aku menatap Sooyoung yang sedang menelungkupkan wajahnya didadaku. Kukecup puncap kepalanya. “Tidurlah… Ini sudah malam.” Ucapku pelan. Sooyoung mengangguk. Sebenarnya aku ingin menanyakan soal perasaannya padaku. Tapi, akan lebih baik jika aku memberinya kesempatan berpikir dan meyakinkan hatinya.

____

Keesokan Harinya~~

Author POV

Sooyoung membuka mata perlahan. Dirasakannya ada sesuatu yang berat di atas perutnya. Sooyoung membulatkan mata mendapati tangan Kyuhyun yang melingkar diperutnya, dan tubuh mereka tidak ada jarak sama sekali. Sooyoung melihat wajah Kyuhyun dari sudut matanya. Kyuhyun masih tertidur lelap. Sooyoung mengangkat tangan Kyuhyun perlahan dari atas perutnya, lalu bangkit dari tempat tidur. Ditatapnya wajah suaminya itu sejenak sebelum keluar dari kamar. “Manis sekali…” Batinnya.

Sooyoung melangkah ke dapur. Ibu mertuanya sedang sibuk menyiapkan sarapan. “Ibu, ada yang bisa kubantu?” Tanya Sooyoung. Ibu tampak terkejut dengan kehadiran Sooyoung yang sudah berdiri didekatnya. “Ah, kau mengagetkan ibu saja. Ibu sedang membuat sarapan, tolong kamu bantu siapkan piringnya ya…” Pinta ibu. Sooyoung mengangguk mengiyakan.

Tak lama Kyuhyun keluar dari kamarnya dan datang ke dapur.

“Apa sarapan sudah siap?” Tanya Kyuhyun. Sooyoung dan Ibu serempak menoleh kearah Kyuhyun.

“Loh.. tumben kamu bangun kesiangan Kyuhyun. Biasanya keluar dari kamar kamu sudah rapi. Kenapa sekarang masih pakai piama?” Tanya Ibu heran.

Kyuhyun melihat tubuhnya yang terbalut piama. Dia bangun kesiangan karena tidur terlalu malam. Kyuhyun hanya tersenyum simpul membalas pertanyaan ibunya.

“Ck.. ck.. lihatlah kalian berdua. Sama-sama belum mandi… ah, tapi kalian memang cocok memakai piama itu. Tidak percuma ibu membelinya…” Ucap Ibu senang.

Sooyoung dan Kyuhyun saling berpandangan lalu tersenyum satu sama lain.

“Iya bu.. terimakasih piamanya..” Ucap Kyuhyun.

“Eh, tapi.. Tunggu dulu. Ibu baru sadar. Kenapa kalian berdua tidak memakai cicin pernikahan?”. Keduanya terkejut dan mulai panik.

“Anu bu… Kami sengaja menyimpannya. Takut hilang..” Jawab Sooyoung. Kedua alis ibu bertaut.

“Apa? Takut hilang? Bodoh! Mana ada alasan seperti itu! Cicin itu harus selalu kalian pakai!”.

“Baik bu..” Jawab keduanya serempak.

Ada sedikit kelegaan karena ibu tidak menaruh curiga. Mengenai cicin pernikahaan itu, Sooyoung dan Kyuhyun memang sengaja tidak memakai. Karena sejak awal menikah, mereka sama-sama tidak menganggap itu penting. Ditambah lagi keduanya memang tidak terbiasa memakai perhiasaan.

Setelah sarapan, Sooyoung dan Kyuhyun lalu bersiap untuk pulang. “Kami pulang ya bu…” Ucap Kyuhyun saat sudah berada di dalam mobil dan dibalas dengan lambaian tangan ayah dan ibunya.

“Apa kau ada kuliah hari ini?” Tanya Kyuhyun saat dalam perjalanan.

“Hem.. tidak ada oppa. Kenapa?”

“Ah, tidak.. hari ini sepertinya aku tidak kekantor. Jadi, kita langsung pulang ke rumah saja ya..”

“Eh? Kenapa tidak ke kantor oppa? Oppa sakit?”

“Tidak. Hanya malas saja..”

“Malas? Tumben oppa malas. Biasanya selalu rajin ke kantor. Apa terjadi sesuatu?”

“Tidak ada…”

“Hem…”

Sooyoung menatap Kyuhyun heran. Tidak biasanya suaminya itu malas ke kantor. “Kyuhyun kenapa ya?” Batin Sooyoung.

Beberapa menit berlalu. Akhirnya Sooyoung dan Kyuhyun tiba di rumah mereka. Sooyoung masih mengamati Kyuhyun dengan tatapan heran.

“Oppa. Yakin tidak ke kantor hari ini?”. Kyuhyun berbalik dan menatap istrinya.

“Memangnya kenapa kalau aku di rumah hari ini? Kamu tidak senang?”. Sooyoung menggeleng.

“Bukan begitu… aku hanya takut. Nanti pihak kantor marah”.

Kyuhyun tersenyum, disentuhnya kepala Sooyoung lalu diacak-acaknya lembut.

“Tenanglah.. Mereka tidak akan marah hanya karena aku tidak ada selama satu hari…”. Wajah Sooyoung seketika memerah karena malu.

Setelah mengganti baju, Kyuhyun keluar dari kamarnya. Diedarkannya pandangannya mencari sosok istrinya. Kyuhyun belangkah ke ruang tengah, tempat biasa Sooyoung bersantai sambil menonton TV. Benar saja. Sooyoung sedang duduk santai di atas sofa sambil menonton TV.

“Kau nonton apa?” Tanya Kyuhyun.

“Oh, oppa. Aku hanya nonton serial drama saja..”

Kyuhyun mengalihkan pandangannya kearah TV. “Serial drama romatis” Pikirnya. Kyuhyun lalu duduk di samping Sooyoung. Sooyoung sedikit bergeser lalu fokus lagi dengan tontonannya.

“Apa ceritanya seru?”

“Hah?” Sooyoung mengalihkan padangannya ke Kyuhyun.

“Apa ceritanya seru? Sampai kamu begitu serius menonton?”

“Oh.. Iya oppa. Heheheee. Ah, tapi kalau oppa tidak suka silahkan ganti saja..”

“Tidak usah…”

Sooyoung kembali menatap TV dan membiarkan Kyuhyun duduk diam di sampingnya.

“Tidak usah diganti… DIMATIKAN SAJA”. Lanjut Kyuhyun sambil mengambil remote TV yang ada di atas meja lalu menekan tombol off. Sooyoung terkejut dan menatap Kyuhyun heran.

“Ayo kita bicara…” Ucap Kyuhyun serius.

“Bi,bicara apa oppa?”

“Tentang kita..”

Sooyoung menelan ludah. Dia mengerti maksud Kyuhyun. Kyuhyun merapatkan jaraknya dengan Sooyoung, dan menatap gadis itu dalam. Wajah Sooyoung mulai memerah. “Kau gugup kalau seperti ini?” Tanya Kyuhyun pelan. “Hemm..” jawab Sooyoung. Sooyoung memberanikan diri membalas tatapan Kyuhyun. Wajah mereka semakin mendekat sampai bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain.

Can you feel my heart? (Eh Eh, Eh Eh)~~

Can you read my mind? (Eh Eh, Eh Eh)~~

Nun bicheuro nan, beolsseo gobaek haet janha yo~~

Oraet dongan dada dun mameul (mameul)~~

Shib chogan man yeoreo dul teni(Teni)~~

Mangseoriji malgo, Just say yes!

Tiba-tiba suara dering handphone Sooyoung terdengar dari kamar. Seketika Sooyoung menjauhkan wajahnya dari Kyuhyun. “Oppa, aku angkat telpon dulu”. Ucap Sooyoung lalu beranjak ke kamarnya. Sooyoung menarik nafas berulang kali untuk menenangkan diri. Jika ponselnya tak berbunyi, mungkin tadi sudah… “Akh, bodoh. Jangan berfikir yang aneh-aneh!” gumam Sooyoung dalam hati.

Sooyoung mengambil handphonenya yang ada di atas tempat tidur. Di lihatnya di layar ada tulisan nama seseorang yang tidak diharapkan. Changmin.

“Hallo!”

Ini aku. Aku mau bicara denganmu. Kau dimana?”

“Mau bicara apa? Aku sekarang di rumah!”

“Rumahmu di mana?”

“Untuk apa kau mau tau rumahku? Ada apa? Kalau kau mau bicara, sekarang saja!”

“Tidak mau. Dimana rumahmu?”

“Apa? Ya Changmin! Jangan memaksa….”

Belum sempat Sooyoung melanjutkan, handphone-nya sudah ditarik oleh Kyuhyun. Sooyoung berbalik. Entah sejak kapan Kyuhyun berdiri dibelakangnya. “O,oppa..”

“Halo, ini siapa?” tanya Kyuhyun.

“Kau siapa?”

“Aku suami Sooyoung”. Jawab Kyuhyun datar.

“Suami? Jadi benar Sooyoung sudah menikah?”

“Iya.  Jadi, tolong jangan ganggu istriku!”

“KLEK” Kyuhyun menutup telpon dan melemparkannya ke tempat tidur Sooyoung.

Selama beberapa detik suasana menjadi hening. Kyuhyun menatap Sooyoung tajam. “Dia, Changmin yang ada di drama itu?”. Sooyoung mengangguk. “Apa kalian ada hubungan khusus, sampai dia sering menghubungimu?”. Sooyoung menggeleng kuat. “Apa kau suka padanya?” Tanya Kyuhyun lagi. Sooyoung menggeleng. “Apa dia suka padamu?”. Sooyoung terdiam. Dia tak berani menatap Kyuhyun. Tiba-tiba Kyuhyun menarik Sooyoung mendekat dan mengangkat kepalanya sehingga mereka saling bertatapan.

“CHUP”

Kyuhyun mencium bibir Sooyoung lembut. Sooyoung terkejut, tapi dia sama sekali tak melawan. Kyuhyun memperdalam ciumannya dan membuat Sooyoung terbawa suasana. Sooyoung mulai membalas ciuman itu, Kedua tangannya pun ikut merangkul Kyuhyun.

Cukup lama mereka berciuman sampai akhirnya berhenti untuk mengatur nafas masing-masing. Sooyoung tertunduk malu sambil terus menyentuh bibirnya. “Maaf, tiba-tiba…” Ucap Kyuhyun. Suasana kembali hening. Keduanya menarik nafas dalam. Mencoba menenangkan diri. “Cincin pernikahaan itu, kita pakai saja. Supaya tidak ada lagi masalah seperti ini”. Ucap Kyuhyun. Sooyoung menatap Kyuhyun sebentar lalu tunduk kembali. “Hemm… iya oppa.” Jawab Sooyoung yang masih malu.

Karena melihat Sooyoung yang malu, Kyuhyun jadi tidak tau mau bicara apa. Keduanya diam sejenak. “Eemm.. kalau begitu, aku keluar dulu. Mau cuci mobil”. Ucap Kyuhyun kikuk. Sooyoung mengangguk.

____

Sooyoung POV

Astaga, apa yang baru saja kulakukan. Aku dan Kyuhyun… Waaaaaa!!!!!. Malu sekali. Tapi, bibirnya tadi, lembut sekali. Akh, kenapa aku jadi mesum begini! Bodoh!

Oh ya, tadi Changmin menelpon. Nada bicaranya seperti sedang marah. Mungkin dia sudah tau kalau aku sudah menikah. Terserahlah! Itu lebih baik.  Aku tidak perlu lagi capek-capek menjelaskan padanya.

Aku melangkah keluar kamar. Kulihat samar-samar di teras rumah Kyuhyun sedang mencuci mobilnya. Kucoba mendekat untuk melihatnya lebih jelas. Bajunya dan celananya sedikit basah karena terkena percikan air. Haih.. kenapa dimataku dia terlihat tampan sekali dengan baju setengah basah begitu? Akh. Aku mulai berpikir aneh lagi. Aku berbalik menuju dapur untuk menyiapkan makan siang. Tak lama Kyuhyun datang.

“Oppa, bajumu basah. Cepat diganti..” Ucapku.

“Iya, aku tahu. Tapi aku mau minum…”

“Oh, tunggu. Kuambilkan”.

Kutuangkan segelas air putih, lalu memberinya pada Kyuhyun. “Terimakasih”. Dia segera meminumnya. Beberapa tetes air mengucur dari bibir dan turun ke lehernya. Dia tampan. Bahkan saat minum saja tampan. Oh Tuhan, Kenapa lagi-lagi aku berfikir aneh.

“Sooyoung..” Tegur Kyuhyun.

“Ya?”

“Kenapa melamun?”

“Heh? Oh, bukan apa-apa oppa..”

“Hem… Oh ya, apa makanan sudah siap?”

“Sebentar lagi siap… oppa ganti baju saja dulu. Nanti masuk angin. Makanan akan kusiapkan..”

“Baiklah”.

Kyuhyun mengembalikan gelas yang tadi kuberi, lalu pergi ke kamarnya. Segera kulanjutkan memasak, dan menyiapkan perlengkapan makan di atas meja.

Beberapa menit kemudian Kyuhyun datang. Bajunya sudah diganti. “Ayo makan oppa…” Ajakku. Kyuhyun menarik kursi dan duduk menghadap meja makan. Kami pun makan bersama. Tapi aku melihat ada sesuatu yang berbeda pada Kyuhyun. Aku mengamati jarinya. Kyuhyun memakai cincin. Itu cincin pernikahaan kami.

“Sooyoung?” Tegur Kyuhyun. Aku mengejapkan mata beberapa kali. Tersadar dari lamunan.

“Ya oppa?”.

“Kau kenapa? Dari tadi melamun terus?”

“T,tidak oppa. Aku cuma… eemmm… anu… “

“Anu apa?”

“Anu.. Ah, tidak apa-apa”.

Kyuhyun menautkan kedua alisnya. Kami melanjutkan makan. Hahh.. Kyuhyun serius dengan ucapannya. Dia benar-benar memakai cincin itu. Berarti aku juga harus memakainya. Baiklah. Memang seharusnya cincin itu kupakai dari dulu.

____

Kyuhyun POV

Cuci mobil sudah selesai. Cape juga. Aku jadi haus. Baju jadi basah karena terkena air. Aku melangkah masuk ke rumah. Baru sampai di pintu masuk, aku sudah di sambut dengan aroma makanan. Harum. Ternyata Sooyoung sedang memasak. Karena merasa kehadiranku Sooyoung berbalik.

“Oppa, bajumu basah. Cepat diganti..” Ucapnya.

“Iya, aku tahu. Tapi aku mau minum…”

“Oh, tunggu. Kuambilkan”.

Sooyoung memberikan segelas air putih padaku dan langsung kuminum habis. Dari ujung mataku, kulihat Sooyoung sedang menatapku.

“Sooyoung..” Tegurku.

“Ya?”

“Kenapa melamun?”

“Heh? Oh, bukan apa-apa oppa..”

“Hem… Oh ya, apa makanan sudah siap?”

“Sebentar lagi siap… oppa ganti baju saja dulu. Nanti masuk angin. Makanan akan kusiapkan..”

“Baiklah”.

Aku berjalan menuju kamarku. Kubuka lemari pakaian dan segera mengganti pakaianku. Ah, aku kembali teringat dengan kejadian tadi. Ternyata pria itu masih menghubungi Sooyoung. Padahal festival sudah berakhir. Aku membuka laci kecil yang ada didalam lemari. Kuambil kotak kecil berwarna coklat tua. Kubuka kotak itu dan menatap benda kecil melingkar yang terbuat dari emas putih. Cincin pernikahanku. Kuambil cincin itu dan kukenakan di jari tangan kananku.

Ya, sudah saatnya aku mengenakannya. Selama ini aku selalu menyimpannya karena tidak mau ambil pusing soal pernikahaanku. Sekarang, aku sudah menyadari perasaanku pada Sooyoung, dan dia pun tau itu. Jadi tidak ada alasan lagi, untuk aku tidak memakai cincin ini.

Aku keluar dari kamar dan kembali ke dapur. Makanan sudah siap. “Ayo makan oppa…” Ajak Sooyoung. Aku mendekati meja makan lalu duduk menghadap makanan yang ada didepanku. Kelihatannya enak. Aku mulai makan. Tapi kulihat Sooyoung hanya diam melamun.

“Sooyoung?” Tegurku. Dia mengejapkan mata beberapa kali. Seperti tersadar.

“Ya oppa?”.

“Kau kenapa? Dari tadi melamun terus?”

“T,tidak oppa. Aku cuma… eemmm… anu… “

“Anu apa?”

“Anu.. Ah, tidak apa-apa”.

Sooyoung aneh. Apa karena tadi aku menciumnya? Apa dia marah? Atau menyesal? Kuharap tidak. Karena aku serius melakukannya.

_____

 

Keesokan Harinya~~

Author POV

Sooyoung sudah menyiapkan sarapan seperti biasanya. Tak lama Kyuhyun datang menghampirinya lalu mereka sarapan bersama. Saat makan, mata Kyuhyun menanggkap benda berkilau dijari kanan Sooyoung. Cincin. Sooyoung memakai cincin pernikahan. Tanpa sadar Kyuhyun tersenyum. Sooyoung yang merasa diperhatikan, lalu menatap Kyuhyun.

“Ada apa oppa?”

“Ah, tidak apa-apa.. Ayo lanjutkan makan..”

Sooyoung mengangguk.

Setelah membereskan piring yang ada dimeja. Mereka pun berangkat. Kyuhyun mengangtar Sooyoung sampai ke kampusnya.

“Terimakasih oppa…” Ucap Sooyoung lalu membuka pintu mobil. Tiba-tiba Kyuhyun menarik tangan Sooyoung membuat Sooyoung menoleh ke arahnya. Dahi Sooyoung mengkerut karena heran. Kyuhyun mendekatkan wajahnya pada Sooyoung. Spontan Sooyoung menutup rapat-rapat matanya. Kyuhyun tersenyum.

“CHUP”

Kyuhyun mencium kening Sooyoung. Sooyoung membuka mata. Kaget. Karena perkiraannya salah. Dia berpikir kalau Kyuhyun akan mencium bibirnya. Sooyoung diam menatap Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum lagi.

“Kenapa?” Tanya Kyuhyun iseng.

“Tidak apa-apa.. Cuma kaget..” Jawab Sooyoung beralasan. Sebenarnya dia sedikit kecewa karena perkiraannya salah.

“Hem… Mulai sekarang harus terbiasa..”

Sooyoung terdiam karena kaget. “… Mulai sekarang harus terbiasa?! Itu artinya, Kyuhyun akan sering mencium…” Pikir Sooyoung. “Bluusssh”. Pipi Sooyoung seketika memerah. Tanpa berpikir lagi Sooyoung langsung keluar dari mobil. “Dah oppa..” Ucap Sooyoung tanpa menatap Kyuhyun, lalu berjalan memasuki gerbang kampusnya. Kyuhyun hanya tersenyum geli melihat Sooyoung yang salah tingkah.

____

Saat berjalan menuju kelas, Sooyoung langsung disapa oleh Yuri. Mereka pun berjalan bersama menuju kelas.

“Kemarin kau kemana? Kenapa tidak masuk kuliah?”

“Ah, Aku cuma dirumah saja bersama Kyuhyun”.

“APA?!” Yuri menghentikan langkahnya.

Yuri menarik lengan Sooyoung lalu maksanya duduk dikursi yang ada di koridor. Dia ingin mendengar cerita Sooyoung.

“Ceritakan. Apa yang terjadi?”

“Tidak terjadi apa-apa..”

“Bohong! Pasti terjadi sesuatu. Kau tidak pernah bolos kuliah kecuali sedang sakit! Ayo cerita!”

Sooyoung menghela nafas panjang.

“Aku sudah berbaikan dengan Kyuhyun..”

“Benarkah? Lalu?”

“Lalu… kami berciuman”.

“APA?! Yang benar? Lalu, lalu?”

“Tapi, sepertinya dia melakukan itu karena marah…”

“Marah kenapa?”

“Saat bersamanya, tiba-tiba Changmin menelponku. Kyuhyun tau. Dia mengambil handphone-ku dan bicara dengan Changmin”.

“Changmin? Ternyata dia belum sadar juga ya! Bagus Kyuhyun langsung turun tangan.”

Sooyoung mengangguk.

“Yuri, apa kau sudah mengatakan pada Changmin soal aku?”

“Yap! Dia terlihat syok sekali”.

“Hem.. pantas dari nada suaranya seperti sedang marah. Tapi biarlah. Biar semua selesai”.

“Ah ya. Lalu apa yang akan kau lakukan dengan Kyuhyun?”

“Kyuhyun..  Aku masih belum tau. Tapi aku sangat senang kami bisa jadi lebih dekat. Lihat ini…”

Sooyoung menunjukan jari manisnya yang berhiaskan cincin emas putih. Yuri membulatkan mata. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Kau… Cincin itu…”

“Hehe… aku putuskan untuk memakainya. Kyuhyun juga begitu”.

“Tuh kan benar… Kau memang suka padanya kan… Kalian memang saling suka satu sama lain…”

“Apa iya? Hemmm….”

“Sudah tidak perlu kau jelaskan lagi. Dari wajahmu sudah tergambar jelas kau suka Kyuhyun…”

Sooyoung hanya tersenyum malu. Kemudian Yuri mengajaknya untuk segera masuk kelas. Tapi baru tiba di depan pintu, tangan Sooyoung ditarik oleh seseorang. Sooyoung terkejut. Sosok pria tinggi sedang menggenggam kuat tangannya. Changmin.

“Aku mau bicara”. Ucap Changmin dengan tatapan tajam kearah Sooyoung. Belum sempat Sooyoung mengelak, Changmin langsung menariknya dan mengajaknya pergi. Yuri kaget dan berusaha mengejar Sooyoung. Tapi Dosen sudah terlanjur datang dan menyuruhnya masuk.

“Changmin, lepaskan! Kau mau apa?!” bentak Sooyoung sambil terus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Changmin. Tapi Changmin hanya diam dan semakin kuat menggenggam. Changmin membawa Sooyoung ke gedung auditorium yang sepi dan tidak ada satu pun orang di sana.

“Lepas! Changmin, sakitt…”Pinta Sooyoung.

Changmin melepaskan genggamannya. Suasana hening seketika. Sooyoung mengusap tangannya yang berbekas merah karena genggaman Changmin yang sangat kuat.

“Kau.. Sudah menikah?” Tanya Changmin.

“Iya”.

“Kenapa kau tidak mengatakannya?”

“Aku sudah coba untuk menjelaskan. Tapi kau tidak mau mendengar!”.

Changmin menghela nafas panjang. Matanya tetap tajam menantap Sooyoung.

“Kalau begitu.. Bercerailah…”

“Apa? ”

“Ceraikan suamimu!”

____TBC____

 

Sekian. Terimakasih banyak karena sudah baca FF ini. Tolong kasih saran dan kritik yang membangun ya… Oh, ya. Maaf kalau ada kesalah penulisan. Maklum, diburu waktu. Hehehee.. Tetap nantikan part selanjutnya ya…

 

LOVE (Part 5)

LOVE (Part 5)

 

Judul: LOVE (Part 5)

Author:  Likyuyoung

Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun,

Genre : Romance

Rating: PG+16

 

Anyeong!!! akhirnya part ini selesai. Saya sudah berusaha keras berfikir dan mencari ilham. Saya harap reader tidak terlalu lama nunggu. Hehehe… oh ya POV Changmin saya munculkan di part ini. Yang ga suka kehadiran Changmin maaf ya…

Saya mohon kritik dan saran yang membangun…

Happy reading!! ^__^

Changmin POV

Sooyoung malam ini terlihat lain dari biasanya. Dia cantik. Gaun yang dikenakannya itu sangat cocok untuknya.

Sejak bertemu dia memang telah menarik perhatianku. Spontan, tidak dibuat-buat, apa adanya. Dia berbeda dengan para wanita yang pernah kutemui sebelumnya. Sepertinya aku mulai menyukainya. Atau mungkin lebih tepatnya dari awal sudah menyukainya.

Sooyoung berjalan ketengah panggung. Menatapku yang juga berjalan kearahnya. Ini segment terakhir. Adegan yang tidak diinginkan Sooyoung. Dia terlihat gugup. Lucu sekali.

Kami berdua saling bertatapan. Pipinya yang merona, matanya yang bening, bibirnya yang tipis, terlihat jelas olehku.

“Putri, aku mencintaimu..” Aku mengucapkan kalimat itu penuh perasaan dan benar-benar ditujukan untuknya.

“Aku juga pangeran…”  Sooyoung mengatakan dengan mata berbinar. Seolah dia memang mencintaiku.

Adegan ini membuatku larut. Seolah ini nyata.

“Kau cantik…” Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirku.

“CHUP”

Aku menciumnya. Entah apa yang membuatku jadi seperti ini. Kurasakan tubuh Sooyoung yang kaku karena terkejut. Tangannya bergerak mencoba mendorongku, tapi aku semakin memperat rangkulanku. Tiba-tiba tirai tertutup, tanda akhir dari drama ini. Sooyoung mendorongku kuat, membuatku hampir terjatuh. Dia menatapku tajam. Tangannya mengepal karena geram.

“KAU KETERLALUAN!!! AKU BENCI PADAMU!!!!!!!!!!” Bentaknya lalu pergi.

Aku tak mampu bicara. Dia marah padaku. Kata-kata Sooyoung tadi menyadarkanku bahwa aku sudah bertindak melewati batas. Aku tidak mampu mengendalikan diriku.

_____

Sooyoung POV

Keterlaluan. Changmin keterlaluan. Kenapa dia menciumku? Kenapa dia benar-benar melakukannya? Aku benci dia! Semua orang melihat adegan itu. Dan Kyuhyun. Dia pasti melihatnya. Apa dia akan marah padaku? Apa dia akan membenciku? Apa yang harus kukatakan padanya? Kenapa semuanya jadi seperti ini?

“Sooyoung…” Panggil seseorang. Aku berbalik dan melihat Yuri yang berjalan mendekatiku.

“Bagaimana ini Yuri? Apa yang harus kukatakan pada Kyuhyun?” ucapku panik.

“Haaaah… tenanglah dulu. Aku juga terkejut melihat adegan tadi…”

Yuri merangkulku dan mengusap bahuku agar aku merasa lebih tenang. “Kau harus menjelaskannya pada Kyuhyun nanti. Kau sudah tahu perasaan Kyuhyun padamu seperti apa… Minta maaflah padanya”. Lanjut Yuri. Aku menangguk. Yuri benar, aku harus minta maaf pada Kyuhyun dan menjelaskan semuanya.

_____

Home~~

Mobil Kyuhyun sudah berada di garasi. Kyuhyun sudah pulang. Kulihat rumah kami sangat gelap dan sepi. Tidak ada cahaya dari dalam sama sekali. Sepertinya Kyuhyun tidak menyalakan lampu satu pun. Aku berjalan pelan memasuki rumah. Menyalakan satu demi satu lampu yang ada diruangan. Mataku tertuju pada pintu kamar Kyuhyun. Apa dia sudah tidur? Aku ingin bicara dengannya sekarang.

“TOK TOK”

Kuketuk pintu kamarnya. “Oppa, apa kau sudah tidur?” tanyaku. Tapi tidak ada jawaban.

“TOK TOK”

Kuketuk sekali lagi. “Oppa, aku ingin bicara….”. Dan tetap tidak ada jawaban.

“Oppaa… Apa kau marah padaku?”

Mataku mulai terasa perih karena air mataku serasa mau keluar.

“Oppa…”

Entah kenapa aku merasa begitu sedih. Tidak, aku ini bukan diriku. Aku bukan gadis cengeng. Jangan menangis Sooyoung, tahan air matamu.

Aku terus memanggilnya tapi Kyuhyun tak kunjung keluar. Aku sudah berdiri cukup lama. Kini aku sudah lelah. Kurasa Kyuhyun tak akan keluar walau aku memanggilnya ratusan kali. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk bicara.

_____

Kyuhyun POV

Aku berjalan memasuki rumah. Sepanjang jalan pulang otakku terus memutar adegan yang kulihat beberapa saat lalu seperti film yang direplay. Dia berciuman. Sooyoung benar-benar berciuman dengan pria itu.

“Putri, aku mencintaimu..”

“Aku juga pangeran…”

Dialog itu dengan sempurna mereka mainkan, sampai-sampai tampak begitu nyata dimataku. Seolah mereka memang saling mencintai. Kalimat itu seperti menjawab semuanya. Sooyoung mungkin tidak menyukaiku.

Kepalaku terasa berat. Aku ingin istirahat. Aku melangkah ke kamarku dan menutup pintu rapat-rapat. Kubiarkan semuanya gelap. Tak ada satu pun lampu kunyalakan. Gelap lebih cocok dengan suasana hatiku saat ini.

Kurebahkan tubuhku ke tempat tidur. menarik nafas panjang. Kulihat langit-langit kamarku, dan kembali adegan itu mucul di pikiranku. Sooyoung, istriku sendiri berani berciuman dengan pria lain dihadapanku. Apa dia tidak memikirkan perasaanku?

“TOK TOK”

Tiba-tiba ku dengar seseorang mengetuk pintu kamarku. “Oppa, apa kau sudah tidur?”. Itu suara Sooyoung. Kenapa dia sudah pulang?

“TOK TOK”

Dia mengetuk lagi. “Oppa, aku ingin bicara….”. Ucapnya. Dia ingin bicara? Mau bicara apa? Kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan. Dia tidak perlu menjelaskan apapun.

“Oppaa… Apa kau marah padaku?”

Tentu aku marah. Tak perlu kujawab seharusnya dia sudah tau itu.

“Oppa…”

Sooyoung terus memanggilku. Semakin lama suaranya terdengar semakin lemah. Seperti mau menangis. Apa dia menangis? Akh, tidak mungkin. Tidak ada alasan untuknya. Lebih baik aku diam saja.

_____

Keesokan hari~~

Author POV

Sooyoung mengawali paginya dengan perasaan yang tidak menentu. Sooyoung berdiri di depan cermin dan menatap pantulan dirinya di sana. Helaan nafas panjang keluar dari mulutnya. “Kau harus menjelaskan semuanya Sooyoung” ucapnya pada didirinya sendiri.

Sooyoung keluar dari kamarnya. Dilihatnya pintu kamar Kyuhyun yang tak jauh dari kamarnya. Rasa kawatir Sooyoung timbul lagi. “Hahh…” Sooyoung menghela nafas panjang sekali lagi. Kemudian ia melakah menuju dapur untuk membuat sarapan.

Sooyoung meletakan masakannya di atas meja makan, lalu duduk menunggu  Kyuhyun keluar dari kamarnya.

“CKLEK”

Suara pintu terbuka. Kyuhyun keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi seperti biasanya. Sooyoung bangkit berdiri menyambut kedatangan Kyuhyun. “Oppa.. Ayo sarapan” Ajak Sooyoung. “Maaf, aku buru-buru…” Ucap Kyuhyun tanpa memandang  Sooyoung. “Oppa…” Sooyoung memanggil lagi, namun Kyuhyun terus berjalan menuju pintu depan dan pergi. Sooyoung hanya bisa menatap sedih kepergian Kyuhyun. “Dia benar-benar marah padaku”. Batin Sooyoung.

______

Kampus~~

Hari mulai siang tapi Sooyoung hanya duduk lesu di kursi taman kampus sendirian. Walau dia tahu hari ini festival masih berlangsung, Sooyoung lebih memilih untuk menyendiri dibanding berada dikeramaian itu.

Sooyoung mengambil handphone dari tasnya. Memastikan apakah Kyuhyun ada menghubunginya, walau sebenarnya dia tahu itu tidak mungkin. “Apa aku hubungi saja?” pikir Sooyoung.  Jari lentik Sooyoung membuka satu demi satu file menu pada ponselnya. Ia mulai mengetik pesan yang ingin ditujukannya pada Kyuhyun

To: Kyuhyun

Oppa, apa kau sudah makan?

 

Sooyoung menatap pesan yang dibuatnya itu sebentar. Kepalanya menggeleng “Tidak, tidak.. jangan begini…” Ucapnya sambil menghapus pesan itu dan mulai mengetik pesan yang baru.

To: Kyuhyun

Oppa, apa kau marah padaku?

Aku minta maaf..

 

Sooyoung kembali menatap pesan yang dibuatnya itu. “Akh… bukannnn. jangan begini!!!” Ucapnya  dan menghapus pesan itu lagi. Sooyoung mencoba mengetik lagi, namun kali ini otaknya buntu. Dia bingung harus mengirimkan pesan yang seperti apa agar Kyuhyun mau diajak bicara.

“Kau sedang apa disini?” Tanya seseorang tiba-tiba. Suara itu terdengar familiar bagi Sooyung. Sooyoung mengalihkan pandangannya ke sumber suara.  “Bukan urusanmu!” jawab Sooyoung ketika melihat sosok pria yang tidak ingin ditemuinya tengah berdiri didekatnya. Changmin.

“Kau marah padaku?” Tanya Changmin. Sooyoung hanya diam. Dia pura-pura sibuk dengan handphone yang ada ditangannya. Menyadari sikap Sooyoung yang seperti itu, Changmin langsung mengambil sikap. Direbutnya handphone Sooyoung.

“Hei. Apa yang kau lakukan! Kembalikan ponselku!” Bentak Sooyoung.

“Aku sedang bicara padamu. Kau malah pura-pura tidak tau. Tidak sopan!”

“Yaa! Kembalikan ponselku!”

Sooyoung menarik baju Changmin untuk bisa meraih ponselnya yang ada ditangan Changmin. Changmin terus mengangkat tangannya agar tak bisa diraih Sooyoung. “Changmin, kembalikan!” bentak Sooyung lagi. Changmin hanya tersenyum licik.

“Aku benci padamu!”ucap Sooyoung. Matanya menatap Changmin tajam. Changmin pun terdiam. “Kau marah padaku karena ciuman itu?” tanya Changmin. Sooyoung hanya diam. Dia tidak mau membahas hal itu. Suasana hening selama beberapa saat.

“Soal adegan ciuman itu, kuakui aku sudah melanggarnya. Aku minta maaf soal itu!” Ucap Changmin. Namun Sooyoung tidak merespon. Matanya terus menatap kearah lain.

“Tapi, aku tidak menyesal melakukannya” Lanjut Changmin yang seketika membuat Sooyoung terkejut.

“Apa maksudmu?”

“Aku memang ingin menciummu, saat itu”.

“Apa kau bilang? Kau gila ya?!”

“Aku suka padamu..” Ucap Changmin serius.

____

Sooyoung POV

Apa yang dikatakannya tadi? Dia menyukaiku? Dia salah makan obat atau apa? Tidak, pasti dia ingin mengerjaiku . “Kau jangan bercanda!” Ucapku.  Tapi raut wajah Changmin tak berubah. Dia serius mengatakannya.

“Aku tak pernah bercanda tentang hal seperti ini” Kata Changmin.

Dia benar-benar serius. Akh, Kenapa jadi seperti ini. Masalahku dengan Kyuhyun masih belum bisa kuselesaikan, kenapa muncul lagi masalah yang lain. Tidak boleh. Aku tidak mungkin menjalin hubungan dengannya. Ini harus dituntaskan segera. Aku harus jelaskan padanya tentang statusku.

“Maaf Changmin. Aku tidak..”

“Aku tidak mau dengar penolakan!” ucap Changmin memotong perkataanku.

“Maaf. Tapi aku..emph” Belum sempat aku menjelaskan, Changmin sudah membungkap mulutku dengan tangannya.

“Sudah kubilang. Aku tidak mau dengar. Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan kehadiranku!”

Aku menepis tangannya. “Jangan seenaknya!” bentakku. Dia hanya tersenyum. Kenapa dia bisa tersenyum seperti itu. dasar pria jahat!

“Aku ini sudah menik..”

“SOOYOUNG!” Tiba-tiba seseorang memanggilku. Aku menoleh, ternyata Itu Yuri. Kenapa dia datang disaat seperti ini!

“Sooyoung, kenapa kau disini? Siwon mencarimu! Kau ‘kan juga termasuk panitia festival. Siwon dari tadi ngomel-ngomel!” Lanjut Yuri. Aish, saat ini aku tidak peduli tentang Siwon. Masih ada hal yang lebih penting.

“Ehem..” Changmin bersuara, membuat yuri menoleh ke arahnya. Yuri baru sadar kalau ada Changmin yang berdiri didekatku.

“Oh. Changmin-ssi… kau ada di sini. Maaf aku tidak menyadarinya”. Yuri membungkukan tubuhnya sedikit. Changmin hanya tersenyum simpul. “Tak apa.. Kalau begitu aku permisi. Oh ya Sooyoung. Ini…” Changmin mengembalikan handphoneku lalu pergi. Akh, padahal aku belum sempat bilang tentang statusku dia sudah pergi. Ini semua gara-gara Yuri.

“Yuri, kenapa kau datang tiba-tiba sih?!”

“Apa? Memang kenapa? Apa tadi terjadi sesuatu!”

Akupun bercerita pada Yuri tentang semua yang terjadi. Dia mendengarkan ceritaku sampai-sampai dia lupa dengan tujuannya mencariku.

“Sooyoung, apa kau suka pada Changmin?” Tanya Yuri tiba-tiba.

“Apa? Tentu tidak. Aku kan sudah menikah!”

“Lalu, apa kau suka pada Kyuhyun?”

Aku terdiam. Pertanyaan Yuri seperti menohok tenggorokanku(?). “I,Itu….,aku tidak tau.”. Yuri memandangku sesaat.

“Haissshhh… seharusnya kau bisa mengenal hatimu sendiri”.

“Aku tidak tau Yuri. ”

“Aigoo… babo! Dari sikapmu saja aku bisa lihat kau suka padanya. Kau takut dia marah. Kau sedih saat dia bersikap acuh tak acuh. Itu artinya apa???”

Aku diam sejenak untuk berfikir dan mengingat kembali semua yang terjadi padaku dan Kyuhyun. Kyuhyun yang sudah mulai perhatian padaku tiba-tiba menjadi cuek, memang sangat membuatku sedih. Tapi apa itu bisa dibilang karena suka?

“Ah, sudah lah… Yang penting sekarang bagaimana caranya agar masalah ini selesai!”

“Haaaiiissss… baiklah, baiklah. Soal Changmin aku akan membantumu. Kau pikirkan saja soal Kyuhyun”. Ucap Yuri .

Aku mengangguk mengiyakan perkataan Yuri. Benar, aku harus pikirkan soal Kyuhyun dulu. Itu yang utama.

Good bye, baby good bye. Dwidoraseo geudaero apuero gamyeon dwae~~
Amureon maldo (maldo) haji malgo (malgo).  Idaero sarajyeo juneun geoya~~
Baby good bye, good bye~~

Tiba-tiba handphone Yuri berdering. “Astaga. Siwon!” Yuri segera mengangkat telpon itu. Terdengar sekali kalau Siwon marah-marah. Dasar ketua! Akhirnya aku mengikuti Yuri untuk membantunya di salah satu post festival. Walau sebenarnya aku masih tak bersemangat.

____

Kyuhyun POV

Aku duduk menyandar dikursi kerjaku. Menatap berkas-berkas yang menumpuk dimejaku. Sama sekali tidak ada yang kusentuh. Hah… aku tidak fokus bekerja hari ini. Kupijat pelan keningku dengan ibu jari dan telunjuk. Merilekskan aliran darah ke otak.

“Kyu!” tiba-tiba Donghae membuka pintu. Selalu saja main nyelonong.

“Apa?”

“Ayo makan!”

“Tidak, kau saja. Aku tidak selera”.

Donghae mengkerutkan keningnya. Dia heran dengan perkataanku. “Kau kenapa? Apa ada masalah?”. Donghae langsung menarik kursi dan duduk didepan mejaku. Dan seperti biasa dia ingin mendengar ceritaku.

“Sooyoung berciuman dengan seorang pria di kampusnya”. Ucapku to the point.

WHAT?!” Mata Donghae seperti mau keluar karena terkejut.

“Dia selingkuh?” Lanjut Donghae.

“Tidak bisa dibilang begitu juga… Sooyoung beradegan ciuman dalam suatu drama…”

“Ohhh. Kupikir apa. Jadi kau tidak selera makan hanya karena itu?”.

“Iya”.

“Hahaha… cinta sudah membuatmu seperti anak remaja ya! Hei, itu kan cuma drama. It’s just acting Kyu!”

Dia malah mentertawakanku. Sialan.

“Pasti sejak kemarin kau tidak ada biaca padanya ya?!”

“Hem”.

“Ck..ck..ck.. Kebiasaanmu itu. Seperti anak kecil. Kalau marah, pasti akan diam dan tidak mau diajak bicara. Lalu sekarang kau mau bagaimana? Mau diam terus?”.

“Entah”. Jawabku singkat. Donghae menggelengkan kepala karena sikapku. Tak lama dia bangkit dari kursi lalu berjalan keluar ruanganku. Mungkin dia tak tahan karena aku tidak bisa menerima nasihatnya kali ini. Biarlah.

“Drr..Drr…”

Handphoneku bergetar. Ada telpon. Kulihat dilayar, ternyata ibuku.

“Hallo, Ibu. Ada apa menelpon?”

Kau ini. Bukannya menanyakan kabar ibu dulu. Malah bicara seperti itu!

“Iya, maaf. Ibu apa kabarnya? Ada apa menelpon?”

Hemm.. begitu dong. Ibu baik-baik saja. Ibu mau tanya, apa kau dan Sooyoung bisa datang ke rumah?”

“Ke rumah? Memang ada apa?”

Aish, kau ini. Kau sadar tidak, semenjak menikah kalian tidak pernah mengunjungi ibu dan ayah di sini! Makanya, malam ini datanglah.. Ibu sangat merindukan kalian”.

“Kenapa mendadak sekali bu. Saat ini aku dan Sooyoung…” Ah, aku tak mungkin bilang kalau aku sedang ada masalah dengan Sooyoung.

Apa? Kau dan Sooyoung kenapa?”.

“Ah, tidak. Baiklah. Aku dan Sooyoung akan mengusahakan untuk datang…”

Ibu tunggu ya..”

Akh, mau tak mau aku harus bicara pada Sooyoung soal ini. Padahal aku belum mau bicara dengannya. Ah, aku kirimkan pesan saja.

To: Sooyoung

Tadi ibuku menelpon. Beliau menyuruh agar kita berkunjung ke rumah.

Aku akan menjemputmu sepulang dari kantor.

Kita langsung ke sana.

“SEND”

Tak lama Sooyoung membalas. Cepat juga.

From: Sooyoung

Iya oppa..

Akan kutunggu oppa di depan gerbang kampus.

Dari bahasanya, sepertinya dia senang. Mungkin dipikirnya aku sudah tidak marah. Terserahlah.

_____

Universitas Seni~~

Changmin POV

Akhirnya festival selesai digelar, dan resmi ditutup oleh petinggi universitas. Melelahkan sekali. Sebagai asdos, aku diwajibkan untuk membantu panitia menyiapkan festival. Tapi, tak apa. Rasa lelah itu bisa digantikan dengan kepuasan karena aku sudah menyatakan perasaanku pada gadis itu. Sooyoung. Dia tampak kaget sekali. Mungkin dia masih belum percaya. Itu bukan masalah. Sudah tugasku untuk meyakinkannya.

Mahasiswa yang lain sudah bubar. Tapi aku tidak melihat Sooyoung. Di mana anak itu? Aku ingin mengajaknya pulang bersama.

“Changmin-ssi!”. Panggil seseorang. Aku menoleh kesumber suara. Ah, Yuri. Dia teman Sooyoung. Kebetulan sekali, mungkin dia tau dimana Sooyoung.

“Oh, Yuri. Apa kau tau dimana Sooyoung?”

“Sooyoung? Dia sudah pulang…”

Apa? Sudah pulang? Cepat sekali. Sial, rencanaku gagal! “Ya sudah kalau begitu…”. Lebih baik aku pulang saja.

“Sooyoung itu…” Tiba-tiba Yuri seperti ingin bicara lagi.

“Ya, Sooyoung kenapa?”

“Sepertinya Sooyoung tadi dijemput SUAMINYA”.

“Hah?”

“Sooyoung dijemput oleh SUAMINYA”.

Apa katanya? Suami? Apa anak ini sedang bercanda denganku? “Kau ini bicara apa? Suami Sooyoung?” Yuri tersenyum singkat. Ada apa dengan gadis ini? “Memangnya kau tak tau, Sooyoung ‘kan sudah menikah. Teman-teman yang lain saja tau”. Ucapnya.

Rasanya ada petir yang menyambar kepalaku. Sooyoung sudah menikah? Tidak mungkin. Dia tidak mengatakan apapun. Aku juga tak pernah melihatnya menggunakan cincin di jarinya.

“Yuri, jangan bercanda padaku!”

“Aku tidak bercanda. Kalau tidak percaya, silahkan tanya yang lain”.

Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!

Aku pergi ke post panitia. Aku ingin tau apakah anggota panitia yang ikut mengurusi drama kemarin tau tentang hal ini.

“Changmin-ssi.. ada apa kemari?” Tanya Siwon.

“Siwon aku mau tanya. Apa kau tau Sooyoung sudah menikah?”

“Sooyoung? Oh, sepertinya begitu. Tapi itu sudah cerita lama. Kenapa kau menanyakannya?”

“Ah, tidak apa-apa. Aku hanya baru dengar dari teman. Kupikir itu berita bohong”.

“Oh, awalnya kupikir juga begitu. Apa lagi kalau dilihat dia tidak pernah memakai cincin. Tapi, aku lihat di account facebook-nya dia menerangkan statusnya sudah menikah. Ada beberapa foto pernikahan juga”.

“Oh.. Kalau begitu terimakasih…”

Akh, Sial! Kenapa aku baru tau sekarang?! Kenapa aku baru tau kalau Sooyoung sudah menikah?!

____

Author POV

Sooyoung berdiri di depan gerbang kampusnya, menunggu kedatangan Kyuhyun. Pesan dari Kyuhyun tadi siang seperti angin segar baginya. Padahal sebelumnya dia takut Kyuhyun akan marah dan tidak akan menghubunginya. “Terimakasih ibu mertua. Walau kebetulan, tapi ini adalah bantuan di saat yang sangat tepat”. Batin Sooyoung.

Tak lama Sooyoung menunggu, mobil sendan berwarna silver miliki Kyuhyun datang. Segera Sooyoung membuka pintu mobil dan masuk. “Oppa, kenapa ibu mau bertemu kita?” Tanya Sooyoung bersemangat. “tidak tau!” Jawab Kyuhyun singkat. Ekspresi wajah Sooyoung seketika berubah. Dia heran dengan jawaban Kyuhyun yang sedikit ketus.

“Oppa..”

“Maaf, saat ini aku sedang tidak ingin bicara apapun”.

Sooyoung diam. Dia baru menyadari bahwa Kyuhyun masih marah, dan pesan darinya tadi siang itu sama sekali tidak ada arti apa-apa. Hanya sekedar pesan yang bersifat memberitahu.

Sepanjang perjalanan Sooyoung dan Kyuhyun tidak bicara. Suasana benar-benar hening. Sooyoung memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela. Dia ingin menangis. Tapi sekuat tenaga ditahannya.

Akhirnya pasangan suami istri itu sampai di rumah yang dituju. Kyuhyun menekan bel yang ada dipagar. “Siapa?” Tanya seseorang dari dalam rumah. “Ini aku ibu..” . Pagar terbuka otomatis. Kyuhyun pun berjalan memasuki pekarangan rumah dan Sooyoung mengikutinya dibelakang.

Begitu pintu rumah dibuka, mereka berdua disambut dengan hangat. Ibu Kyuhyun langsung memeluk anak laki-lakinya itu erat. “Aih. Ibu sangat rindu padamu..”. Kemudian Ibu Kyuhyun memeluk Sooyoung. “Aigooo.. lihatlah dirimu. Kurus sekali. Apa karena sakit kemarin?”. Sooyoung hanya tersenyum simpul. “Sudah cukup berpelukannya. Ayo, masuk dulu”. Kata ayah Kyuhyun. Mereka pun masuk dan beristrihat di dalam.

Kyuhyun dan Sooyoung berpura-pura selayaknya suami istri dihadapan orang tua Kyuhyun. Walau sebenarnya mereka tidak nyaman.

Sooyoung membantu ibu mertuanya menyiapkan makan malam, Kyuhyun menemani ayahnya mengobrol diruang tamu. Keluarga itu tampak begitu akrab, tanpa terasa sudah larut malam.

“Ibu, aku pulang ya” Ucap Kyuhyun yang sudah merasa lelah.

“Tidak usah pulang. Malam ini tidurlah disini. Kau dan Sooyoung bisa tidur dikamarmu dulu”.

Mata Sooyoung membulat. Tidak mungkin baginya untuk tidur bersama Kyuhyun apalagi mereka sekarang sedang ada masalah.

“Tapi bu..” Kyuhyun bermaksud menolak tawaran ibunya, tapi segera dibantah.“Tidak ada tapi-tapi. Ibu sudah menyiapkan kebutuhan kalian. Istirahatlah”. Sooyoung dan Kyuhyun akhirnya menurut. Percuma menolak, ibu pasti akan terus memaksa bahkan mungkin menyeret mereka.

Kyuhyun berjalan menuju kamarnya dan diikuti oleh Sooyoung. Begitu pintu dibuka, Aroma buah lemon langsung tercium. Kyuhyun suka wewangian yang segar, terutama buah lemon dan ibunya tau itu. Ibu Kyuhyun sengaja memberi pengharum ruangan dengan aroma kesukaan Kyuhyun, agar anaknya itu merasa nyaman beristirahat malam ini. Ibunya pun telah menyiapkan dua piama berwarna sama dengan motif kotak-kotak untuk  Kyuhyun dan Sooyoung.  “Aku mau mandi duluan”. Kata Kyuhyun lalu mengambil satu piama yang diletakan ibunya di atas tempat tidur. Sooyoung menggangguk.

Selama Kyuhyun di kamar mandi, Sooyoung hanya duduk ditepi tempat tidur. Dia tak berani menyentuh apa pun di kamar itu karena takut Kyuhyun akan marah. Sooyoung mengedarkan pandangannya. “Tak ada sofa..”Gumamnya. Dia bermaksud untuk tidur disofa saja. Sooyoung mehela nafas panjang.

Tak lama Kyuhyun keluar dengan piama yang melekat ditubuhnya. Sooyoung berdiri dan mengambil piamanya. Dia juga ingin mandi karena gerah. “Sepertinya ibu sudah menyiapkan semuanya. Di dalam ada sikat gigi dan sabun untukmu” Ucap Kyuhyun. Lagi-lagi Sooyoung hanya mengangguk.

Sementar Sooyoung mandi, Kyuhyun sedang menatap serius tempat tidurnya. Hanya ada dua bantal. Tidak ada bantal guling. Padahal dia ingin menjadikan bantal guling sebagai batas antara dia dan Sooyoung. Kyuhyun pun memilih untuk tidur disebelah kanan dan merebahkan tubuhnya sedikit ketepi tempat tidur.

Sooyoung keluar dari kamar mandi dan mendapati Kyuhyun yang sudah berbaring di tempat tidur dengan posisi memunggungi. Sooyoung melangkah mendekati tempat tidur. Dengan hati-hati Sooyoung merebahkan tubuhnya dan menarik selimut sampai keleher. Sooyoung menatap lesu punggung Kyuhyun. “Seharusnya aku merasa gugup dan salah tingkah saat ini. Tapi kenapa aku malah merasa sedih?” Ucap Sooyoung dalam hati.

_____

Sooyoung POV

Hahh.. ini sudah tengah malam tapi mataku sama sekali tak mau terpejam. Kulihat Kyuhyun yang sejak tadi tidak bergerak. Apa dia sudah tidur? “Oppa, apa kau sudah tidur?” Tanyaku pelan. Haish… dia sama sekali tak bergeming. Sepertinya dia sudah tidur.

“Oppa apa kau marah soal adegan itu? Jika iya, aku minta maaf. Adegan itu, awalnya dilakukan pura-pura saja dan mengakalinya dengan beberapa gerakan agar terlihat seperti nyata. Tapi, sepertinya lawan mainku melakukan kesalahan. Aku juga tak menyangka itu terjadi”.

Kulihat Kyuhyun masih tidak bergerak. Hah… aku ini menyedihkan sekali. Bicara sendiri. Akh, mataku perih lagi. Jangan nangis. Jangan biarkan air matamu mengalir Sooyoung!

“Oppa, paling tidak dengarlah penjelasku dulu. Kalau oppa terus bersikap tidak peduli, tak mau bicara dan melihatku, rasanya sungguh tidak nyaman. Hatiku sangat sakit….”.

Haaaiiiiiihhh.. air mataku tak bisa kubendung lagi. Tumpah sudah. Ku tarik selimut sampai menutupi wajahku. Malu sekali. Kenapa aku jadi cengeng begini? Memalukan! Lebih baik aku tidur. Ayo mata mengantuklah… jangan terus mengeluarkan air mata.

“GREP”

Tiba-tiba kurasakan tubuhku seperti dihimpit. Aduh, kenapa sesak begini. Kubuka selimut yang menutupi wajahku. Astaga, Kyuhyun memelukku. Bisa kurasakan hembusan nafasnya diwajahku. Dia menatapku dalam. Aku gugup sekali. Jantungku rasanya mau copot.

“O,oppa…mmph!”

Kyuhyun menariku semakin erat kepelukannya. Ditelungkupkannya kepalaku ke dadanya. Tubuhnya sangat hangat. Ya Tuhan, aku bisa meleleh kalau begini…

“Jangan menangis. Kau sudah kumaafkan…”.

Apa? Kyuhyun bilang apa tadi? Memaafkanku?

_____TBC_____

 Maaf kalau ada kesalahan penulisan…

Terimakasih sudah membaca.. Jangan bosan ya! hahahaha!

LOVE (Part 4)

LOVE (Part 4)

Judul: LOVE

Author:  Likyuyoung

Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun,

Genre : Romance

Rating: PG+16

Hallooo saya kembali setelah sekian lama… maaf saya baru post sekarang. Selain ada pekerjaan lain yang harus saya kerjakan, saya juga butuh ilham untuk nerusin cerita ini.

Terus terang saya nggak yakin dengan part kali ini. Tapi saya tetap minta kritik dan saran yang membangun dari para reader sekalian.

So, this is it…  Happy reading!! ^^

“Ke, kenapa oppa?”

“Tidak apa-apa… ventilasinya sudah bersih.”

_____

Kyuhyun POV

Aku berjalan pergi meninggalkan Sooyoung yang menatapku dengan wajah heran. Aku tak suka. Aku tak suka dengan jawabannya. Bukan jawaban seperti itu yang ingin kudengar. Walau aku sudah tau bagaiman ceritanya –terutama adegan ciuman itu- Tapi aku ingin dia mengatakannya.

Aku tidak tau kenapa aku seperti ini. Yang jelas, semakin lama aku semakin tidak senang jika mengingat drama itu. Aneh memang, tapi itulah yang kurasakan.

“Oppa?”

Tanpa kusadari Sooyoung sudah ada dibelakangku. Ekspresinya masih tampak heran.

“Oppa kenapa?” Tanyanya pelan.

“Apanya?” aku pura-pura tidak tau.

“Emm…  tadi sepertinya oppa terlihat marah. Apa aku melakukan kesalahan?” Ucapnya sambil melangkah semakin dekat denganku.

“DEG”. Jantungku, lagi-lagi berdetak kencang. Wajah Sooyoung semakin dekat. Matanya yang bening itu tanpa jelas kulihat. Bibirnya yang terbuka dan tertutup saat bicara. Bibirnya yang tipis, pink merona walau tanpa lipstick sekalipun. Eh, Tunggu! Kenapa sekarang aku jadi membicarakan soal bibirnya. Bukannya aku tadi sedang kesal padanya.

“Oppa, kenapa diam?” Tanyanya lagi.

Tubuhnya yang semakin dekat itu, membuatku terpaksa mundur satu langkah. “Tidak apa-apa, lebih baik kau lanjutkan saja pekerjaanmu..” Jawabku lalu melangkah menuju kamarku.

Jantungku masih bedegup kencang. Baru kali ini aku gugup jika berhadapan dengan wanita. Ah, tidak mungkin aku suka pada Sooyoung ‘kan? Bagaimana bisa? Mustahil. Dia cuma gadis biasa. Daya tariknya sama sekali tidak ada. Kuakui dia baik, rajin, dan manis. Tapi, kalau cuma hal-hal seperti itu, wanita-wanita di luar sana juga banyak. Apa yang spesial darinya sampai aku bisa suka padanya?

____

Sooyoung POV

Ada apa dengan Kyuhyun? Dia terlihat panik. Aku merasa tidak melakukan sesuatu yang aneh. Kalau dipikir sekarang ini sikap Kyuhyun memang berbeda dibanding dulu. Sewaktu-waktu dia bisa menujukkan rasa marah atau tidak suka. Dulu ‘kan cuek sekali. Mau ada angin topan, tornado, badai, bumi gonjang ganjing sekalipun dia akan tetap stay cool.

Can you feel my heart? (Eh Eh, Eh Eh)~~

Can you read my mind? (Eh Eh, Eh Eh)~~

Nun bicheuro nan, beolsseo gobaek haet janha yo~~

Oraet dongan dada dun mameul (mameul)~~

Shib chogan man yeoreo dul teni(Teni)~~

Mangseoriji malgo, Just say yes!

Ah, bunyi handphoneku terdengar dari kamarku. Aku berlari kecil mengambil handphone yang ada di atas meja belajarku. Kulihat layar ponselku yang bertuliskan nama seseorang yang kukenal. “Changmin”. Mau apa orang ini?

“Hallo!”

“Hallo, ini aku”

“Iya. Ada apa menelpon? ”

“Aku cuma mau mengingatkan. Besok gladi kotor untuk latihan drama. Jangan sampai tidak datang!”

“Aku tau! Tidak perlu kau bilang!”

“…..”

“…..”

Loh, kenapa jadi diam? Apa aku terlalu kasar bicara?

“Kenapa diam?” Tanyanya.

“Karena kau diam.”

“ohh, ya sudah kalau begitu. Sudah ya!”

“TEK”

Apa itu? Menelponku hanya untuk itu? Aneh. Kenapa orang-orang makin hari makin aneh sih. Kyuhyun. Changmin. Berikutnya siapa? Aku? Hah, jangan sampai.

____

Keesokan hari~~

Auditorium

Author POV

Semua mahasiswa digedung auditorium tampak sibuk mempersiapkan drama yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi. Sooyoung dan teman-temannya sedang sibuk berlatih. Sooyoung sudah tidak canggung lagi berhadapan dengan Changmin. Beberapa adegan romantis bisa dilalui dengan lancar.

“Putri, aku mencintaimu..”

“Aku juga pangeran…”

Adegan terakhir dimulai. Wajah Sooyoung dan Changmin mulai saling mendekat. “30 cm, 20 cm, 10 cm…” Sooyoung menghitung dalam hati. Jarak mereka sudah sangat dekat. Changmin menaikan tangannya ke wajah Sooyoung sehingga menutupi jarak bibir mereka. Walau tidak terlihat oleh mata penonton, tapi itu sudah menggambarkan adegan ciuman yang romantis. Ditambah lagi, akting Changmin yang penuh penghayatan membuat adegan itu terlihat nyata.

“WUUUUUUUUUUUUUUUUUUU!!!!!!!!!””

Mahasiswa yang menonton spontan berseru ketika melihat adegan itu.

Wajah Sooyoung bersemu merah karena malu sekaligus senang karena aktingnya berhasil. Changmin menepuk bahu Sooyoung pelan, “Bagus!” Ucapnya sambil tersenyum . Sooyoung membalas senyum itu.

Changmin tampak diam sejenak. Wajahnya terlihat agak kaget. Kaget karena melihat senyum yang baru dilihatnya. “Senyum yang manis…” batinnya. Sooyoung tidak memperhatikan ekspresi Changmin. Dia hanya sibuk memperhatikan reaksi teman-teman yang ribut bersorak.

____

Pukul 12.20 Siang hari~~

Sooyoung dan Yuri sedang asik mengobrol ditaman kampus. mereka duduk dibangku panjang sambil menyantap makan siang yang baru mereka beli.

“Hei, tadi aktingmu bagus. Hebat kamu!” puji Yuri disela-sela makannya.

“Hehe, terimakasih. Aku benar-benar berusaha saat melakukannya loohh…”

“Iya, aku tau. Sangat jelas terlihat kau berusaha menahan diri saat adegan itu”

“hehehe….”

“Eh, tapi akhir-akhir ini kulihat sikapmu sudah tidak canggung lagi pada Changmin. Bagaimana bisa?”

“Entah lah, aku juga tidak tau. Mungkin karena sudah terbiasa dengan ocehan dan sikap egoisnya itu”.

“Hooo… Jangan bilang kau suka padanya….” Goda Yuri yang sontak membuat Sooyoung tersedak makanannya.

“Uhukk! Yuri! Mana mungkin lah!”

“Hahahahahha..aku bercanda. Ah, atau mungkin malah dia suka padamu…” lanjut Yuri.

“YURI!” Mata Sooyoung membulat.

“HAHAHAHA!!!! Baiklah.. baiklah..”

Sooyoung menatap tajam Yuri sambil meneruskan mengunyah makanan yang ada dimulutnya. Yuri masih cekikikan karena geli dengan reaksi Sooyoung.

“Ehem!” tegur seseorang tiba-tiba.

Sooyoung dan Yuri menatap ke arah sumber suara. Ternyata Changmin sudah berdiri di samping mereka. “Aku dengar, tadi kalian menyebut-nyebut namaku. Ada apa ya?” Tanya Changmin sambil menatap kearah Sooyoung. Kedua gadis itu sama-sama menelan ludah.

“Eh, anu… tidak kok!” Jawab Sooyoung terbata. Yuri ada disamping Sooyoung hanya menunduk karena malu. Changmin tersenyum singkat melihat tingkah panik kedua gadis itu.

“Kalian sedang apa disini?” tanya Changmin lagi.

“Kami cuma ngobrol sambil makan siang saja. Kau sendiri ada apa kemari?” Tanya Sooyoung yang merasa terusik dengan datang Changmin yang tiba-tiba itu.

“Tadi aku bertemu Siwon, ketua kalian. Dia mencari Yuri”. Jawab Changmin.

Yuri yang mendengar hal itu, langsung mendongakkan kepalanya. Dibereskannya barang-barangnya secepat kilat lalu berdiri. “Sooyoung, aku pergi menemui Siwon dulu ya. Dah!!!” ucapnya lalu berlari kecil meninggalkan Sooyoung dan Changmin berdua.

“Apa-apaan Yuri itu. Kenapa aku ditinggal… Aish…” Gumam Sooyoung dalam hati.

Changmin masih berdiri dihadapan Sooyoung. Menatap gadis itu dengan santai. Sooyoung pun mulai salah tingkah.“Aku mau makan siang juga. Geser sedikit. Aku mau duduk” Ucap Changmin. Sooyoung pun terpaksa menggeser posisi duduknya dan memberi tempat untuk Changmin. Changmin membuka tasnya dan mengeluarkan kotak makanan miliknya. Sooyoung tampak kaget melihatnya.

“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Changmin ketus.

“Ah, tidak. Aku hanya tak menyangka kau membawa bekal makanan”.

“Aku tidak biasa makan makanan luar”.

“Kenapa?” Tanya Sooyoung penasaran.

“Dari kecil aku sudah dibiasakan untuk makan makanan buatan rumah”.

“Hooo, Anak mama ya… hahahahah” Ucap Sooyoung spontan.

“Bukan begitu! Waktu kecil aku pernah sakit parah karena makan makanan luar. Sejak itu keluargaku jadi sangat protektif”.

“Oh..” Sooyoung mengangguk paham.

“Sudah jangan bicara lagi. Makan saja makananmu!”

Mereka berdua akhirnya makan siang bersama. Sesekali Sooyoung melirik ke arah Changmin, karena sebenarnya dia tidak nyaman duduk bersebelahan dengan pria itu.

“Hei Sooyoung.” Panggil Changmin tiba-tiba.

“Apa?”

“Saat pentas nanti, jangan bikin malu ya!”

“Hah?! Kenapa tiba-tiba bilang begitu?”

“Karena kau itu pengacau!”

“Apa?! Yak, aku sudah berusaha tau! Kau saja yang terlalu mengatur dan banyak maunya!”

“Aku begitu karena ingin hasil yang terbaik. Yang lain bisa melakukannya dengan baik. Kau saja yang payah!”

“Aku ‘kan memang bukan mahasiswa seni peran. Wajar saja kalau aktingku tidak sebagus mereka. Aku saja heran kenapa aku mendapat peran itu. Aku pikir aku akan diberi peran pendukung!”

“Alasan!”

“YA! CHANGMIN!!!!” bentak Sooyoung dengan wajah memerah karena kesal.

“HAHAHAHAHAHA!! Kau lucu ya!” Changmin tertawa lepas. Sooyoung terkejut melihatnya. Dia tidak menyangka kalau Changmin bisa tertawa seperti itu.

“Kenapa?” Tanya Changmin yang heran melihat Sooyoung terdiam.

“Baru kali ini kulihat kau tertawa”.

Changmin pun baru menyadari hal itu. Sudah lama dia tidak tertawa selepas itu. Apalagi di depan seorang gadis. Tiba-tiba telinga Changmin memerah. Merah karena malu. “Eh, telingamu merah!” Ucap Sooyoung kaget. Changmin pun segera menutupi telinganya.  “Waaahhh… kau malu ya?! Lanjut Sooyoung yang semakin membuat Changmin malu.

“Sudah! Aku mau kembali ke auditorium!” Ucap Changmin sambil membereskan kotak makanannya. Dia pun pergi meninggalkan Sooyoung sendirian. Sooyoung hanya tersenyum geli melihat Changmin yang seperti itu.

“DRR…. DRR…” Tiba-tiba handphone Sooyoung bergetar. Ada pesan masuk.

From: Kyuhyuhn Oppa

Apa kau sudah makan?

“Kyuhyun? Tumben dia bertanya” Batin Sooyoung. Dengan senang hati dia membalas pesan dari suaminya itu.

To: Kyuhyun Oppa

Sudah. Oppa bagaimana?

“DRR..DRR..” Tak lama pesan balasan dari Kyuhyun masuk.

From: Kyuhyuhn Oppa

Sudah.

Oh ya, maaf kemarin aku bersikap aneh.

Sooyoung sedikit terkejut membaca pesan itu. Ternyata Kyuhyun merasa tidak enak dengan sikapnya kemarin.

To: Kyuhyun Oppa

Tidak apa-apa oppa..

 

“DRR…DRR….”

From: Kyuhyuhn Oppa

Jam berapa kau pulang? Mau pulang sama-sama?

 

To: Kyuhyun Oppa

Jam 5 sore. Oppa bisa jemput?

 

“DRR…DRR….”

From: Kyuhyuhn Oppa

Bisa. Nanti aku jemput setelah pulang kerja.

Sooyoung tersenyum menatap handphonenya. Jika dipikir, obrolannya dengan Kyuhyun tadi sudah seperti pasangan suami istri sebenarnya. Bertanya keadaan masing-masing. Pulang bersama.

“Ah, aku mulai lagi. Berpikir aneh lagi. Bodohnya!” gumam Sooyoung.

_____

Kyuhyun POV

Office

Aku menatap handphone ditangan kananku. Kubaca lagi pesan dari Sooyoung. Syukurlah dia tidak marah karena sikap anehku kemarin.

“Kyuhyun, kau sudah makan siang?” Tanya seseorang tiba-tiba.

Itu Donghae (maaf author baru munculin tokoh ini). Dia sahabatku dikantor. Kebiasaannya memang masuk ruangan tanpa mengetuk pintu dulu.

“Aku sudah makan..”

“Oh.. Eh tunggu. Kau tadi senyum-senyum sendiri. Tidak biasanya. Hayo ada apa?” Tanyanya menyelidik.

“Bukan apa-apa.. Sudah, sana!”

“Tidak mau. Ayo ceritakan apa yang terjadi?”

“Cish. Kau ini seperti perempuan saja. Mau tau urusan orang!”

“Hei, aku ini sahabatmu. Temanmu dari SMA sampai sekarang. Jangan ada rahasia di antara kita. Ayo ceritakan!” Ucapnya sambil duduk dikursi yang ada di depan meja kerjaku.

“Aku tadi hanya minta maaf pada Sooyoung. Itu saja.”

“Minta maaf untuk apa?”

“Bersikap aneh.”

“Hah? Kau berbuat apa padanya? Jangan bilang kau menyerangnya saat dia tidur?!”

“Hei! Jangan samakan aku denganmu. Aku tidak semesum itu!”

“Lalu?”

Aku menceritakan semuanya pada Donghae termasuk sikap anehku akhir-akhir ini. Aku memang sering bercerita padanya jika ada masalah, dan dia selalu member saran yang ku akui sangat membantu. Kadang aku heran, bagaimana orang seprti dia bisa mengeluarkan kata-kata bijak.

“Hmm.. ternyata begitu”. Ucap Donghae menanggapi ceritaku.

“Iya, nanti aku akan menjemputnya pulang. Ah, apa sekalian saja aku mengajaknya makan diluar? Selama ini kami tidak pernah makan bersama selain di rumah”.

“Boleh juga. Itu ide yang bagus”.

“Benarkah? Baiklah aku akan mengajaknya nanti…”

“Hmmm… Ternyata memang seperti yang kupikirkan..” Ucapnya tiba-tiba.

“Apanya?”

“Kau suka padanya”.

“Apa?”

“Kau benar-benar suka pada istrimu itu. Sikapmu itu tidak seperti biasanya. Baru kali ini aku melihatmu bersikap baik pada perempuan. Biasanya walau ada topan, badai, bumi gonjang ganjing (Lebay) kau akan cuek-cuek saja”.

Aku terdiam mendengarnya. Apa iya? Apa aku suka pada Sooyoung. Kalau Donghae sampai mengatakannya, berarti…

“Hahaha. Terlihat jelas kau memang suka. Ya sudah kalau begitu. Aku mau makan siang dulu. Bye!’ Ucapnya seraya meninggalkan ruangku.

____

Sooyoun POV

Pukul 05.00 Sore hari.

Akhirnya latihan selesai. Teman-teman yang lain sudah bersiap untuk pulang. Semua terlihat kelelahan, termasuk aku juga. Tinggal latihan sekali lagi untuk gladi kotor maka semua penderitaan ini akan berakhir. Huft.

“Sooyoung kau mau pulang?” Tanya Yuri dari kejauhan.

“Iya. Aku duluan ya!”

Aku segera bejalan menuju gerbang depan kampus. Aku takut Kyuhyun sudah menungguku di sana. Dan benar saja. Sosok pria tinggi, berpakaian rapi, sedang berdiri menyender pada mobil sedan silver miliknya. Dia terlihat keren. Nah, mulai otakku berpikir aneh lagi.

“Oppa!” Aku memanggilnya. Dia membalasku dengan senyuman. Aku melangkah mendekatinya.

“Ayo kita pulang” Lanjutku.

“Sebelum pulang, kita makan dulu ya. Apa kau mau?”

Kyuhyun mengajakku makan? Aku tidak salah dengar ‘kan? Kenapa dia jadi baik begini. Ah, tapi sebenarnya aku juga lapar. Ini sudah sore, kalau sampai di rumah aku masih harus masak makan malam lagi. Capek sekali.

“Makan dimana?”

“Ada restaurant enak tempat biasa kau datangi”.

“Oh, baiklah”.

Kami pun berangkat menuju restaurant yang dimaksud Kyuhyun. Ternyata restaurant korea biasa. Ternyata selera Kyuhyun seperti ini. Kupikir dia hanya mau makan makanan mahal.

Tak lama setelah kami memesan, makananmu datang. Kami pun menyantapnya dengan lahap. Kulihat Kyuhyun makan dengan antusias.

“Ada apa? Kau tidak suka makanannya?” Tanyanya yang menyadari dipandangi olehku.

“Ah tidak.  Aku hanya tidak menyangka oppa suka makan makanan seperti ini”.

“Oh, Sebenarnya aku suka semua jenis makanan. Barat ataupun Korea. Yang penting sehat dan enak”.

“Hmmm…” Ternyata Kyuhyun suka makan. Aku baru tahu.

Beberapa menit berselang, aku dan Kyuhyun sudah selesai makan. Kami keluar dari restaurant dengan perut kenyang dan melangkah menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari restaurant.

“Sooyoung” Panggil Kyuhyun sambil menarik tanganku. Aku menoleh padanya.

“Di depan ada taman, kita jalan-jalan santai di sana sebenar ya”.

Aku mengalihkan mataku ke arah yang dimaksud Kyuhyun. Memang ada taman di sana. Tidak luas, tapi sangat indah dan tertata rapi. Tapi, kenapa Kyuhyun mengajakku ke sana?

“Baiklah” jawabku.

Kami berjalan santai mengelilingi taman. Tidak terlalu banyak orang di sini.

“Sooyoung”.

“Hem?”

“Apa kau terganggu dengan sikap anehku belakangan ini?”

“Eh, kenapa bertanya begitu oppa?”

“Tidak apa-apa, aku mau tau saja..”

“Oh…. Sebenarnya tidak. Hanya terkadang membuatku bingung saja”.

“Hem, Terus terang aku sendiri juga tidak tau kenapa aku seperti itu”. Kyuhyun tersenyum simpul. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan menatapku dalam. “Sooyoung” Lanjutnya.

“DEG..DEG”. Eh, lagi-lagi jantungku. Masa hanya karena ditatap olehnya seperti itu aku jadi gugup.“Ya..?” Ucapku menahan rasa gugupku.

“Aku menceritakan hal aneh yang terjadi padaku akhir-akhir ini pada sahabatku. Dia bilang sesuatu telah terjadi padaku”.

“Eh, Terjadi sesuatu? Apa oppa?” Tanyaku penasaran. Suasana hening sejenak. Aku hanya mendengar desiran angin malam dan suara pohon-pohon yang bergoyang.

“Dia bilang, mungkin aku suka padamu…”

Mataku membulat mendengar ucapan Kyuhyun. Apa katanya? Dia suka padaku?

“Sooyoung, jika hal itu benar. Jika benar aku suka padamu… Apa itu boleh?”

Aku hanya diam. Aku bingung dan tidak tau harus menjawab apa. Aku tidak tau apa aku harus senang atau tidak. “Oppa, maaf… Aku bingung.. Aku tidak tahu harus bilang apa…” Ucapku.

Tiba-tiba Kyuhyun menyentuh kepalaku dengan tangannya yang hangat. “Aku tahu. Maaf kalau aku membuatmu bingung. Sebaiknya kita pulang sekarang” Ucapnya sambil tersenyum. Tatapannya membuatku malu. Aih, pasti pipiku memerah saat ini.

____

Beberapa hari kemudian~~

Kyuhyun POV

Beberapa hari berlalu sejak aku mengatakan tentang perasaanku pada Sooyoung. Terkadang dia bersikap canggung. Sesekali wajah merah karena melihatku. Tapi, dia masih belum menjawab pertanyaanku. Mungkin dia masih binggung. Lebih baik aku bersabar dan memberinya waktu.

“Sooyoung ayo berangkat” ucapku.

Ya, sejak saat itu, aku selalu berangkat bersama Sooyoung. Kupikir dengan begini, kami bisa lebih dekat lagi.

“Ya oppa…” Jawabnya. Dia melihatku sebentar lalu mengalihkan padanganya. Dia malu lagi. Lucu sekali.

Selama perjalanan Sooyoung hanya diam menatap jalan yang kami lewati.

“Festival kampusmu sudah dimulai ya?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Iya oppa. Hari ini Festivalnya dimulai. Kami mengadakan bazaar.”

“Berarti besok drama kalian akan dipentaskan?”

“Iya. Hari ini persiapan terakhir”.

“Hmm… Apa kau akan pulang terlambat nanti?”

“Iya oppa… Aku juga akan membantu teman-teman yang lain untuk festival hari ini. Maaf, aku tidak bisa menyiapkan makan malam…”

“Tidak apa…”

Beberapa menit kemudian kami sampai di depan kampus. Sooyoung berpamitan padaku lalu pergi.

_____

Auditorium~~

Author POV

Dekorasi panggung telah siap untuk digunakan besok hari. Sooyoung dan pemeran yang lain sedang mencoba kostum mereka. Yang pertama Sooyoung mencoba gaun kusut berwarna coklat untuk segment menyedihkan, dan gaun indah berwarna pink muda yang dihiasi dengan renda dibeberapa  sisinya. Nyaris seperti gaun pengantin.

“Hemmm….”

Sooyoung berputar beberapa kali. Melihat setiap sisi dirinya yang menggunakan gaun pink itu.

“Wah, kau terlihat cantik Sooyoung!” ucap Yuri yang sudah berdiri didekat Sooyoung.

“Apa iya?”

Yuri mengangguk. “Kau terlihat seperti putri..”

Sooyoung tersenyum senang mendengarnya.

“Oh ya, Changmin juga sedang mencoba kostumnya. Dia terlihat sangat tampan”.

“Masa? Aku tidak yakin”. Ucap Sooyoung cuek.

“Apanya yang tidak yakin?” Tanya Changmin tiba-tiba. Entah sejak kapan dia sudah ada didekat kedua gadis itu. Sooyoung menatap Changmin tak percaya. Dia memang terlihat tampan dengan kostum pangeran itu.

“Kenapa, kaget melihatku setampan ini?”

“Hah?! Dasar narsis!”

Yuri yang merasa tidak enak berada diantara Sooyoung dan Changmin memutuskan untuk mundur perlahan. “Baiklah, sepertinya pangeran dan puteri sudah bertemu. Sebaiknya aku pergi ya…” Ucapnya.

Suasana hening tiba-tiba. Changmin menatap Sooyoung yang berpakai seperti puteri. “Ternyata dia bisa terlihat cantik juga…” pikirnya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Sooyoung yang risih.

“Tidak apa-apa. Hati-hati menggunakan gaun itu. jangan sampai kau merusaknya!”. Ucap Changmin lalu berbalik meninggalkan Sooyoung.

“Apa?! Ya, Changmin!!”

_____

Keesokan harinya.

Home~~

Kyuhyun POV

Hari ini Sooyoung akan tampil dalam dramanya. Tapi, sampai saat ini dia masih belum mengatakan soal adegan ciumannya itu secara langsung  padaku. Apa dia akan benar-benar melakukan adegan itu, walaupun sekarang dia sudah tau tentang perasaanku padanya?

Aku berjalan menuju dapur. Sooyoung terlihat sedang sibuk menyiapkan sarapan. “Pagi” sapaku. Dia menoleh. “Pagi juga oppa… ayo sarapan” Ucapnya sambil tersenyum.

“Hari ini kau akan tampil ya?” Tanyaku membuka perbincangan.

“Iya. Acaranya akan dimulai sore hari.  Apa oppa akan datang menonton?”

“Hem, akan kuusahakan”. Jawabku.

Kami melanjutkan sarapan kami, lalu bergegas berangkat. Sooyoung membawa banyak barang. Sepertinya perlengkapannya untuk drama. Dia terlihat sangat antusias.

“Oppa, terimakasih ya”. Katanya saat kami sampai di depan kampus. Aku hanya tersenyum. Sepanjang jalan tadi yang ada dipikiranku hanya adegan drama itu. Aku rasa tidak berlebihan jika aku menghawatirkan hal itu. Aku suaminya, terlebih lagi kini aku menyadari aku suka padanya. Jadi wajarlah jika aku tidak mau dia disentuh pria lain.

____

Auditorium

Author POV

Mahasiswa sibuk lalu lalang melakukan persiapan. Dekorasi dan tata panggung sudah hampir selesai. Para pemeran sedang bersiap memakai kostum mereka masing-masing dan berdandan. Semua tampak gugup. Terutama Sooyoung. Beberapa kali dia modar mandir menghafal setiap dialognya.

Changmin yang melihat Sooyung seperti itu, lalu mendatanginya. “Kau gugup ya?” tanyanya. Sooyoung hanya mengangguk. “Ini, ambilah”. Changmin memberikan sekotak susu coklat pada Sooyoung. Ia pernah dengar kalau coklat dapat memberikan rasa tenang. Sooyoung menatap Changmin heran.

“Apa maksudnya ini?”

“Sudah.. minum saja biar kau tenang. Aku tak mau karena gugupmu itu, drama ini jadi kacau!”

Sooyoung mengkerucutkan bibirnya, namun tetap menerima pemberian Changmin itu. Dia pikir, setidaknya dengan minuman itu bisa membuatnya lebih rileks.

“Lakukan tugasmu dengan baik, puteri!” Lanjut Changmin lagi. Tapi kali ini dia tidak bermaksud mengejek. Dia benar-benar mengatakan itu untuk menyemangati Sooyoung.

“Iya, aku tahu!” jawab Sooyoung ketus.

____

Beberapa jam berlalu. Persiapan telah selesai. Tamu mulai berdatangan mulai dari dosen, mahasiswa, dan orang-orang dari luar kampus termasuk Kyuhyun. Dia memutuskan untuk datang melihat drama itu. Dengan seikat bunga lili putih ditangannya, Kyuhyun memasuki gedung auditorium itu. Kyuhyun berencana untuk memberikan bunga itu pada Sooyoung saat nanti bertemu.

“Kyuhyun-ssi!” Sapa seseorang tiba-tiba.

“Oh, Kau.. teman Sooyoung bukan?!”

“Iya. Aku Yuri. Kau datang untuk melihat drama kami ya?”

“Iya..”

“Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu ya..”

Yuri membukukan tubuhnya lalu pergi ke belakang panggung. Dia ingin menyampaikan pada Sooyoung soal kedatangan suaminya.

“Sooyoung!”. Panggil Yuri saat Sooyoung sedang diruang rias.

“Apa?”

“Tadi aku bertemu Kyuhyun di depan”.

“Apa? Yang benar? Ternyata dia benar-benar datang…”

“Bukankah kau harusnya senang?”

“Iya aku tau. Hanya saja, aku sedikit kawatir jika dia melihat adegan terakhir itu!”

“Loh, kupikir masalah itu sudah selesai kau urus. Ternyata masih berlanjut?”

“Malah semakin runyam. Beberapa waktu lalu, Kyuhyun bilang dia suka padaku. Makanya sekarang aku jadi semakin kawatir”.

“Apa? Dia suka padamu? Kenapa kau tidak cerita padaku?”

“Haduh… ini bukan saat yang tepat. Semuanya terjadi begitu saja”.

“Tapi, adegan itu ‘kan sudah kau diskusikan pada Changmin. Sudah tidak jadi masalah lagi kan?”

“Memang benar.. tapi aku tetap kawatir..”

“Sudah… jangan dipikirkan. Sekarang kau fokus saja pada drama ini. Semangat!!!”

Sooyoung hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan Yuri dan berharap yang dikatakan Yuri benar. Semuanya akan lancar, dan tidak jadi masalah.

Setelah semua tamu mengisi tempat duduk yang telah disediakan, drama pun dimulai. Semua penonton antusis menonton setiap segment dalam drama itu.

Ketika Changmin muncul, terdengar teriakan dari beberapa gadis yang menonton. Gadis-gadis itu tampak terpesona dengan penampilan Changmin. “OPPAAAA!!!!” teriak salah satu gadis.

Drama itu terus berlanjut dan sampailah pada segment terakhir yang sudah ditunggu-tunggu. Dengan perasaan cemas Kyuhyun menanti detik-detik adegan yang dikawatirkannya itu.

Sooyoung mulai melangkah ketengah panggung, disusul Changmin dari sisi lain panggung.

“Putri, aku mencintaimu..”

“Aku juga pangeran…”

Penonton pun mulai ribut karena mendengar kalimat-kalimat romantis itu.

Sooyoung menatap Changmin dengan tenang. Wajah mereka semakin lama semakin dekat. Tiba-tiba Changmin tersenyum, membuat Sooyoung heran. “Kenapa dia tersenyum seperti itu?” Batin Sooyoung.

“Kau cantik…” Ucap Changmin.

Kedua alis Sooyoung bertaut. Dia heran mendengar kalimat Changmin . Kalimat itu tidak seharusnya ada dalam adegan ini. Sooyoung mulai panik. Lalu tiba-tiba…

“CHUP”

Bibir Changmin tepat mendarat dibibir Sooyoung. Mata Sooyoung membulat. Tangannya secara spontan mendorong tubuh Changmin, namun pria itu dengan sigap menarik tubuh Sooyoung lebih dekat dengannya.

“Bagaimana ini????????????!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” Teriak Sooyoung dalam hati.

 

_____TBC______

Jika ada kesalahan penulisan atau lainnya. mohon maklum… (-____-”")

LOVE (Part 3)

LOVE (Part 3)

Judul: LOVE

Author:  Likyuyoung

Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun,

Genre : Romance

Rating: PG+16

Halo, saya kembali. Terimakasih buat para reader yang udah baca dan kasih comment. Tapi, dari comment yang saya baca, sepertinya banyak yang ga terlalu suka kalau ada Changmin. Kenapa ya? saya sedikit heran sih. Walau begitu saya harap kalian tetap suka ceritanya. Tolong di beri komentar ya… Ok, Happy reading!!!

Home, pukul 12.30 siang~~

Sooyoung POV

“Ennnnggg……………”

Aku membuka mataku perlahan. Kepalaku pusing dan badanku rasanya mau terbakar karena panas. Kenapa aku bisa sakit sih? Kulihat sekitar, ternyata aku masih di kamar. Aku coba untuk duduk walau sebenarnya badanku terasa berat. Kulihat jam waker, ternyata sudah siang. Agh, sudah terlalu siang untuk ke kampus. Terpaksa latihan drama hari ini, aku tidak hadir.

Kulihat dimeja ada obat penurun panas.  Kapan ada obat disitu? Apa tadi Kyuhyun membelinya? Keningku mengkerut. Tiba-tiba aku jadi teringat sesuatu.

“Oppaaaaa… Apa kau tidak peduli aku akan ciuman dengan orang laiiinnnnnnn??????”

“CHUP”

“hmm… Aku akan berciuman dengan pangeran seperti itu oppa… hmmmm… apa kau tidak marah jika aku berciuman dengan pangeraaannn????

 

“Astaga! Apa yang kulakukan?! Aku mencium Kyuhyun?!”

Bodohnya aku. Sekarang bagaimana caranya aku menghadapinya. Memalukan sekali. Apa yang dipikirkan Kyuhyun tentang aku saat ini? Jangan-jangan dia marah. Mungkin sebaiknya jangan bertemu dia dulu. Aku tidak punya muka untuk menghadapinya.

Aku bangkit dari tempat tidur perlahan. Bajuku sudah basah karena keringat. Aku mau mandi dulu saja. Siapa tau dengan mandi badanku lebih enakan. Sambil memegang dinding sebagai tumpuan agar tidak jatuh aku melangkah pelan kearah kamar mandi. Kulepaskan pakaianku dan membuka keran yang terhubung dengan shower. Aih. Segar sekali saat air menyentuh tubuhku. Sampoo dan mengusapkannya dikepala sampai berbusa. Kulanjutkan dengan menyabuni tubuhku dengan sabunmandi aroma lafender kesukaanku.

Satu tanganku masih bertumpu pada dinding. Badanku masih terasa goyang karena pusing. Tanpaku sadari busa sampo dikepalaku mengalir ke wajahku dan mengenai mataku.

“Perihhh!”

Cepat-cepat kuarahkan kepalaku kearah shower. Air mengalir deras dari atas kepalaku. Membawa semua busa mengalir turun kelantai kamar mandi. Tapi kenapa mataku masih perih? Kugosok mataku pelan. Masih belum menghilangkan rasa perihnya. Ku coba meraba mencari handuk. Dimana handuknya? biasanya kugantung didinding? Aku melangkah pelan dan terus meraba dinding. Tapi,

“AAAAAAAAAAAA………….”

_____

 

Kyuhyun POV

Oppaaaaa… Apa kau tidak peduli aku akan ciuman dengan orang laiiinnnnnnn??????”

“CHUP”

 

Sambil menyiapkan makanan yang baru kubeli dari restoran, aku menghela nafas panjang. Agh, aku terus memikirkan kejadian itu. Walau sepertinya Sooyoung tidak sadar saat melakukannya. Tapi, tetap saja itu sebuah ciuman. Apa gara-gara adegan dramanya itu, dia jadi sakit begitu? Apa adegan itu jadi beban pikirannya?

“AAAAAAAAAAAA………….”

Aku terkejut. Itu suara Sooyoung. Dia kenapa? Aku berlari kekamarnya. Dia tidak ada ditempat tidur.

“Sooyoung?” Panggilku.

“O..ppaa…”Kudengan suaranya sayup-sayup. Mataku terus mencari keberadaannya. Aku berjalan kearah kamar mandi. Sepertinya suaranya berasal dari sana.

“Sooyoung…” Aku mendekati pintu kamar mandi.

“Jangan kesini.. Oppa…” Ucap Sooyoung dari dalam.

“Kau kenapa?”

“A,Aku…. Eng….”

Suaranya makin tidak jelas. Aku putuskan untuk membuka pintu kamar mandi perlahan.

“ASTAGA!!!!”

Kututup kembali pintu. Mataku membulat. Aku melihat Sooyoung terbaring dilantai tanpa sehelai benangpun. Wajahku saat ini pasti bersemu merah.

“Soo, Sooyoung… kau tidak apa?”

“Aku… tidak bisa bergeraaakkk….”

Apa? Mungkin tadi dia terpeleset. Kenapa dia mandi saat badannya demam begitu. Segera kuambil selimut yang ada ditempat tidur. Kubuka pintu kamar mandi dan menutupi tubuh Sooyoung. Kuangkat tubuhnya lalu membaringkannya ditempat tidur. Kulihat wajahnya memerah, pasti dia malu sekali. Sebenarnya aku juga malu. Tapi mana mungkin dia kubiarkan begitu saja.

Segera ku telpon dokter yang biasa menangani keluarga kami. Aku ingin telpon ibu. Tapi, Jika ibu kerumah, ibu akan tau kalau aku dan Sooyoung tidak tidur satu kamar. Lebih baik dokter saja yang membantu Sooyoung. Kebetulan dokter itu perempuan.

Tak lama dokter datang dan memeriksa Sooyoung. Aku menunggu dia luar kamar.

“Tuan Cho…” panggil dokter itu.

Aku menoleh dan mendatanginya.

“Bagaimana Sooyoung dok?”

“Ada sedikit lecet ditubuhnya karena terpeleset tadi. Tapi dia tidak apa-apa. Aku juga sudah memberinya obat untuk menurunkan panasnya. Sepertinya dia kelelahan. Dia harus istirahat total selama dua hari”.

“Oh, baiklah dokter..” Aku lega mendengar pernyataan dokter tadi.

“Obat untuk Sooyoung sudah kuletakan dimeja kamarnya. Obat itu harus dimakan sampai habis…” Lanjut dokter.

Aku menundukan kepala. Dokter melangkah pergi.

“Dok!” panggilku tiba-tiba. Dokter menoleh.

“Soal Sooyoung. Tolong jangan bilang ke orangtuaku”.

“Kenapa?”

“Aku.. tidak mau membuat mereka khawatir..”

Dokter tersenyum simpul, mengangguk, lalu pergi. Aku sengaja melarangnya menyampaikan keorang tuaku. Kalau orang tuaku tau soal Sooyoung, mereka pasti kemari. Aku tak mau keadaan rumah tanggaku denganku dan Sooyoung diketahui mereka.

Aku mendatangi Sooyoung lagi. Dia sedang tidur. Tubuhnya sudah mengenakan pakaian. Wajah polosnya saat tidur lucu juga. Bibirnya yang tipis sedikit terbuka. Pasti tidurnya nyenyak sekali. Mungkin karena pengaruh obat.

____

Keesokan pagi~~

Author POV

Pukul enam pagi seperti biasanya Kyuhyun sudah siap berangkat kerja. Tapi sebelum pergi ada hal yang tidak biasa dia lakukan. Membuat bubur untuk Sooyoung.

“Tok, tok” Kyuhyun mengetuk pintu kamar Sooyoung. “Sooyoung aku masuk ya…”

“CKLEK”

Kyuhyun membuka pintu dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memengang nampan dengan semangkuk bubur dan segelas teh manis panas. Sooyoung masih tidur. Kyuhyun memutuskan untuk meletakan makanan itu di atas meja belajar dan meninggalkan pesan di selembah kertas kecil, lalu pergi berangkat kerja.

“BLAM”

Tak lama setelah Kyuhyun pergi, Sooyoung terbangun. Diletakannya tangan kanannya ke dahi. Panasnya sudah turun. Tapi tubuhnya masih terasa sakit. Sooyoung membuka selimutnya dan berusaha bangkit. Matanya menangkap sesuatu di atas meja belajarnya. Dengan tubuh yang masih gontai, dia berjalan mendekati meja belajarnya itu.

“Bubur?” Ucap Sooyoung heran.

Dibacanya selembar kerta yang ada didekat makan itu.

Makanlah selagi panas…

Sooyoung menatap makanan itu sebentar. “Ini dari Kyuhyun ya?”

“KRINGGGGG, KRINNGGGGG, KRINGGGGG” suara telpon rumah berbunyi tiba-tiba.

Sooyoung mengalihkan pandangannya. Dia keluar kamar dan mengangkat telpon.

“Hallo…”

“Hallo, apa itu kau Sooyoung?”

“Iya…”

“Ini ibu, ibu dengar dari Kyuhyun kau sakit. Apa kau baik-baik saja?”

Sooyoung mengkerutkan dahinya. Dia heran siapa yang bicara di seberang telpon. Dia merasa ibunya tidak bersuara selembut itu. “Ah, Ibu Kyuhyun..”. Sooyoung baru ingat kalau sekarang dia punya dua ibu. Ibu kandung dan ibu mertua.

“Ya, bu… aku baik-baik saja”.

“Kemarin Kyuhyun terdengar panik saat menghubungi ibu. Dia bertanya cara membuat bubur. Bagai mana? Apa dia sudah membuatnya? Apa buburnya bisa kau makan? Aku khawatir dia gagal membuatnya”.

Sooyoung membulatkan mata. “Apa? Jadi bubur yang kumakan kemarin dan yang ada di atas meja belajarku, itu Kyuhyun yang buat?” Batin Sooyoung.

“Sooyoung…” Panggil ibu dari seberang telpon membuyarkan lamunan Sooyoung.

“Ya bu.. buburnya kumakan. Enak kok bu…hehe”

“Benarkah? Syukurlah. Aku khawatir dengan keadaanmu. Apa ibu kesana saja untuk merawatmu?”

“APA? Oh, tidak usah bu. Aku sudah mendingan. Ibu tidak perlu repot”. Jawab Sooyung panik.

“Benarkah?”

“Iya bu, Kyuhyun oppa sudah merawatku dengan baik. Ibu tidak usah khawatir”

“Baiklah… jaga dirimu ya. Jika kau butuh sesuatu jangan ragu hubungi ibu…”

“Iya bu.. terimakasih, ibu juga jaga kesehatan..”

Sooyoung menutup telpon dan menghembuskan nafas panjang. Ibu mertuanya membuatnya panik. Takut ibu akan ke rumah. Dia jadi ingat ucapan ibu mertuanya. Ternyata Kyuhyun yang membuat bubur. Kyuhyun  juga panik saat dia sakit.

“Kupikir dia akan cuek-cuek saja…” Gumam Sooyoung.

Sooyoung kembali ke kamarnya. Diambilnya nampan yang ada di meja belajarnya dan membawanya ke ruang TV. Sooyoung memang lebih suka makan di depan TV dibanding di ruang makan. Dinyalakan TV dan mulai menyuapkan bubur itu ke mulutnya. Karena sakit, Sooyoung hanya merasakan rasa hambar dimulutnya.

Can you feel my heart? (Eh Eh, Eh Eh)~~

Can you read my mind? (Eh Eh, Eh Eh)~~

Nun bicheuro nan, beolsseo gobaek haet janha yo~~

Oraet dongan dada dun mameul (mameul)~~

Shib chogan man yeoreo dul teni(Teni)~~

Mangseoriji malgo, Just say yes!

 

Terdengar suara handphone Sooyoung berbunyi dari kamar. Sooyoung menghentikan makannya dan beranjak ke tempat suara handphone berasal. Dari layar tertulis nomor telpon yang tidak dikenalinya.

“Siapa ini?”

Sooyoung mengangkat telpon itu.

“Halo..” Ucap Sooyoung sambil berjalan kembali kearah ruang TV.

“HALO! YA, SOOYOUNG! KAU DIMANA?” Teriak dari seberang telpon membuat Sooyoung menjauhkan handphone-nya dari telinga. Itu suara pria. Tapi Sooyoung tidak tau siapa.

“I,ini siapa?”

“AKU CHANGMIN!!!”

Sooyoung terkejut. Bagaimana bisa pria itu tau nomor telponnya.

“Ada apa? Kenapa kau teriak-teriak begitu?”

“KAU TANYA KENAPA? SEHARUSNYA AKU YANG BERTANYA PADAMU! KENAPA KAU TIDAK DATANG LATIHAN?”

“Maafkan aku. Aku sakit. Aku butuh istirahat selama dua hari”.

“APA? SAKIT? SAKIT APA?” 

“Kau tidak perlu tau. Yang jelas lusa aku baru bisa ikut latihan…”

“Lusa? Kenapa lama sekali. Memangnya kau sakit separah apa sampai istirahat selama itu. Apa tidak bisa besok. Latihan drama ini tidak bisa berjalan kalau pemeran utamanya tidak ada!” Nada suara Changmin mulai menurun satu oktaf (?).

“Aish, badanku masih lemas…”

“Selemas apa? Apa sampai tidak bisa jalan, hah?”

“Bukan begitu…”

“Ah, Aku tidak mau tau. Kalau besok kau tidak muncul, kau akan dapat masalah!”

“Eh, Kau mengancamku?!”

Apa kau tidak sadar. Kau juga mengancam kesuksesan drama ini?! Pokoknya kau harus datang besok. Harus! Harus!”

“KLEK” Changmin menutup telponnya tiba-tiba.

“Apa-apaan dia! Bikin kesal saja!” Sooyoung memelototi handphone-nya.

Kini niatnya untuk melanjutkan makan sudah hilang. Emosinya naik karena sikap Changmin yang luar biasa egois. Baru kali ini dia bertemu dengan pria macam itu.

Can you feel my heart? (Eh Eh, Eh Eh)~~

Can you read my mind? (Eh Eh, Eh Eh)~~

Nun bicheuro nan, beolsseo gobaek haet janha yo~~

Oraet dongan dada dun mameul (mameul)~~

Shib chogan man yeoreo dul teni(Teni)~~

Mangseoriji malgo, Just say yes!

 

Handphone Sooyoung berbunyi lagi. Tanpa melihat layar Sooyoung mengangkat dengan emosi.

“HALO! APALAGI?!”

“…..”

“HALO! CHANGMIN AYO BICARA. ADA APA LAGI?”

“….Sooyoung?”

Mata Sooyoung membulat. Suara itu berbeda dari yang pertama didengarnya. Dijauhkannya handphone dari telinga dan dilihatnya dilayar bertuliskan nama seseorang yang dikenalnya. Kyuhyun.

“Oppa? Maafkan aku… tadi kukira temanku..” Ucap Sooyoung berusaha tidak panik.

“Hhhhmmm….”

 “Ada apa menelpon, oppa?”

“Oh, tidak. Aku cuma mau tanya kabarmu. Tadi kutinggalkan bubur untukmu. Apa sudah kau makan?”

“Sudah oppa. Terimakasih buburnya…”

“Hmm. Apa obatmu sudah kau minum?”

“Eh, belum oppa… aku lupa”

“Cepat dimakan. Kau jangan terlalu banyak aktivitas. Istirahat saja. Soal rumah aku saja yang urus”.

“Hem. Iya oppa..”                       

“Baiklah. Aku mau kembali kerja. Sudah dulu ya.”

“Ya…”

Sooyoung menatap handphone-nya dengan senyum yang mengembang. “Dia menelpon untuk menanyakan kabarku.. Kenapa jadi perhatian begitu?”. Wajah Sooyoung bersemu merah. Ternyata sakit bisa membuat seseorang berubah 180 derajat. “Kalau begini, jadi pengen sakit terus. Biar bisa diperhatikan… hehe”.

Sooyoung mengingat kembali saat Kyuhyun membantunya kemarin. Walau ada insiden bibir ketemu bibir itu tapi bisa dilihat Kyuhyun sangat memperhatikannya. Kemudian saat Kyuhyun membantunya dikamar mandi.

“Eh, tunggu! Itu berarti Kyuhyun sudah melihat tubuhku. Aish. Sungguh memalukan. Luar biasa memalukan!!!!!!!!!!”

_____

 

Office~~

Kyuhyun POV

“HALO! CHANGMIN AYO BICARA! ADA APA LAGI?”

Perkataan Sooyoung terus mengiang dikepalaku. Changmin? Siapa dia? Sepertinya aku pernah dengar nama itu.

“Oh, itu nama laki-laki yang berperan sebagai pengeran dalam drama Sooyoung!”

Benar, dia. Sepertinya sebelum aku, pria itu menelpon Sooyoung lebih dulu. Kenapa sooyoung berteriak begitu? Suara Sooyoung sampai senyaring itu. Aku baru pertama kali mendengarnya. Apa mereka berdua bertengkar?

Ah, sejak kapan aku perduli dengan kehidupan pribadi Sooyoung. Lupakan saja. Yang penting sekarang kondisinya lebih baik. Dari kemarin aku sudah dibuatnya panik setengah mati. Mulai dari dia demam, mengigau tak jelas dan menciumku, kemudian jatuh dikamarmandi dan aku harus melihat pemandangan memalukan.

Kalau dipikir aku dan Sooyoung sudah satu bulan lebih tinggal bersama, tapi tidak pernah kontak fisik sama sekali. Jangankan menciumnya, memegang tangannya saja tidak. Kemarin memang hari yang mengejutkan. Pasti akan canggung saat bertemu dia di rumah nanti.

“KRUUUUUUYYYUUUUKKKK…”

Perutku tiba-tiba berbunyi. Aku lapar. Semenjak Sooyoung sakit aku jadi tidak teratur makan. Entah sejak kapan aku jadi tergatung pada Sooyoung. Dia selalu membuat sarapan, dan itu sudah jadi kebiasaan walaupun jenis makanan yang dibuatnya tidak terlalu variatif.

Nanti makan dikantin sajalah. Ah, aku baru ingat kalau di rumah tidak ada makanan. Sebaiknya aku beli sesuatu saat pulang kerja nanti. Kasihan juga Sooyoung makan bubur terus. Pasti bosan.

_____

 

Home, pukul 06.10~~

Sooyoung POV

Ini sudah hampir malam. Kyuhyun sebentar lagi akan pulang, tapi di rumah hanya ada bubur. Ck, apa aku masak sesuatu saja. Kasihan juga kalau Kyuhyun sampai tidak makan.

Aku menyiapkan peralatan untuk memasak. Walau badanku masih terasa lemas dan sedikit nyeri tapi kuusahakan untuk kuat. Aku harus masak sesuatu untuk Kyuhyun. Kemarin aku sudah merepotkannya. Paling tidak ini adalah tanda terimakasihku.

“CKLEK”

Suara pintu terdengar. Kyuhyun pulang.

“Kau sedang apa?” Tanya Kyuhyun dengan wajah heran.

“Oppa, aku mau masak sesuatu. Oppa pasti belum makan ‘kan. Tunggu lah sebentar, makanan akan kusiapkan..”

“Kau ini apa-apaan?!” Nada suara Kyuhyun meninggi. Seketika kuhentikan aktivitasku. Tatapannya membuatku takut. Dia lalu menarik tanganku lalu memaksaku duduk di kursi ruang makan. Aku menatapnya heran.

“Sudah kubilang jangan lakukan aktivitas rumah!” Ucapnya.

Kyuhyun menaruh kantungan plastic yang cukup besar. Aku tidak memperhatikan dia membawa itu tadi. Dikeluarkannya isi kantungan itu. Semangkuk sup iga sapi, Kimchi, dan beberapa makanan lain. Aku terbelalak kaget.

“Kita makan ini saja. Aku tau kau pasti bosan makan bubur terus”.

Setelah menyiapkan peralatan makan, kami pun maka bersama dan seperti biasa selalu dengan suasana hening. Aku memberanikan diri menatapnya. Tapi ketika pandangan kami bertemu, aku segera mengalihkan pandanganku. Beberapa kali kucoba, tetap aku tak berani melihat matanya itu.

“Ada apa? Sepertinya kau ingin bicara sesuatu..” Tanya Kyuhyun memecah keheningan.

“Em.. tidak, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu oppa.” Jawabku segan.

“Terimakasih untuk apa?”

Aish, dia tidak tau atau pura-pura tidak tau sih.

“Em.. Terimakasih untuk bantuanmu kemarin..”

“Bantuan yang mana?” Tanyanya dengan tatapan yang lain dari biasanya.

Apa dia sengaja menggodaku? Apa dia mau aku menyebutkan bantuannya mulai dari merawatku termasuk saat aku tidak sadar menciumnya, dan menolongku saat tegeletak dilantai kamar mandi tanpa busana. Aish, tatapannya itu membuatku malu. Pasti mukaku merah saat ini.

“Em.. kemarin oppa menolong dan merawatku. Aku sangat berterimakasih untuk itu… Maaf juga karena aku sudah merepotkanmu oppa…” Ucapku. Setengah mati aku menahan malu. Dia tersenyum. Sejak kapan dia punya senyuman semanis itu. Baru kali ini aku lihat.

“DEG” Eh, Apa ini? Kenapa jantungku berdebar lebih cepat. Jangan bilang aku jadi deg-degan karena melihat senyumannya itu.

“Jaga kesehatanmu baik-baik dan lain kali hati-hati..” Ucapnya dan melanjutkan makannya lagi.

Aku mengangguk pelan. Jantungku masih berdebar. Kenapa berdebar terus sih?

____

 

Keesokan hari~~

Kyuhyun POV

Aku keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Loh, kenapa ada aroma makanan. Aku mendatangi dapur dan benar saja, Sooyoung sedang menyiapkan makanan. Bukannya kemarin aku bilang jangan lakukan aktivitas rumah dulu.

“Kenapa kau masak?” Tanyaku.

Dia terkejut dan berbalik melihatku. Dia salah tingkah. Aku lihat wajahnya masih sedikit pucat.

“Aku cuma mau buat sarapan oppa.. kondisiku sudah lebih baik. Jadi tidak masalah…”

Mataku baru memperhatikan baju yang dipakainya. Itu bukan baju rumah.

“Kenapa kau pakai baju rapi? Mau kemana?”

“Oh, aku mau ke kampus. Latihan drama kami sempat terganggu karena aku tidak ada. Jadi, hari ini aku mau ikut latihan..”

Apa katanya tadi? Mau latihan? Apa dia tidak ingat kemarin dia sakit karena kegiatannya itu. Dia itu bodoh atau apa.

“Bukannya kau masih harus istirahat satu hari lagi?”

“Aku tau. Tapi aku sudah merasa lebih baik. Lihat aku baik-baik saja” Ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya menirukan gaya binaragawan. Dia lebih terlihat bodoh dari pada terlihat sehat dengan tingkahnya itu.

Terserah saja lah. Dia keras kepala. Aku tidak mau ikut campur lagi. Aku duduk dikursi dan memandanginya yang sedang menyiapkan sarapan. Terlihat sekali kalau dia masih lemah. Tubuh kurusnya itu bergerak seperti kekurangan tenaga. Tubuh? Ah, bicara soal tubuh, aku jadi ingat saat menemukannya tergeletak dikamar mandi kemarin. Tubuhnya ringan sekali. Kalau ada badai, aku jamin dia orang pertama yang akan terbang seperti layangan.

“Oppa, kenapa melamun? Ayo dimakan..”

Sooyoung membuyarkan lamunanku. Ternyata sarapan sudah siap di depan mata. Kenapa aku jadi memikirkan soal tubuhnya? Kurang kerjaan.

“Nanti berangkat ke kampus, ikut mobilku saja” Ucapku.

Dia terlihat kaget mendengarnya. Bukannya apa, aku cuma jaga-jaga saja. Siapa tau nanti dia pingsan di jalan. Dia bukan hanya merepotkanku, tapi juga orang lain.

“Apa tidak merepotkan?”Tanyanya.

“Tidak”. Jawabku singkat.

Kulihat wajahnya bersemu merah. Sepertinya dia malu. Apa sikapku berlebihan? Tidak ‘kan. Aku cuma mau menolong. Bukannya menolong sesama adalah hal baik. Aish, wajahnya yang merah benar-benar lucu. Manis juga.

 “DEG”. Eh, apa-apaan ini? Dadaku kenapa bergetar? Masa iya aku jadi deg-degan karena melihat wajahnya yang merah seperti tomat itu. Konyol sekali. Tidak mungkin. Pasti karena ada gangguan diperedaran darahku. Pasti masalah kesehatan.

“Oppa kenapa?” Sooyoung menatap ku heran.

Kualihkan pandanganku ke makanan yang ada di atas meja. “Tidak apa-apa…”. Jawabku

 ____

 

Kampus~~

Auhtor POV.

Sedan BMW berwarna silver berhenti tepat di depan gerbang utama Universitas Seni tempat Sooyoung menimba(?) ilmu.

“Terimakasih oppa…”

“Hem. Jangan lupa batasi aktivitasmu. Kau masih belum fit

Sooyoung mengangguk lalu keluar dari mobil dengan senyum mengembang. Dia merasa senang dengan sikap Kyuhyun yang perhatian. Tak lama Kyuhyun pergi dan Sooyoung melangkah memasuki gerbang kampusnya. Hari ini tidak ada kuliah, Sooyoung datang ke kampus hanya untuk latihan drama. Ancaman Changmin kemarin ternyata ampuh. Sooyoung tidak mau ada masalah dalam kuliahnya karena Changmin. Apalagi dia mahasiswa semester akhir.

Setibanya di Auditorium tempat dimana mereka latihan dan mempersiapkan drama, Sooyoung disambut oleh sahabatnya, Yuri.

“Sooyoung, kau dari mana saja?” 

“Maafkan aku. Kemarin aku sakit. Maaf jika aku tak memberi kabar”.

“Sakit? Ya, sudah… Sebentar lagi Changmin datang. Latihan drama mau dimulai. Bersiaplah.” Ucap Yuri.

Sooyoung mengangguk, lalu berjalan mendatangi mahasiswa-mahasiswa lain yang ada didekat panggung. Mereka tampak sibuk membuat atribut panggung. Ada yang membuat kostum dan lainnya. Sooyoung merasa tidak enak karena telah membuat latihan jadi terganggu.

“PLETAK”

Tiba-tiba seseorang memukul kepala Sooyoung dengan buku. “Aduh, sakit… Siapa sih?!” Sooyoung menoleh sambil mengusap kepalanya. Sooyoung terkejut. Ternyata orang yang memukulnya tadi adalah Changmin.

“Kenapa kau malah bengong saja. Ayo latihan!”  

Sambil terus mengusap kepalanya, Sooyoung berjalan menuju belakang panggung untuk bersiap latihan.

Tanpa terasa beberapa menit berlalu. Dan sampailah pada adegan akhir. Adegan yang paling Sooyoung takut. Sambil meremas-remas tangannya sendiri, Sooyoung berdiri dibelakang panggung. Dia cemas. Telapak tangannya mulai berkeringat.

“Kau kenapa?” Tiba-tiba Changmin bertanya yang sudah berdiri tepat didepan Sooyoung. Entah sejak kapan dia sudah berada disana.

“Ah, anu.. Changmin.. Bisakah adegan ciuman itu tidak usah dilakukan..” Ucap Sooyoung memelas.

Ekspresi Changmin berubah tiba-tiba. “Itu lagi.”

“Tolong lah… Aku benar-benar tidak bisa melakukannya..”

“Tidak bisa!” Jawab Changmin sambil menyodorkan wajahnya ke wajah Sooyoung. Sooyoung kesal.

“Kenapa kau kekeh sekali dengan adegan itu. Maniak!”

“Apa katamu? Hei dengar ya, Itu sudah ketentuan. Itu seni! Jangan kira aku suka menciummu! Bibirmu itu, sama sekali tidak menarik bagiku!”

“Apa?! Dasar Raja Tega!”

“Terserah kau mau bilang apa!”

“Changmin!!” Wajah Sooyoung berubah. Alisnya mengkerut. Bibirnya merapat menahan amarah. Changmin melihatnya heran. Lama-lama mata Sooyoung mulai berair. Karena emosi, air matanya jadi ingin keluar.

“Kenapa kau?” Tanya Changmin.

“Kau tega sekali…..” Ucap Sooyoung dengan mata berkaca-kaca.

Changmin terdiam. Dia tak menyangka reaksi Sooyoung sampai seperti itu. “Ada apa dengan gadis ini?” Batin Changmin.

“Baiklah.. Baiklah… Aku tidak akan menciummu!” Ucap Changmin. Dia paling tidak mau melihat tangisan. Apalagi dari perempuan.

“Benarkah?” Wajah Sooyoung berubah gembira.

“Kita pura-pura ciuman saja!”

“Apa?”

“Pura-pura! Seolah-olah! Mengerti tidak! Aku hanya akan mendekatkan wajahku padamu. Maksimal satu centimeter!”

“satu centi itu terlalu dekat. Maksimal lima centi!” Ucap Sooyoung sambil menyodorkan lima jarinya tepat didepan wajah Changmin. Mata Changmin membulat. Ditepisnya tangan Sooyoung.

“Satu centi. Titik! Saatnya kau maju ke atas panggung. Pergi sana!”

Changmin mendorong tubuh Sooyoung. Sooyoung tidak sempat bicara. Tapi yang jelas, ada kelegaan yang dirasakan oleh Sooyoung karena dia tidak harus berciuman dengan pria egois itu.

Hari sudah sore. Latihan pun berakhir. Sooyoung merasa lelah. Staminanya menurun karena sakitnya yang masih belum sembuh benar. Karena tidak ada kursi, Sooyoung terpaksa duduk dilantai untuk istirahat. Mahasiswa lain sedang sibuk dengan kegiatan mereka. Yuri juga demikian.

“Kau kenapa?” Tanya Changmin tiba-tiba. Sepertinya pria itu memang punya hobi muncul tiba-tiba. Sooyoung menatapnya sebentar.

“Tidak apa-apa. Aku Cuma lelah”.

“Ini!” Changmin melempar minuman susu kotak kearah Sooyoung. 

“Susu?” Tanya Sooyoung heran.

“Wajahmu itu sudah seperti mayat. Minum itu. aku tak mau ada yang pingsan karena kelelahan di sini. Kau pulang saja sana! Latihan sudah selesai!” ucap Changmin lalu pergi.  

“Apa-apaan dia itu!” Gerutu Sooyoung.

Sooyoung mengambil kaca kecil yang biasa dia simpan ditasnya. Dilihatnya pantulan wajahnya yang pucat. “Astaga, Aku pucat sekali” Gumam Sooyoung. Sooyoung mengela nafas. Dia berfikir memang seharusnya hari ini istirahat. Diambilnya susu yang diberi Changmin tadi, meminumnya sampai habis supaya tenaganya pulih.

____

 

Beberapa hari kemudian~~

Sooyoung POV

Hari-hari berlalu cepat dan aku sudah sembuh total. sekarang hari minggu. Hari libur yang kutunggu. Saatnya bersih-bersih rumah. Aku menganggkut sekeranjang baju kotor dari kamarku. Aku mau cuci baju dulu. Lalu lanjut membersihkan ruangan. Menata kebun. Menyetrika pakaian. Dan lainnya. Cape memang, tapi aku suka. Aku berjalan menuju tempat cuci. Ternyata Kyuhyun sedang mencuci juga. Ia menoleh ke arahku.

“Kau mau cuci baju?”

Aku mengangguk.

“Tunggu sebentar, aku mau selesai kok”.

Kyuhyun menunggu bajunya yang ada di mesin pengering. Tak lama mesin itu berhenti. Kyuhyun mengeluarkan helai demi helai pakaiannya. 

“Sudah, pakailah” Katanya lalu mengangkut baju-bajunya untuk dijemur.

Tanpa pikir panjang, kuangkat keranjang berisi pakaian kotorku lalu menumpahkannya kedalam mesin cuci. Setelah kuberi diterjen dan air, aku menyalakan mesin. Waktunya kuatur cukup lama.

“Ah, selagi menunggu sebaiknya aku bersih-bersih saja”.

Aku menyiapkan lap dan semprotan berisi cairan pembersih kaca. Kaca dirumah ini sudah sedikit kusam. Aku sibuk melap kaca jendela rumah. Karena bentuknya yang minimalis, tidak perlu waktu lama untuk membersihkannya.

“Kau sedang apa?” tiba-tiba Kyuhyun muncul.

Aku menoleh kearahnya. “Bersih-bersih..” jawabku.

“Ada yang bisa kubantu?” Tanya Kyuhyun lagi. Dia mu ikut bersih-bersih kali ini. Senang juga jika dia mau membantu. Kalau dipikir semenjak aku sakit beberapa waktu lalu, hubunganku dengannya jadi lebih dekat.

“Ventilasi sepertinya berdebu oppa. Tolong bersihkan ya oppa..” kataku sambil menunjuk ventilasi yang ada diatas kepalaku.

Kyuhyun mengamati ventilasi itu sebentar, lalu pergi mengabil lap dan seember air. Dia juga mengambil kursi untuk membantunya membersihkan ventilasi yang memang cukup tinggi.

Kami asik dengan apa yang kami bersihkan saat ini. Kursi tempat Kyuhyun berpijak tepat berasa di sampingku. Aku mendongak melihat Kyuhyun dengan serius membersihkan sudut-sudut ventilasi. Ekspresinya yang fokus itu, tampak manis. Aish, aku mulai ngelantur lagi.

“Sebentar lagi, Festival kampusmu akan dimulai ya?” Tanya Kyuhyun tiba-tiba.

Aku sedikit terkejut dia menanyakan itu. “Heh? Oh, ya… satu minggu lagi oppa..” jawabku.

“Hemm, bagaimana dramamu? Kapan acaranya?”

“Hari kedua Festival oppa. Oppa mau nonton?” Ah, kenapa aku menanyakan itu. Malu sekali kalau dia sampai melihat peranku yang konyol itu. Bodohnya aku ini.

“Hem, boleh saja..”

Apa? Berarti dia akan datang menonton. Aduh..!

“Ceritanya tentang apa?” lanjut Kyuhyun lagi.

“Tentang putri dan pangeran. Cerita dongeng oppa..”

“Oh, cerita romantis. Happy ending tidak?”

“Emm.. Iya..”

“Endingnya seperti apa?”

Aku terdiam. Kenapa Kyuhyun menanyakan hal itu. Bukannya waktu aku sakit dulu, kalau tidak salah aku pernah mengigau soal drama itu. Apa dia tidak dengar? 

“Emm.. Akhirnya putri dan pangeran hidup bahagia selamanya..” Jawabku asal. 

 “Hemm..”

Tiba-tiba Kyuhyun turun dari kursinya dan berdiri tepat didekatku. Tubuhnya sedikit bersentuhan dengan tubuhku. Aku bisa merasakan nafasnya yang berhembus kebagian wajahku. Aku beranikan diri menatapnya. Dia memandaku dengan tatapan aneh. Seperti sedang marah.

“Ke, kenapa oppa?”

Dia memalingkan pandangannya. “Tidak apa-apa… ventilasinya sudah bersih.” Katanya lalu pergi sambil mengangkut ember yang tadi dibawanya. Aneh. Kenapa raut wajahnya berubah begitu. Apa aku salah bicara. Ada apa dengannya?

___ TBC___

 

 Mohon kritik dan saran….

 

 

 

 

 

LOVE (Part 2)

LOVE (Part 2)

Judul: LOVE

Author:  Likyuyoung

Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun,

Genre : Romance

Rating: PG+16

 

Pertama-tama… saya mau ucapkan terima kasih buat reader2 yang sdh baca FF ini. Terima kasih Sarannya. Saya senang ternyata FF ini dpt respon positif. Saya sdh berusaha buat FF lanjutan. Saya harap responnya masih seperti kemarin. Maaf jika ada salah penulisan. Happy Reading!!! ^^

 

 

 

“Kau mau apa?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

“Cuci piring” jawabku.

“Tidak usah. Biar aku yang cuci. Kau pergi saja istirahat” Kyuhyun dengan sigap membereskan piring dan gelas lalu membawanya ke dapur. Aku berjalan mengikutinya. Aku tidak mau dia yang melakukannya. Itukan tugasku. “Oppa, tidak usah. Aku saja yang cuci. Itu tugasku”. Kyuhyun menepis tanganku pelan. “Tidak usah. Aku saja. Dan terimakasih untuk makanannya. Spagetinya enak” Ucapnya  sambil menatapku.

Aku diam sejenak. Mencoba menganalisis tiap kata yang baru saja kudengar. “Terimakasih”. Dia bilang terimakasih. Dia juga memuji masakanku. Tidak biasanya. Mendengar itu sepertinya ada sesuatu yang hangat didadaku. Jantungku berdebar lebih kencang. Aku kenapa.

_____

Keesokan hari~~

Kyuhyun POV

Seperti biasa aku sudah berpakaian rapi tepat waktu. Pukul 06.00. Aku memang biasa bangun pagi dan menyiapkan keperluanku. Aku berdiri di depan cermin. Melihat pantulan diriku di sana. Mencari kekurangan pada penampilanku. Aku memutar tubuhku beberapa kali.

“Hemmm… sepertinya sudah bagus”.

Aku keluar dari kamar dan langsung disambut dengan aroma makanan. Sooyoung pasti sudah menyiapkan sarapan. Aku berjalan kearah dapur dan mendapati Sooyoung sedang meletakan piring dan gelas di atas meja makan.

“Pagi…” sapaku.

Dia tampak terkejut melihatku. Beberapa kali dia mengerjapkan mata dan langsung mengalihkan pandangannya dariku. Heh, ada apa? Apa ada yang salah?

“Ah, pagi juga…”jawabnya beberapa detik kemudian. Kenapa dia jadi salah tingkah begitu? Tidak seperti biasanya.

Aku melihat makanan di atas meja. Telur mata sapi, mie goreng dengan aneka potong sayur, dan the manis panas. Kelihatannya enak.  Kuletakan tas kerjaku di atas kursi dan duduk menghadap makanan yang sudah tersedia untukku.

Sooyoung tidak bicara. Memang selalu seperti itu. Setiap sarapan selalu suasana hening yang menemani kami. Aku juga tidak punya hal yang harus kubicarakan dengannya. Jika ada orang yang melihat keadaan kami, pasti akan menyebut kami pasangan yang aneh.

_____

Univesitas Seni

Author POV

Suasana kampus tampak tidak begitu ramai karena mahasiswa yang sibuk dengan pelajaran dikelas masing-masing. Di kelas design tampak gadis berambut hitam panjang sedang duduk menatap kearah papan tulis yang bertuliskan “DOSEN TIDAK HADIR”

“Aish… Aku sudah capek-capek datang, kenapa tidak ada dosen?” Sooyoung mendecak kesal.

Dilihatnya sekitar. Sebagian teman-temannya sudah keluar dari kelas. Hanya tersisa dirinya dan beberapa mahasiswa lain yang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Sooyoung mengkerucutkan bibirnya.

“Jam kosong begini, aku harus kemana? Masa ke kantin. Tadi aku sudah sarapan bersama Kyuhyun di rumah…”

Sooyoung terdiam sejenak. Dahinya mulai mengkerut. “Kenapa aku jadi menyebut-nyebut soal Kyuhyun?” Batinnya heran. Sooyoung menggelengkan kepala, membuang pikiran yang baru terlintas. Dibereskannya barang-barangnya.

“Hei, bagaimana scenario dramanya, sudah kau pelajari?” Tanya seseorang  tiba-tiba.

Sooyoung berpaling kearah orang itu. Itu Yuri. Kebiasaannya memang mengagetkan orang. “Yuri, Kau mengagetkan saja!  Ck, scenario itu cuma kubaca sekilas…” Ucap Sooyoung ketus.

Yuri lalu duduk dikursi sebelah Sooyoung. Menatap sahabatnya itu dalam-dalam.

“Kenapa? Masih tidak terima soal segment terakhirnya?”

“Kenapa sutradaranya si Changmin?, kenapa juga dia yang harus memerankan peran sebagai pageran? Dia yang jadi sutradara, dia juga yang jadi pemerannya. Apa bisa seperti itu?” Ucap Sooyoung tidak terima.

“Hei, apa kau lupa. Dia ‘kan asdos. Asisten Dosen. Jurusan drama dan treatikal. Walaupun dia masih mahasiswa, kredibilitasnya pasti sudah teruji , dan bukannya sutradara merangkap sebagai pemeran itu biasa. Coba kamu lihat dibeberapa film atau drama. Hal itu sering terjadi ‘kan….”. Jelas Yuri.

“Akh, Aku tidak suka padanya!” Sooyoung mengepalkan tangannya. Yuri tersenyum simpul. Betapa lucunya sahabatnya ini pikirnya.

“Oh ya, aku hampir lupa. Suamimu bagaimana? Apa suamimu tau soal drama ini?”

Sooyoung tiba-tiba diam. Ekspresinya kini berubah 180 derajat. Pertanyaan Yuri mengingatkannya pada Kyuhyun. Dia belum menceritakaannya pada Kyuhyun.

“Aku belum bilang padanya..”

“Heh? Kenapa?”

Sooyoung menghela nafas panjang. Wajah tampak lesu. “Yuri, menurutmu apa perlu aku cerita pada Kyuhyun? Menurutmu haruskah aku minta izin dia dulu?”Ucap Sooyoung.

“Loh, kok malah tanya padaku. Ya sudah jelaslah. Kamu harus bilang. Dia ‘kan suamimu.”

“Em, Apa iya dia suamiku. Sepertinya lebih tepat dibilang pria yang tinggal satu rumah denganku”. Sooyoung mengerucutkan bibirnya.

“Hah? Apa? Itu berarti kau dan Kyuhyun masih belum…” Yuri membulatkan mata tak percaya. Sooyoung menatap Yuri, heran dengan reaksinya.

“Ya belum lah! Kau kan tau aku pisah kamar dengannya!”

“Tapi Ini ‘kan sudah sebulan lebih! Bagaimana bisa?! Hahaha!!”

Suara nyaring Yuri memenuhi ruangan kelas. Mahasiswa lain memperhatikan kedua gadis yang duduk bersebelahan itu.

“Ya, Yuri! Suaramu…” Sooyoung mencubit tangan Yuri. Yuri meringis. Ditepisnya tangan Sooyoung lalu mengusap tangannya mengurangi rasa sakit dari cubitan Sooyoung.

“Lalu bagaimana?” Tanya Yuri yang masih mengelus tangannya.

“Apanya?”

“Ya, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan diam saja?”

“Entahlah. Kalau kupikir, jika aku menceritakan padanya pun. Reaksinya akan biasa-biasa saja. Bahkan tidak perduli.”

Yuri diam. Menatap Sooyoung sambil memikirkan kata apa yang harus dia ucapkan untuk memberikan saran positif bagi sahabatnya itu.

“Em.  Kalau menurutku. Sebaiknya kau katakan saja padanya. Masalah Kyuhyun akan bersikap seperti apa pun, tidak usah kau pikirkan. Mungkin benar dia akan cuek-cuek saja. Tapi paling tidak kau sudah memberitahunya. Jadi nanti tidak ada salah pahamkan.”

Sooyoung mengangguk dan tersenyum tipis. “Hmm, Mungkin kau benar.”

“Oh ya, Changmin. Apa dia tidak tau kalau kau sudah menikah?” Tanya Yuri.

“Nah itu dia. Sepertinya dia tidak tau. Aku saja heran. Padahal teman-teman di kampus sudah tau tentang statusku . Apa berita itu tidak sampai ditelinganya ya?”.

“Hmm, mungkin berita pernikahaanmu kemarin memang tidak terlalu menyebar luas. Kau ‘kan tau kampus kita ini punya ribuan mahasiswa dan puluhan jurusan. Dan lagi, jaman sekarang berita tentang mahasiswa yang sudah menikah bukan sesuatu yang perlu diributkan lagi. Sudah banyak mahasiswa-mahasiswa yang memutuskan untuk menikah walau usianya masih muda”.

Sooyoung menganggukan kepalanya.”Benar juga… Lebih baik aku katakan sendiri padanya. Supaya masalah ini cepat selesai.” gumamnya.

Yuri menepuk ringan bahu Sooyoung. “Eh, ngomong-ngomong… mau sampai kapan kau pisah kamar dengan Kyuhyun? Tidak mungkin selamanya kan..?” Tanya Yuri sambil mengedipkan sebelah matanya.

“YURI!!!!”

“Hahaha!! Baiklah, baiklah.. Aku tak akan membahasnya. Ayo kita ke auditorium saja. Teman-teman yang lain pasti sedang melakuan persiapan untuk drama di sana”.

_____

Auditoirium~~

Sooyoung POV

Kami mulai latihan drama. Ini baru segment satu dan aku berakting sebagai putri yang sedih karena terkurung di istana ratu sihir yang jahat. Menunggu seseorang untuk menyelamatkanku.

Oh, seseorang..siapa saja.. tolonglah aku… Selamatkanlah aku dari penderitaan ini…” Ucapku dengan ekspresi yang kurasa meyakinkan.

“CUT CUT CUT!” seseorang menyela tiba-tiba. Dia, Changmin. Kenapa sih?

“Kamu, Sooyoung, bisa acting tidak! ekspresimu itu masih kurang! Kamu harus mengucapkan kalimat itu dengan ekspresi yang  lebih sedih!” Ucap Changmin dengan suara nyaring.

Sialan! Kenapa suaranya harus senyaring itu. Semua orang yang ada di gedung ini jadi melihat ke arahku ‘kan. Beberapa orang terlihat tertawa kecil sambil menutupi mulutnya dengan tangan. Ada juga yang melihatku dengan pandangan meremehkan. Seolah aku ini pengganggu.

“Ulangi!” Lanjutnya Changmin.

Kenapa sih dia? Aku ‘kan bukan mahasiswa seni drama. Seharusnya dia bisa mentolerir kesalahanku. Aku memang tidak berpengalaman soal ini. Aish, aku jadi menyesal kenapa dulu aku mengajukan diri membantu drama ini.

Oh, seseorang..siapa saja.. tolonglah aku… Selamatkanlah aku dari penderitaan ini…” Ucapku lagi. Dan kini wajah sudah kupaksa untuk bisa terlihat sangat sedih.

“CUT CUT CUT!” Sela Changmin lagi.

“Sooyoung! Kau malah telihat konyol dengan ekspresi seperti itu!” Ucapnya. Seluruh mahasiswa yang mendengar ucapannya langsung tertawa nyaring. Changmin sialan! Kurang ngajar! Dia ingin membuatku malu ya! Wajahku saat ini pasti sudah semerah tomat karena malu. Sabar Sooyoung, sabarlah.

Aku menarik nafas dalam. Mencoba untuk kembali berkonsentrasi. Membayangkan sesuatu yang membuatku sedih.

Oh, seseorang..siapa saja.. tolonglah aku… Selamatkanlah aku dari penderitaan ini…” dan kali ini aku berusaha menampilkan yang terbaik. Benar saja. Semua terdiam. Termasuk Changmin. Kurasa dia menerima aktingku.

Latihan pun berlanjut. Semua berusaha untuk menampilkan yang semaksimal mungkin. Changmin yang berperan ganda terpaksa beberapa kali bolak balik ke atas panggung. Tapi ku akui dia memang professional. Tak percuma dia dipercaya sebagai asisten dosen.

Tak terasa beberapa jam berlalu. Ini sudah hampir malam dan sudah masuk ke segment terakhir. Adegan romantis pangeran dan putri. Aku sudah berdiri di atas panggung, dan Changmin datang perlahan. Menatapku dengan tatapan yang mendalam. Dia benar-benar meresapi perannya. Aku jadi merinding.

Putri, akhirnya kau bebas…

Ya pangeran, terimakasih telah menolongku.. Kaulah orang yang selama ini aku tunggu…”.

Terus terang aku sedikit enek dengan dialog drama ini. Jelas saja, aku mahasiswa jurusan design. Mana pernah menemukan kalimat-kalimat melankolis seperti ini.

Tanpa kusadari jarak antara aku dan changmin berkurang. Wajahnya mulai mendekati wajahku. Suasana mulai hening. Aku rasa mahasiswa yang menonton kami sedang menatap kami sambil menunggu adegan puncak itu. Seketika aku mulai panik. Keringat dikepalaku bermunculan. Spontan aku mundur dan mendorong tubuh Changmin menjauh dariku.

“Huuuuuuuuu…..” Tiba-tiba suara rusuh pecah. Penonton kecewa.

Changmin menatapku tajam. “Kau ini apa-apaan!?” Teriaknya.

Aku hanya bisa menundukan kepala. “Maaf, aku tidak bisa..” Ucapku.

Changmin tampak kesal. Ia menarikku ke belakang panggung. Aku nyaris terjatuh karena tarikannya yang cukup keras. Ia menyandarkanku ke dinding.

“Kau belum pernah ciuman ya sebelumnya?” Tanyanya tiba-tiba dengan tatapan tajam.

“Hah?! Kenapa kau bertanya seperti itu?” Ucapku panik.

“Karena kau sepertinya sulit sekali untuk melakukannya.”

“TIDAK!”

“Lalu?”

“Aku punya alasan tersendiri..” Aku mulai mengalihkan pandanganku ke sembarang arah.

“Apa alasannya?”

“Banyak alasannya..”

“Sebutkan satu diantara alasanmu yang banyak itu…”

Aku menelan ludah. Alasan? Aish. Apa perlu aku katakan. Ciuman itu kan tidak sembarang dilakukan. Walau ini cuma drama. Tapikan sama saja. Bibir ketemu bibir. Ciuman pertamaku saja terjadi saat pemberkatan pernikahan kemarin. Itu pun rasanya aku mau pingsan karena spot jantung. Dan lagi, aku kan sudah menikah, mana mungkin aku berciuman dengan orang lain.

“Hoy! Ayo sebutkan alasannya..” Changmin makin menyudutkanku.

“Kenapa kau mendesakku sih? Kau sendiri. Apa kau sama sekali tidak masalah melakukan adegan itu? Memangnya kekasihmu tidak akan marah?”

“Hah? Aku. Aku tidak punya kekasih. Jadi, aku tidak akan dipusingkan dengan hal seperti itu. dan apa kau lupa. Drama ini aku yang buat. Aku berhak mengatur adegan apapun didalam drama ini!”

“Apa? Egois sekali! Kalau begitu aku keluar saja dari drama ini! Kau cari saja orang lain. Pilih saja mahasiswa seni drama. Mungkin mereka bisa melakukan apa yang kau mau!”

Aku melangkah pergi meninggalkannya. Tapi sesuatu menarikku. Kerah bajuku ditarik oleh Changmin.

“Tidak semudah itu… Festival ini sudah dipersiapkan lama. Kau seenaknya mau keluar dan menghancurkan semuanya . Kau akan dapat masalah!”

Aku menepis tangannya dari bajuku. Mataku menatapnya tajam. Apa dia tidak bisa bersikap lebih sopan ya.

“Memangnya apa yang akan terjadi kalau aku keluar, hah?”

“Siap-siap saja kuliahmu akan bermasalah. Apa kau tidak tau aku siapa. Asisten dosen!”

“Kau mengancamku?!”

Changmin tersenyum sinis. Sialan! Aku benci dia!

“Dengar, aku orang yang perfectionis. Aku tidak suka ada kecacatan. Kau sudah menerima tugas ini. Jadi lakukanlah dengan baik. Aku benci pengacau!” Ucap Changmin dengan meletakan ujung jari telunjuknya tepat di hidungku.

“Sudah kubilang aku tidak bisa melakukan adegan itu! Aku ini sudah me..”.

“Sudah! Apapun alasanmu aku tidak perduli. Itu urusanmu. Yang aku tau, kau sudah menerima peran itu. jadi Lakukan saja!” Ucap Changmin yang kemudian pergi meninggalkanku.

Hei. Kurang ajar! Aku belum selesai bicara dia sudah pergi. Agh, dasar pria arogan! Maniak! Sekarang harus bagaimana? Apa aku harus berciuman dengannya. Aku tidak mau!!!!!!!!!!!

____

 

Home~~

Kyuhyun POV

Ini sudah hampir jam 6 sore. Aku sudah tiba di rumah. Kulihat rumah kosong. Sooyoung belum pulang. “Aish, rumah sepi sekali”. Aku jadi ingat, kemarin Sooyoung bilang ada kegiatan di kampusnya. Apa kegiatannya begitu banyak sampai dia harus pulang malam. Aku melihat handphoneku. Siapa tau Sooyoung memberi kabar. “Tidak ada. Apa aku telpon saja?” Eh, kenapa menelponnya. Biasanya juga dia yang memberi kabar. Sudahlah aku lebih baik aku mandi dan buat makan malam untukku.

Beberapa menit aku mandi dan pergi ke dapur untuk membuat makan malam. Aku tidak terlalu bisa masak. Makanya aku putuskan untuk masak mie saja.

“CKLEK”

Terdengar suara pintu terbuka. Sooyoung sudah pulang. Dia terlihat lelah. Dilemparkannya barang-baranya ke sofa di ruang TV. dan melangkah gontai kearah kamarnya .

“Kau sudah pulang” kucoba untuk menyapanya. Dia sedikit terkejut melihatku.

“Oh ya, oppa..” Dia menjawabku dengan tidak bersemangat. Apa terjadi sesuatu ya.

“Ehm.. apa kau sudah makan?”

“Belum oppa. Oppa sendiri, sudah makan?”

“Oh, aku juga belum. Tapi aku sedang buat makanan. Kau mau?”

“Ah, tidak oppa. Aku tidak lapar saat ini. Aku mau mandi dulu”. Jawabnya.

Sepertinya hari ini, hari yang sibuk baginya. Sampai dia terlihat lelah seperti itu. Ah, perhatianku kembali pada masakanku. Sudah matang. Kumasukan bumbu dan mencampurkannya. Hmm, aromanya. Walau Cuma mie instan, tapi terlihat seperti masakan istimewa dimataku.

Aku beranjak ke ruang TV membawa mangkuk yang berisi mie dan segelas air putih. Aku meletakannya di atas meja. Begitu aku mau duduk pandanganku terganggu dengan barang-barang Sooyoung yang berhamburan di sofa.

“Berantakan sekali..”

Kuambil tas Sooyoung dan buku-bukunya yang berserakan. Beberapa buku tebal dan map yang berisi banyak lembaran kertas. Pada map ada tulisan “Putri dan Pangeran Berkuda Putih”. Apa ini? Aku lihat isi map itu. lembaran kertas diialog.

“Ini scenario ya?”.

Pada lembaran pertama tertera nama-nama pemeran.

Changmin, sebagai pangeran berkuda putih.

Sooyoung, sebagai putri

Leeteuk, sebagai ayah putri

Taeyeon, sebagai ibu putri

 

Oh, jadi ini kegiatan yang dimaksud Sooyoung kemarin. Ternyata kampus mereka mengadakan drama. Sooyoung berperan sebagai putri. Wah, ternyata dia hebat juga. Tanpa kusadari aku tersenyum. Aih, lagi-lagi aku senyum-senyum sendiri. Aku jadi sedikit penasaran bagaimana alur ceritanya. Kubuka lembar demi lembar scenario yang ada ditanganku ini. Kubaca singkat. Ternyata ini cerita dongeng, lumayan juga. Sooyoung jadi pemeran utama. Berarti dia harus bekerja lebih keras. Segment-nya banyak juga. Pasti durasinya lumayan panjang.

“Akhir ceritanya seperti apa ya?” Aku langsung membuka lembaran terakhir. Dan mendapati kalimat…

Sang pangeran memeluk dan mencium sang putri dengan penuh cinta”.

Apa ini? Memeluk dan mencium? Aku tidak salah baca ‘kan. Pangeran memeluk dan mencium sang putri, artinya Sooyoung akan dicium oleh laki-laki itu. Apa adegan ini akan benar-benar dilakukan?

 

“CKLEK”

 

Tiba-tiba Sooyoung keluar dari kamarnya. Segera kuletakan kembali barang-barang Sooyoung. Ku ambil mieku yang sudah nyaris dingin dan menyantapnya.

“Oppa, kau makan mie instan?”

“Iya” jawabku singkat tanpa memandangnya.

“Kenapa tidak masak yang lain saja. Tidak baik makan mie instan..”.

“Tidak apa, praktis!”

Kenapa aku jadi merasa kesal ya. Aneh. Tidak pernah aku seperti ini. Kyuhyun, jangan bilang kau marah pada Sooyoung karena adegan di drama itu! Sooyoung berjalan mendekatiku dan mengambil barang-barangnya yang tepat berada disampingku. Dia tidak bicara. Ekspresinya pun datar. Apa sikapku tadi menyinggungnya ya?

“Kemarin dan hari ini kau pulang malam. Apa ada kegiatan dikampus?” tanyaku memecah keheningan yang sempat menghampiri kami berdua.

“Iya, oppa. Kemarin ‘kan aku sudah bilang”.

“Ada kegiatan apa?”

Sooyoung diam menatapku. Matanya sedikit membulat. Sepertinya dia terkejut dengan pertanyaanku. Apa aku salah jika bertanya?

“Kampus kami akan mengadakan Festival. Aku termasuk panitia penyelengara Oppa. Selain itu, aku juga ambil peran dalam drama yang akan dilaksanakan saat festival itu”.

“Kapan Festivalnya?” Tanyaku lagi.

“Satu bulan lagi…”

“Oh.”

Dia menatapku dengan pandangan heran. Aku diam saja dan kembali menyantap makananku.

“Oppa, aku lelah. Aku tidur duluan ya”

“Ya”

Dia berbalik dan berjalan menuju kamarnya sambil menenteng barang-barangnya. Kulihat map skenarion yang di pegangnya. Kenapa dia tidak ada membicarakan soal drama itu padaku? Apalagi adegan itu. Setidaknya dia harus menyampaikan padaku kan.

____

 

Sooyoung POV

Aku menutup pintu kamar dan meletakan barangku di atas meja belajar. kurebahkan diriku di tempat tidur. Tempat favoritku. Pikiranku kembali dengan kejadian beberapa saat lalu. Kyuhyun bertanya soal kegiatanku di kampus. Sejak kapan dia perduli. Bukannya selama ini apapun yang kulakukan dia akan cuek-cuek saja.

“Aneh…”

Ah, aku jadi ingat soal scenario itu. Kenapa aku tidak mengatakannya tadi. Tapi rasanya aneh, kalau aku tiba-tiba mengatakan soal adegan ciuman itu.

“Agh, Semua ini membuatku pusing!”

Aku membalikan tubuhku dan menelungkupkan wajahku dibantal. Aku lelah. Aku mau tidur saja dan melupakan semuanya.

____

Keesokan hari~~

Kyuhyun POV

Aku bangun pagi dan bersiap untuk kerja seperti biasanya. Kulangkahkan kaki keluar kamar menuju dapur untuk sarapan. Tapi aku tidak mencium aroma makanan. Kulihat ternyata di dapur tidak ada siapapun. Makanan pun tidak ada. Kenapa Sooyoung tidak membuat sarapan?

Aku berjalan menuju kamar Sooyoung. “Tok Tok” Kuketuk pintu kamarnya.

“Sooyoung!”

Tidak ada jawaban darinya. Apa dia sudah berangkat ke kampus? Tapi ini terlalu pagi. “Tok Tok” Aku mengetuk pintunya lagi.

“Sooyoung! Apa kau di dalam?”

Dan lagi-lagi tak ada jawaban. Aku jadi khawatir. Apa terjadi sesuatu padanya? Kucoba untuk membuka pintu kamarnya. “CKLEK”. Ternyata pintunya tidak di kunci. Kepalaku mendongak ke dalam kamar. Gelap. Mataku tidak bisa melihat dengan jelas. Kuraba-raba dinding mencari tombol lampu. “TEK” Lampu menyala.

“Sooyoung!”

Kulihat gadis itu terbaring di tempat tidurnya dengan tubuh tertelungkup. Segera kudekati dia dan membalikan tubuhnya.

“Sooyoung, apa kau dengar aku?”

“Engggg…. Oppa…” Gumamnya dengan mata yang masih terpejam. Wajahnya terlihat pucat dan penuh keringat. Kusentuh wajahnya pelan.

“Panas. Hei Sooyoung, Kau sakit? Badanmu panas”.

“Engg…..” Lagi-lagi dia mengumam tidak jelas. Kenapa dia bisa sakit?

Aku melepas jas dan dasiku yang sudah kupakai rapi lau pergi kedapur untuk membuat teh panas. Setauku orang sakit pasti diberi teh panas agar tubuhnya lebih baik. Ah, Sooyoung belum makan. Aku harus beli bubur, tapi toko makanan jauh dari rumah.

“Oh ya, tanya ibu saja!”

kuambil handphone dari saku celana dan menghubungi ibuku.

“…Halo..”

“Halo ibu, ini aku Kyuhyun”

“Oh, Kyuhyun bagaimana kabarmu. Setelah menikah kau jarang menghubungi ibumu ini..”

“Ibu, nanti saja bicaranya ya. Aku mau tanya sesuatu”.

“Ada apa? Kenapa kau terdengar panik?”

“Ibu, bagaimana caranya membuat bubur?”

“Ha? Apa? Kenapa kau mau membuat bubur? Apa kau sakit?”

“Bukan aku, tapi Sooyoung. Sudahlah cepat beri tau saja bagaimana cara membuatnya!”

“Apa? Menantuku sakit? Baiklah begini caranya..……..”

“………”

“………”

_____

 

Outhor POV

Kyuhyun berjalan membawa nampan dengan mangkuk berisi bubur dan segelas teh panas. Di taruhnya nampan itu di atas meja kecil di samping tempat tidur Sooyoung.

“Sooyoung, ayo bangun. Makan dulu..” kata Kyuhyun.

“Ng? Apa Oppa…..?” Ucap Sooyoung.

“Makan dulu…”

Sooyoung berusaha untuk duduk. Tubuhnya terlihat sangat lemah. Keringatnya terus mengucur sampai-sampai bajunya basah. Kyuhyun memberikan bubur yang dibuatnya tadi pada Sooyoung. Diperhatikannya gadis itu menyuapkan sesendok demi sesendok bubur ke mulutnya.

“Aku mau beli obat penurun panas dulu. Dirumah tidak ada obat sama sekali”. Kata Kyuhyun.

Sooyoung menjawab dengan anggukan kepala. Tubuhnya terhuyung lemas namun tetap berusaha memakan bubur yang ada ditangannya.

Masih dengan setelan baju kerja yang rapi, Kyuhyuh pergi  ke apotik yang tidak jauh dari rumahnya. Dia masih terlihat cemas. Baru kali ini dia melihat Sooyoung lemah tak berdaya seperti itu. Dengan buru-buru Kyuhyun kembali kerumah dengan membawa kantongan berisi obat ditangannya.

“Sooyoung, ini obatnya..” Ucap Kyuhyun menghampiri Sooyoung yang terlihat sedang tidur.

“Sooyoung…” Ucap Kyuhyun lagi.

Sooyoung membuka matanya perlahan dan menatap Kyuhyun yang sudah duduk dipinggir tempat tidurnya.

“Ayo bangun.. makan obat dulu..” Ucap Kyuhyun sambil membantu tubuh Sooyoung untuk duduk.

Jarak mereka sangat dekat, sampai Kyuhyun bisa merasakan nafas Sooyoung yang panas. Sooyoung masih menatap Kyuhyun lekat. Kyuhyun menyadari hal itu, tapi tidak memperdulikannya. Tangan kanannya berada di punggung Sooyoung yang basah dengan keringat. Menahan tubuh gadis itu agar tidak rebah.

“Oppaaaaaa…….”

Tiba-tiba Sooyoung menyentuh wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya. Kyuhyun terkejut dan melihat Sooyoung heran.

“Oppa, tau tidaaaaak…. Aku akan berperan sebagai putri dalam dramaku nantiiiiii….” Gumam Sooyoung pelan. Matanya nyaris tertutup ketika bicara, sehingga dia terlihat seperti tidak sadar.

“Iya aku tau. Sekarang minumlah obatmu dulu….” Ucap Kyuhyun mencoba menyadarkan istrinya itu.

“Oppaaaaaa, nanti aku akan berciuman dengan pangeran oppa…. Dengan Changmin… hhmmmmmmmm…….” Ucapan Sooyoung semakin tidak jelas. Tubuhnya juga terhuyung kekiri dan kekanan.

“Iya… Iya… Sekarang minum obatmu dulu…”

Kyuhyun mengigit bungkusan obat penurun panas yang sudah dia pedang dari tadi. Dikeluarkannya satu obat itu dan meletakkannya ditangan kanan Sooyoung yang berkeringat. Tiba-tiba Sooyoung menarik kerah baju Kyuhyun. Ditatapnya Kyuhyun dalam-dalam.

“Oppaaaaa… Apa kau tidak peduli aku akan ciuman dengan orang laiiinnnnnnn??????”

Kyuhyun terdiam. Saat ini wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja dari wajah Sooyoung. Obat yang ada ditangan Sooyoung entah sudah jatuh kemana. Mereka berdua masih diam dalam posisi saling berhadapan.

“CHUP”

Tiba-tiba Sooyoung mendaratkan bibirnya tepat dibibir Kyuhyun. Mata Kyuhyun membulat.

“hmm… Aku akan berciuman dengan pangeran seperti itu oppa… hmmmm… apa kau tidak marah jika aku berciuman dengan pangeraaannn????” Gumam Sooyoung. Kepalanya terhuyung lemas ke bahu Kyuhyun.

Kyuhyuh terdiam kaku. Berkali-kali dikerjapkannya matanya. Tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dilihatnya Sooyoung yang sudah tertidur dibahunya.

“A, Apa itu tadi? Gadis ini menciumku? Tadi dia menciumku????” Ucap Kyuhyun.

 

___TBC___

 

Mohon kritik dan saran…

 

LOVE (Part 1)

LOVE (Part 1)

Judul: LOVE (part 1)

Author:  Likyuyoung

Cast: Choi Sooyoung, Cho Kyuhyun, Changmin, Member SNSD dan SUJU

Genre : Romance

Rating: PG+15

Saya kembali dengan judul yang berbeda. saya harap kalian suka ceritanya. Happy reading! (^^)

Aku berjalan menuju altar. Berdiri di sana seorang pria tampan yang sedang menungguku. Cho Kyuhyun. Wajahnya datar.  Tidak ada senyuman. Aku sedikit kecewa. Di moment penting seperti ini, tidak bisakah dia bersandiwara. Aku tau pernikahan ini sudah diatur oleh kedua orang tua kami, tapi setidaknya dia bisa berpura-pura dihadapan orang banyak bahwa dia bahagia.

Aku tersenyum sedikit untuk memancing dia tersenyum, tapi sia-sia. Sedikit pun ujung bibirnya tidak bergerak. Dia hanya terus menatapku dengan tatapan yang membuatku tidak nyaman.  Pendeta yang sudah berdiri didekat kami sedari tadi, mengisyartkan agar aku semakin merapat pada Kyuhyun. Pemberkatan pernikahaan pun dimulai.

“Cho Kyuhyun, Bersediakah kau menerima Choi Sooyoung sebagai istrimu, menjalani kehidupan bersama, sakit ataupun sehat, susah ataupun senang?”

“Ya, saya bersedia..” jawab Kyuhyun dengan nada yang nyaris tidak ada intonasi.

Pendeta itu pun tersenyum dan matanya beralih padaku. Seketika degup jantungku semakin kencang.

“Choi Sooyoung, bersediakah kau menerima Cho Kyuhyun sebagai suamimu, menjalani kehidupan bersama, sakit ataupun sehat, susah ataupun senang?”

Aku menelan ludah. Menarik nafas panjang. Aku merasa semua mata tertuju padaku saat ini.

“Y.. Ya.. saya bersedia..”

____

1 Bulan kemudian~~

Author POV

Rumah berwarna hijau muda dengan jendela minimalis dibeberapa sisi, dengan taman yang tidak terlalu luas tetapi ditumbuhi dengan beberapa jenis tanaman. Di sanalah tinggal pasangan suami istri yang baru satu bulan menjalani hari-harinya bersama.

Choi Sooyoung yang sudah berganti marga, menjadi Cho Sooyoung adalah seorang mahasiswi semester akhir di Univesitas Seni Korea. Sedangkan Cho Kyuhyun adalah seorang direktur di perusahaan industri kain terbesar di Seoul.

Sudah satu bulan mereka hidup bersama, tetapi dirumah itu seperti ada dua dunia yang berbeda. Sooyoung sibuk dengan kegiatan kampusnya, dan Kyuhyun sibuk dengan pekerjaannya. Tidak ada cinta di antara mereka. Mereka berdua pun sepakat untuk tidak tidur satu kamar.

Pukul 06.00 dini hari, Sooyoung nampak sibuk di dapur mempersiapkan sarapan untuknya dan Kyuhyun. Sooyoung memang sengaja menyiapkan sarapan setiap hari. Tidak ada yang menyuruhnya untuk melakukan itu. Itu keputusannya sendiri. Kyuhyun pun tidak pernah melarangnya. Atau lebih tepatnya tidak terlalu perduli dengan apa yang dilakukan istrinya itu. Sooyoung memang gemar memasak, dan ia pikir tidak baik jika dia hanya memasak untuknya sendiri, padahal dia hidup bersama orang lain yang merupakan suaminya.

“Ah, Oppa sudah siap. Sarapanlah dulu. Aku sudah masak nasi goreng..” Ucap Sooyoung ketika melihat suaminya keluar dari kamar dengan pakaian kantor.

Kyuhyun melihat sebentar kearah makanan yang sudah tersedia di atas meja makan.

“Baiklah…” jawabnya singkat.

Mereka berdua pun sarapan. Suasana hening menyelimuti mereka beberapa saat.

“Aku sudah selesai. Aku berangkat..” Kata Kyuhyun lalu berdiri sambil menggeser kursinya sedikit ke belakang. Sooyoung mengangguk.

“Oppa pulang jam berapa nanti?”

“Seperti biasa, jam 5 sore. Kenapa?”

“Ah, begini… aku akan pulang terlambat hari ini. Ada kegiatan di kampus. Mungkin aku akan pulang malam.. jadi tidak bisa menyiapkan makan malam”

“Oh, baiklah… tidak masalah, aku akan cari makan diluar..” jawab Kyuhyun datar.

____

Kyuhyun POV

“Akh! Kenapa jalanan macet begini…”

Kulihat jam tanganku. Sudah pukul 06.45. Aku akan terlambat kalau begini terus. Mobil BMW silver yang kukendarai berada diantara kendaraan-kendaraan kelas berat alias truck dan bus. Kulonggarkan ikatan dasiku karena mulai kegerahan. Aku menyandarkan tubuhku mencoba untuk rileks. Kulihat Bus yang ada disebelah kanan mobilku. Kuperhatikan penumpang didalam bus yang gelisah dan beberapa kali mendongakan kepalanya keluar jendela.

“Ck. Ck. Ck.. Ternyata mereka merasakan hal yang sama denganku.”

Beberapa detik kemudian mataku menangkap sosok yang sangat familiar berada di dalam bus itu. Itu Sooyoung. Dia tampak mengenakan headset. Sepertinya mendengarkan musik. Kepala menyeder ke jendela. Dia tertidur. Kenapa dia tidur. Perasaan saat dirumah tadi di tidak terlihat ngantuk atau kelelahan. Bisa-bisanya dikondisi bus sesak seperti itu dia tidur.

Satu bulan tinggal bersamanya masih belum bisa membuatku mengerti tentang dia. Awalnya kupikir dia gadis manja yang selalu tergantung pada orangtuanya. Yang hanya perduli dengan dirinya sendiri, yang hanya tau soal dandan, fashion, atau hal-hal lain yang menurutku tidak penting. Ternyata tidak. Dia benar-benar mandiri. Seperti yang terlihat, dia lebih memilih pergi sendiri padahal dia bisa saja ikut denganku. Dia juga sangat fokus dengan kuliahnya. Dan bertanggung jawab terhadap sesuatu yang dia lakukan.

Aku masih ingat saat dia menyetujui pernikahan kami. Dia meminta untuk bicara empat mata denganku.

-Flashback-

“Kau mau bicara apa?”

“Begini… Aku ingin membuat kesepakatan denganmu Oppa..” Ucapnya dengan kepala tertunduk.

“Kesepakatan?”

“Aku belum mau punya anak…”

“Anak?”

“Iya, Anak… Aku tau kedua orang tua kita pasti mengharapkan cucu dari pernikahan kita, tapi aku belum mau. Aku tidak siap. Aku masih kuliah. Jadi.. mungkin lebih baik saat tinggal bersama kita pisah kamar untuk sementara..”

Aku diam sejenak. Mataku sedikit membulat ketika mendengar penyataanya barusan.

“Baiklah.” Jawabku.

-Flashback end-

Tanpa sadar ujung bibirku tertarik ke atas. Aku tersenyum.  “Heh? Kenapa aku tersenyum?” Aku berkaca di spion mobilku. Cho Kyuhyun jangan bilang kau tertarik dengan gadis itu. Dia hanya gadis muda yang sikapnya sedikit lebih dewasa. Mungkin kau hanya kagum.

“Ya, kagum. Hanya itu!”

____

Sooyoung POV

Tanpa sadar aku tertidur di bus. Aku memang sedikit mengantuk karena semalaman mengerjakan proposal untuk Festival kampus yang akan segera dilaksanakan.  Aku termasuk panitia penyelengara dan juga mengambil peran dalam drama yang akan di adakan dalam festival itu. Makanya aku akan sibuk selama beberapa waktu.

Untungnya Kyuhyun tidak terlalu memusingkan hal itu. Atau mungkin tidak perduli. Dia memang sudah bersikap seperti itu dari awal. Sepertinya apapun yang aku lakukan dia tidak akan peduli. Bahkan jika aku punya pacar -ah, lebih tepatnya selingkuhan- dia tidak akan merespon.

“Apa jangan-jangan dia juga tidak peduli jika aku mati..?”

Aku menggelengkan kepala. Memukul pelan kepalaku beberapa kali, seolah mengeluarkan sesuatu yang ada dikepalaku.

“Tidak, tidak.. kenapa aku jadi berpikir yang aneh-aneh..”

Tiba-tiba bus berhenti. Ternyata aku sudah sampai. Aku segera bangkit dari kursiku dan keluar dari bus. Di depan kampus aku disambut sosok yang tak asing. Itu Yuri. Sahabatku.

“Hei! Pagi!” sapanya.

“Pagi juga!”

“Bagaimana proposalnya, sudah jadi?”

“Sudah.. tenang aja!” ucapku sambil berusaha mengeluarkan proposal yang semalam kukerjakan dari tasku. “ini..” lanjutku lagi. Yuri membaca cover depannya lebih dulu. Lalu mulai membolak balik lembaran halaman di dalamnya.

“Bagus! Oh, ya soal drama itu.. peranmu sudah ditentukan. Kau akan jadi putri yang akan diselamatkan pangeran” Jelas Yuri dengan mata yang tetap tertuju pada proposal yang ada ditangannya.

“Apa? Aku jadi putrinya? Lalu pangerannya?”

“Changmin.”

“Apa? Si Asisten Dosen?”

“Iya… Siapa lagi. Itu keputusan bersama. Dosen-dosen pun sudah setuju!” Ucap Yuri.

Aku terdiam mendengar apa yang dikatakan Yuri. Changmin, Si Asdos. Dia terkenal sebagai mahasiswa teladan.  Dan sebagai Asdos dia termasuk orang yang serius dan sulit diajak bercanda.  Akan sulit bagiku untuk kerjasama dengan dia.

“Aiiiisssssssshhhh bagaimana ini!”

_____

Auditoirum Kampus, pukul 06.30 malam

Author POV

“Ayo berkumpul semua!” Teriak seorang mahasiwa yang tidak lain adalah ketua panitia penyelengara festival. Choi Siwon

Beberapa mahasiswa yang tadinya berdiri berhamburan di berbagai sudut auditorium mulai berkumpul ketengah. Sedikit suara gaduh mengisi ruangan.

“Kita akan membicarakan mengenai jadwal kegiatan festival yang sebelumnya sudah di sepakati. Dari beberapa kegiatan yang ada, total kegiatan dalam festival ini terdiri dari tiga bagian yaitu bazaar untuk hari pertama, pagelaran drama hari kedua , dan wahana seperti rumah hantu atau lainnya untuk hari ketiga”. Kata Siwon dengan suara lantang.

Semua mata tertuju pada Siwon yang berdiri di atas panggung. Dia memang cocok dipilih sebagi ketua. Berwibawa dan bertanggungjawab.

“Untuk drama, latihannya akan berlangsung mulai besok. Bagi yang merasa mengambil peran dalam drama ini, bisa mengambil scenario drama dari saudari Yuri setelah ini. Saya mohon untuk para pemeran agar mempelajari  scenario itu baik-baik! Ini demi Festival kita!” Lanjut Siwon, kali ini suaranya sedikit garang. Beberapa mahasiswi terlihat tersenyum melihatnya. Pesona ketua panitia itu memang tak tertandingi.

Beberapa menit  berlangsung, Yuri sudah mulai membagi-bagi scenario kepada  mahasiswa yang berperan dalam drama. Sooyoung tampak sibuk membaca scenario yang baru didapatnya. Terdapat beberapa segment dalam drama itu. Di antaranya segment saat dia harus menangis, bernyanyi, dan….

“Apa ini?” Mata Sooyoung membulat. Dalam segment terakhir dia harus berciuman. Dengan panik dia mendatangi Yuri yang masih sibuk membagi scenario yang ada ditangannya.

“Yuri, Apa ini?!” kata Sooyoung dengan suara nyaring. Yuri terkejut dan nyaris menjatuhkan tumpukan scenario yang ada ditangannya.

“Apanya?”

“Ini, coba lihat ini.. Disini ditulis ‘Pageran berciuman dengan putri’. Maksudnya apa?!”

“Jelaskan, kau berciuman dengan Changmin…” Jawab Yuri santai.

“Apa? Jangan bercanda! Aku tidak mau!”

“Ck, Aku tidak mau ambil pusing. Begitu yang ada diskenario. Ya begitulah yang harus diperankan!” Tukas Yuri.

Dahi Sooyoung mengkerut. Dia tetap tidak mau memerankan adegan itu. Sooyoung lalu mendatangi Siwon. “Ketua, Aku tidak mau ada adegan ini!” Ucap Sooyoung menunjukan scenario yang ada ditangannya.

“Itu sudah keputusan sutradara!” jawab Siwon dengan nada tegas.

“Sutradaranya siapa?”

“Asdos!”

“Asdos? Siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan Changmin!”

“Hah?!” Sooyoung terdiam. Mendengar nama itu disebut seperti mendengar suara petir. Badan Sooyoung melemas. Dia menatap scenario itu lagi. “Apa ia aku harus melakukan ini?” Gumamnya dalam hati.

“Ada masalah apa?” Tanya seseorang tiba-tiba. Sooyoung membalikan badannya dan mendapati sosok pria tampan. Tinggi. Berpakaian rapi. Dia Changmin.

“A, Anu..”

“Ah, Changmin-ssi! Dia Sooyoung yang akan memerankan putri. Dia sedikit complain dengan adegan terakhir drama itu!” Ucap Siwon tiba-tiba. Sooyoung lalu menatap Siwon dengan tatapan kesal. “Siwon sialan!” gumamnya dalam hati.

“Oh, adegan ciuman itu? kenapa kau tidak mau?” tanya Changmin datar.

“Ah, bisakah adegan itu diganti. Misalnya pelukan saja.” Jawab Sooyoung segan.

“ini cerita dongeng yang mengandung unsur romantis. Apa kau tidak pernah melihat dongeng seperti ini. Dongeng seperti ini selalu diakhiri dengan kebahagiaan yang disampaikan melalui adegan romantis seperti ciuman. Kalau adegan itu diganti, nilai romantis diakhir cerita bisa hilang.” Jelas Changmin dengan tatapan tajam kearah Sooyoung. Sooyoung tertunduk diam. Keringat dikepalanya mulai muncul.

“Kau kan mahasiswa seni. Seharusnya hal seperti ini tidak perlu diributkan. Bersikaplah professional!” Lanjut Changmin lagi. Sooyoung menggigit bibir bawahnya.

“Baiklah..” Ucap Sooyoung.

_____

Home, pukul 07.10

Kyuhyun POV

“Sudah jam segini. Sooyoung belum pulang”

Aku melihat jam dinding kamarku. Ternyata Sooyoung benar-benar pulang malam. Aku merbahkan diriku dikasur. Mencari posisi yang membuatku nyaman. Aku belum ngantuk. Jelas saja ini baru jam 7 malam. Kugulingkan badanku ke kiri dan ke kanan, tapi tetap belum mendapatkan posisi yang nyaman.

Aku bangkit dan berjalan kearah meja kerja kecilku yang berada disudut ruangan. Kubuka laptopku. Entah kenapa aku merasa bosan dan berkeinginan untuk membuka situs jejaring social yang selama ini kugunakan. Facebook. Aku memang jarang membukanya. Aku hanya sekedar iseng membuat account tanpa ada maksud tertentu.

Terpampang jelas dimonitor, profilku yang nyaris tidak terusik sejak beberapa bulan lalu. Aku berniat meng-up date profilku, termasuk foto profil yang kurasa sudah kadaluarsa.

“Hmm… Foto profil kuganti yang mana ya…”

Aku asik memilih beberapa foto di dokumen laptopku. Aku memang jarang berfoto, kecuali untuk beberapa moment penting. Mataku tertuju pada foto pernikahanku. Foto aku dan Sooyoung saat pra-wedding. Ini  foto dimana aku dan Sooyoung saling berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Kami seperti pasangan romantis yang saling mencintai. Orang-orang yang melihat foto ini, jelas akan menduga begitu.

“Foto ini… hemmm”

Sedetik kemudian kubatalkan niatku. Kupikir teman-temanku di facebook akan kaget dan bersikap seperti manusia purba yang baru menemukan sesuatu yang menarik (?). Bisa-bisa aku jadi bahan pembicaraan nanti.

“tidak, tidak, tidak…. Yang ini saja…”

Mataku beralih pada foto lain. Fotoku seorang diri.

“Hmmm.. ok, selanjutnya ini ok, ini ok, status hubungan……”

Aku terhenti. ‘status hubungan’. Status hubunganku belum kuubah. Tetap ‘lajang’. Entah kenapa aku sedikit ragu untuk merubah yang satu ini. Aku tetap memandangi layar monitor. Cukup lama.

“Sooyoung bagaimana? Apa dia merubah statusnya juga?”

Aku lalu beralih mencari nama Sooyoung dalam daftar temanku. Account-nya memang sudah lama termasuk dalam daftar temanku. Tepatnya sebelum menikah. Saat orang tuaku mulai mengenalkannya padaku.

“Sooyoung, ini dia…”

Profil gadis itu dengan lengkap terpampang. Gadis itu terlihat sekali rajin meng-update account-nya setiap hari. Foto profil. Album. Status.

“Ckckc… Online mania.”

Aku mulai membaca tiap informasi profilnya. Mataku membulat seketika. ‘menikah’. Status hubungan Sooyoung ‘menikah’. Aku tidak menyangka dia berani menunjukan hal itu. kupikir dia akan merahasiakan.

“CKLEK”

Tiba-tiba terdengar suara pintu dari luar kamarku. Sepertinya itu Sooyoung. Akhirnya dia pulang juga.

“Eh, tunggu dulu. Kenapa aku terlihat seperti sedang menunggunya?”

Aku putuskan untuk menutup laptopku. Aku mau tidur saja. Aku beranjak mendekati tempat tidur. Beberapa menit aku merebahkan diri, aku mulai mencium aroma yang menggoda air liurku. Harum makanan. Mungkin Sooyoung sedang masak sesuatu.

“kruyukkkk…”

Perut tiba-tiba berbunyi. Aku baru ingat kalau tadi sore aku cuma makan roti yang ada dikantor. Aish, kalau sekarang aku keluar untuk makan, pasti akan malu sekali. Tapi..

____

 

Sooyoung POV

Aku capek, aku pusing, aku lapar. Ditambah lagi dengan scenario itu.

“Akh. Kenapa ada adegan seperti itu sih?!”

Begitu sampai di rumah aku langsung meletakan barang-barangku di sofa dan menuju dapur. Dan seperti yang kuduga, tidak makanan. Sepertinya Kyuhyun tidak memasak atau membeli makanan.

Aku melihat-lihat isi lemari es. Ada spageti beserta sause, ada bawang bombai,  sosis daging dan sisa keju . Tanpa pikir panjang kuambil semua bahan makanan itu. Kupanaskan air dan kutumis bawang bombai beserta sosis dagingnya. Aroma tumisan memenuhi ruangan. Harum.

Beberapa menit makananku sudah jadi. Aku langsung membawa makananku ke ruang TV. Satu porsi jumbo spageti dan air es gelas tinggi. Mantap. Kusilangkan kedua kakiku disofa dengan tangan kiri yang memegang piring. Tangan kananku asik memegang remote TV untuk mencari siaran yang bagus.

“Ah, ini dia. Music Bank!”

“CKLEK”

Belum sempat aku menyendokkan spageti kemulutku, tiba-tiba Kyuhyun keluar dari kamarnya. Apa aku membangunkannya.

“Oppa. Maaf, apa aku membangunkanmu?” Tanyaku.

“Tidak, aku belum tidur tadi. Kau sedang apa?”

“Oh, aku mau makan.. Oppa mau?” aku mencoba menawarinya walau pun aku tau pasti dia sudah makan di luar tadi.

“Apa itu?” tanya dengan mata tertuju pada piring yang ada ditanganku.

“Spageti” jawabku.

Dia terlihat tertarik dengan makanan yang ada ditanganku ini. Bukannya dia sudah makan ya. Atau jangan-jangan dia belum makan. Dia mendatangiku dan duduk disampingku . Matanya masih tertuju pada makanan.

“Boleh ku coba?”

Eh, dia benar-benar mau. Lucu sekali melihat ekspresinya yang seperti itu. Persis seperti anak umur lima tahun. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu.

“Tunggu sebentar oppa. Aku ambilkan piring untukmu. Kita bagi saja ya”.

Aku pergi kedapur mengambil garpu dan piring, juga segelas air putih untuknya. Entah kenapa aku selalu berbuat baik padanya. Walau Kyuhyun jarang berbuat sesuatu untukku, tapi dia tidak jahat. Mungkin karena sikap cueknya itu.

“Ini” aku memberikan piring dan garpu, dan meletakan air putih diatas meja. Aku mulai membagi spagetiku padanya. “Segini cukup?” tanyaku. Dia mengangguk. Segera di santapnya spageti itu. Lahap.

“Oppa belum makan?” tanyaku lagi. Dan dia mengangguk lagi. Aku tersenyum simpul. Sedikit ada rasa senang dihatiku ketika melihatnya seperti itu. Terlihat seperti dia membutuhkanku. eh, tunggu. kenapa aku merasa senang. Sooyoung jangan berpikirian aneh!.

Kami asik makan sambil menonton TV. Satu katapun tidak ada yang keluar dari mulut kami berdua. Hanya fokus dengan makan dan nonton.

Beberapa menit berlalu. Aku sudah kenyang. Kyuhyun pun sudah selesai makan. Aku bangkit dari dudukku. Membereskan piring yang ada dihadapanku, termasuk piring Kyuhyun.

“Kau mau apa?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

“Cuci piring” jawabku.

“Tidak usah. Biar aku yang cuci. Kau pergi saja istirahat” Kyuhyun dengan sigap membereskan piring dan gelas lalu membawanya ke dapur. Aku berjalan mengikutinya. Aku tidak mau dia yang melakukannya. Itukan tugasku. “Oppa, tidak usah. Aku saja yang cuci. Itu tugasku”. Kyuhyun menepis tanganku pelan. “Tidak usah. Aku saja. Dan terimakasih untuk makanannya. Spagetinya enak” Ucapnya  sambil menatapku.

Aku diam sejenak. Mencoba menganalisis tiap kata yang baru saja kudengar. “Terimakasih”. Dia bilang terimakasih. Dia juga memuji masakanku. Tidak biasanya. Mendengar itu sepertinya ada sesuatu yang hangat didadaku. Jantungku berdebar lebih kencang. Aku kenapa.

_____ TBC_____

Mohon kritik dan saran…